
"Tania, Tan, kok kamu malah diam lagi?" ucap Kanzia menyadarkan Tania dari lamunannya.
"Zia, apa yang akan kamu lakukan jika bertemu dengan mereka," tanya Tania. Mereka yang ia maksud adalah Mama dan Papanya.
"Em ... entahlah aku juga tidak tau," jawab Kanzia.
"Zia," ucap Tania sambil menatap Kanzia.
"Ada apa Tania?... ."
"Orang yang ingin melenyapkan mu adalah kedua orang tuaku, dan alasan kenapa aku bisa pergi dari rumah, karena aku tidak mau mengikuti perintah mereka untuk mencelakai mu," ucap Tania. Ia akhirnya memberanikan diri untuk berkata jujur pada Kanzia.
Kanzia sama sekali tidak terlihat kaget saat mendengar pengakuan Tania, ia malah tersenyum sambil menatap Tania.
"Zia aku serius dengan apa yang aku ucapkan barusan," ucap Tania, yang melihat ekspresi Kanzia yang terlihat biasa saja.
"Sebenarnya aku sudah tau, tentang hubunganmu dengan Tuan Bara dan nyonya Sinta dari Abian, tapi aku masih belum mempercayainya, aku hanya ingin mendengarnya secara langsung darimu," ucap Kanzia.
"What! Jadi kamu sudah tahu semuanya, tapi kenapa kamu diam saja? Apa kamu sama sekali tidak merasa benci padaku?" tanya Tania, bukannya Kanzia yang terkejut tapi dirinya.
"Aku hanya ingin memastikannya langsung darimu, dan kenapa aku harus membencimu? Memangnya kamu yang berbuat jahat padaku?" tanya Kanzia.
"Bukannya begitu, tapi kedua orang tuaku telah membuat kamu dan keluargamu mengalami kesulitan selama ini," ucap Tania sambil menundukkan kepalanya. Ia tetap saja merasa bersalah pada Kanzia.
"Sudahlah jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, kita doakan saja semoga kedua orang tuamu segera menyadari kalau semua yang mereka lakukan itu salah," ucap Kanzia.
"Zia apa kamu bisa memaafkan kedua orang tuaku?" tanya Tania.
"Itu tergantung mereka, kalau mereka benar benar ingin berubah dan mengakhiri kejahatannya aku akan dengan senang hati memaafkan mereka dan melupakan semua perbuatannya, tapi jika sebaliknya, maaf Tania aku tidak akan tinggal diam jika kedua orang tuamu tetap bersikukuh ingin mencelakai ku," ucap Kanzia dengan suara dingin dan tatapan lurus ke depan.
"Maaf." lagi lagi Tania mengucapkan kata maaf.
"Sudahlah berhenti mengucapkan kata itu, kamu sudah berapakah kali mengulanginya Tania, lebih baik sekarang kamu temani aku melakukan sesuatu yang tidak membosankan di kantor ini," ucap Kanzia.
"Tapi aku harus bekerja Zia," ucap Tania.
"Hari ini kamu bebas dari pekerjaanmu, tugas mu hari ini hanya menemani Nyonya muda ini," ucap Kanzia dengan ekspresi pongahnya.
"Baiklah ibu bos apa yang harus saya lakukan untuk anda? Tapi jangan lupa bonusnya ya ..." ucap Tania dan mereka pun tertawa bersama di dalam ruang kerja Tania, tanpa menyadari seseorang di depan pintu terus memperhatikannya.
"Hallo tuan, Nona Tania dan gadis itu terlihat sangat akrab dan sepertinya Nona Tania telah menceritakan tentang anda, dan Nyonya," ucap seseorang yang menyamar menjadi pengantar makanan dan orang itu adalah suruhan Tuan Bara.
__ADS_1
*****
Tepat jam 11 malam Abian baru dapat menyelesaikan pekerjaannya. Ia menghampiri Kanzia yang sudah tertidur di sofa, ditatapnya dengan lembut wajah Kanzia yang terlihat sangat damai dalam tidurnya.
"Bersabarlah sayang, tidak lama lagi kita akan mengakhiri permainan orang orang serakah itu,
baby kau juga harus kuat di dalam sana jangan menyusahkan Mama mu," ucap Abian sambil mengelus pipi dan bergantian dengan perut Kanzia yang mulai terlihat membuncit itu.
Setelah mengatakan hal itu Abian segera mengangkat tubuh Kanzia ke dalam gendongannya dan keluar dari ruangannya, bersama asisten Kevin yang juga ikut lembur bersama Abian.
*
*
Keesokan harinya.
Kanzia sudah terlihat rapi dengan setelan kerjanya, karna hari ini Abian sudah memperbolehkannya untuk kembali bekerja, dengan syarat Kanzia harus diawasi beberapa pengawal.
"Sayang ... bukankah menyuruh pengawal untuk mengikuti ku terlalu berlebihan, aku janji akan menjaga diri dengan baik," ucap Kanzia tiba tiba duduk dipangkuan Abian. Ia masih terus berusaha untuk membujuk Abian agar tidak dikawal pengawal.
"Kalau begitu kamu lebih baik istirahat di rumah saja, agar tidak perlu pengawal," ucap Abian, sambil mengusap punggung Kanzia.
"Bian tapi aku tidak nyaman kalau harus diikuti pengawal ..." ucap Kanzia sambil mengelus bahu Abian dengan gaya menggoda.
"Issh dasar menyebalkan," ucap Kanzia, lalu ia pun turun dari pangkuan Abian dengan wajah cemberut.
"Sudah jangan terlalu banyak protes, semua ini demi kebaikanmu. Gak usah cemberut kayak gitu, ayo segera berangkat bukannya kamu bilang hari ini kamu akan menemui klien." Abian mengingatkan Kanzia.
Kanzia hanya bisa menghela napas pasrah mendengar ucapan Abian, sepertinya kali ini rayuannya sama sekali tidak mempan untuk Abian.
"Sayang aku berangkat duluan, dan kalian berhati hatilah jangan sampai istriku kenapa napa," ucap Abian mulai protektif.
"Aku udah kayak anak TK aja," gerutu Kanzia.
Cup!
Abian langsung membungkam mulut Kanzia, di hadapan anak buahnya, yang membuat mereka dengan cepat mengalihkan penglihatannya. "Jangan banyak protes istriku sayang," ucap Abian, lalu ia pun masuk ke mobilnya.
Mereka pun berangkat ke kantor dengan mobil masing masing, karna hari ini Abian ada pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya jadi ia tidak bisa mengantar Kanzia.
*
__ADS_1
*
Kanzia melangkah masuk ke perusahaan Angkasa grup dengan anggun, tapi Kanzia tiba tiba saja menghentikan langkahnya dan meminta anak buah Abian untuk menunggunya di luar, setelah mereka menelpon Abian dan mendapatkan perintah barulah tiga orang dengan tubuh besar itu keluar.
"Ish ... merepotkan saja," gumam Kanzia setelah kepergian orang orang itu.
"Selamat pagi Bu ..." sapa para karyawan yang melihat kedatangannya, tapi tiba tiba seseorang memanggilnya. Kanzia yang mendapatkan sapaan dari karyawannya membalasnya dengan tersenyum ramah kearah mereka.
Tiba tiba saja suara seseorang membuatnya kembali menghentikan langkahnya.
"Kanzia Ayudia Renata ..." ucap nyonya Sinta yang sudah ada disana, entah sejak kapan ia datang ke perusahaan.
"Bukankah wanita itu adalah orang yang sama dengan yang ada di foto yang ditunjukkan Abian untukku beberapa hari yang lalu," batin Kanzia.
"Tante Sinta ..." gumam Kanzia.
Ada apa wanita itu datang ke kantornya, dari kejauhan mata Kanzia dan nyonya Sinta saling bertemu dengan tatapan yang sama sama tidak terbaca. Nyonya Sinta terlihat tersenyum misterius kearah Kanzia, entah apa arti dari senyumannya itu.
"Selamat pagi keponakan ku, kenalkan aku Sinta, aku sepupu ibumu, itu artinya aku adalah Tante mu, kamu bisa memanggilku dengan sebutan Tante Sinta," ucap Nyonya Sinta yang tiba tiba memeluknya dengan erat, Kanzia sempat terlena dalam pelukan itu, sampai akhirnya ia pun tersadar jika itu hanyalah kebohongan.
"Tante Sinta, senang bertemu dengan anda," ucap Kanzia sopan.
Sinta menatap wajah Kanzia dengan lekat, gadis itu benar benar mirip dengan sepupunya, wanita yang sangat ingin ia singkirkan.
"Aku tidak menyangka kamu bisa mendapatkan semua ini, tapi sayangnya kamu tidak pantas untuk mendapatkan semua ini, karna yang seharusnya lebih berhak atas semua ini adalah aku dan putriku," ucap nyonya Sinta.
"Apa maksud dari ucapan Tante?" tanya Kanzia.
"Apa kamu tahu kalau semua ini adalah milik ayahku yang telah di rebut oleh kakek mu," ucap nyonya Sinta tanpa rasa malu.
Kanzia tersenyum sinis kearah nyonya Sinta sambil berucap. "Jadi anda datang menemui ku hanya untuk mengatakan hal itu?" tanya Kanzia.
"Semua ini bukan milikmu Kanzia, tapi milikku yang telah di rebut oleh keluargamu!" ucap nyonya Sinta dengan penuh emosi.
"Benarkah? Bukankah sebaliknya Tante yang merebut milik kami, lagi pula semua yang telah Tante miliki sudah lebih dari yang seharusnya," ucap Kanzia dengan berani.
Nyonya Sinta semakin naik pitam mendengar ucapan Kanzia.
Bersambung . . . . . . .
Jangan lupa di like👍
__ADS_1
Komen
Favorit and Vote😉