
Selama di perjalanan Vita terlihat gelisah ia terus melihat kiri kanan dan sesekali ia juga menengok kearah belakang, untuk memastikan sesuatu.
"Ada apa Vita? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kanzia saat menyadari gerak gerik Vita yang terlihat seperti waspada akan sesuatu.
"Tidak ada Nona, saya hanya memperhatikan keadaan sekitar, apakah ada sesuatu yang terlihat mencurigakan yang dapat membahayakan keselamatan Nona," jawab Vita.
"Oh ... tapi sepertinya semuanya aman aman saja kamu tidak perlu khawatir. Sebaiknya kamu tetap fokus menyetir mobilnya, jangan terlalu melihat ke belakang, karna itu lebih berbahaya," ucap Kanzia dengan suara lembut.
"Baik Nona," ucap Vita dan ia pun kembali fokus melajukan mobilnya.
*****
Namun saat mereka tiba di jalan yang tidak terlalu ramai kendaraan berlalu lalang, segerombolan orang orang berbaju hitam menggunakan motor tiba tiba muncul dari sebuah gang dekat jalan tersebut dan mengejar mobil yang membawa Kanzia.
Vita yang menyadari bahaya sedang memburu mereka langsung saja menghubungi orang orang yang selalu mengawasi Nona mudanya untuk meminta bantuan sebelum hal yang buruk terjadi.
"Nona tolong pegangan yang kuat saya akan mengebut," beritahu Vita sebelum ia menambah kecepatan mobil yang ia kendarai.
"Iya, tapi tetap lah berhati hati," ucap Kanzia mengingatkan asistennya.
"Baik Nona," jawab Vita sambil menambah kecepatan laju mobilnya.
Vita masih terus berusaha untuk menghindari motor motor yang masih terus mengejar mereka dan semakin mendekat ke arah mobilnya, tapi karna jumlah mereka yang terlalu banyak dan motor yang mereka gunakan bukan motor biasa membuat Vita kewalahan.
Chit...
Vita tiba tiba ngerem mendadak saat satu buah motor berhasil menghadang jalannya.
"**** ... Sialan!" umpat Vita sambil memukul setir mobil, ia kesal karna orang orang itu berhasil menghadangnya.
"Ternyata kamu masih bisa mengumpat juga Vit," ucap Kanzia yang mendengar asistennya yang datar itu mengumpat untuk pertama kalinya.
"Maaf Nona saya hanya kesal," ucap Vita.
"Santai saja. Tapi kalau dilihat lihat dari aksi mereka sepertinya orang orang ini bukan sekedar preman biasa," ucap Kanzia yang dari tadi memperhatikan orang orang yang mengejarnya.
"Cepat keluar!" teriak salah satu dari orang berpakaian hitam yang mengejar-ngejar mereka.
"Sebaiknya kita keluar saja, kita hadapi mereka sama sama," ucap Kanzia.
"Tunggu dulu Nona, jumlah mereka kali ini terlalu banyak kita tidak mungkin mengalahkan mereka," ucap Vita mencegah Kanzia yang hendak turun dari mobil, karna jika mereka melawan pasti ia dan Kanzia akan kalah, bukan karna jumlah orang orang itu saja tapi juga kekuatan fisiknya pasti lebih kuat kalau di lihat dari bentuk tubuh mereka yang besar besar dan kekar.
"Tapi kalau kita diam saja mereka akan menghancurkan mobil ini, bukankah itu sama saja?"
"Kita tunggu sebentar saja Nona, saya sudah menghubungi orang orang Tuan Jonathan untuk membantu kita, jika mereka belum datang juga baru kita turun untuk menghadapinya," jelas Vita. Ia berusaha untuk menghentikan Kanzia yang ingin keluar dari mobil.
"Baiklah kita tunggu, tapi kalau dalam waktu lima menit mereka belum sampai juga kita harus keluar untuk melawan," ucap Kanzia lalu menyetujui ucapan Vita untuk menunggu bantuan.
__ADS_1
Tapi baru dua menit mereka menunggu, orang orang yang menghadang mereka semakin berteriak sambil menggedor kaca mobil dengan keras.
"Cepat keluar! Jangan main main dengan kami atau mobil ini akan kami hancurkan bersama dengan kalian," teriak salah satu dari mereka mengancam Kanzia dan Vita.
Kanzia yang sudah tidak sabaran menunggu anak buah Abian, apalagi ia tiba tiba merasa sangat emosi melihat tingkah orang orang yang berlagak hebat itu yang terus meneriakinya dan mengancamnya.
Bruk!
Dengan gerakan cepat ia membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil dengan cara menendangnya keras membuat satu orang yang sedang menggedor pintu mobil tersebut terpental cukup keras.
"Aw!" teriak orang tersebut sambil memegangi pinggangnya. "Wanita sialan!" teriaknya. Ia tidak terima dengan apa yang dilakukan Kanzia padanya.
"Nona!" Vita dibuat terkejut dengan aksi Kanzia, yang tiba tiba keluar dari mobil. Ia pun segera keluar menghampiri Kanzia.
"Kamu tidak perlu khawatir, kita pasti bisa membereskan para sampah ini berdua," ucap Kanzia yang melihat Vita menyusulnya keluar dari mobil dengan ekspresi khawatir.
"Wah ini benar benar perkenalan yang luar biasa Nona," ucap salah satu dari orang berbaju hitam tersebut sambil mendekat. Ia dibuat terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat, ternyata orang yang akan dilenyapkan wanita bosnya bukanlah seorang perempuan lemah.
Kanzia hanya menanggapi ucapan orang itu dengan senyum sinisnya.
"Apa yang kalian ingin, kan?" tanya Kanzia sambil menatap orang orang itu satu persatu.
"Melenyapkan mu Nona," ucap orang itu dengan penuh percaya diri.
"Cih melenyapkan ku, apakah orang yang menyuruhmu sudah sangat putus asa sehingga ia sampai harus menyuruh para badut sebanyak ini untuk menghabisi ku," ucap Kanzia dengan nada mengejek tidak lupa tatapan meremehkan ia berikan pada orang orang itu.
"Kita lihat saja siapa yang akan mematahkan lidah siapa," ucap Kanzia dengan santainya bukannya takut, ia malah semakin memprovokasi orang orang tersebut.
Sebenarnya Kanzia sengaja melakukan hal itu untuk mengulur waktu sambil menunggu orang orang Abian, karna seperti yang dikatakan Vita mereka berdua tidak mungkin mampu mengalahkan orang orang dengan jumlah sebanyak itu, apalagi dengan kondisinya saat ini yang sedang hamil.
"Kau terlalu sombong Nona, anda belum tau siapa kami."
Saat ia sedang adu mulut dengan salah satu preman, tanpa disadari oleh Kanzia satu orang di belakangnya mulai maju memberikan serangannya pada Kanzia. "Nona awas!" teriak Vita. Ia hendak mendekat ke arah Kanzia, tapi keburu di cegah oleh orang orang itu yang mulai memberikan serangan serangan pada Vita, untung saja Kanzia cepat menyadari dan menghindar dari serangan tersebut.
Bugh ... bugh ...
Ia pun langsung memberikan tendangannya pada perut pria yang baru saja menyerangnya membuat orang tersebut mundur akibat tendangan yang diberikan Kanzia.
"Serang wanita itu!" ucap salah satu dari mereka memberikan perintah untuk membalas Kanzia.
"Jangan coba coba menyentuh Nona muda kami!" Kevin baru saja tiba di tempat itu bersama beberapa orang di belakangnya.
Aksi saling serang menyerang terjadi antara anggota bermotor itu dengan anggota Kevin. Di tengah tengah keributan itu Kanzia melihat seorang wanita menggunakan penutup wajah sedang memperhatikan kejadian itu.
Kanzia yang merasa yakin jika orang itu adalah dalang dari penyerangan yang terjadi padanya penasaran dan mendekat ke arah wanita itu berdiri. Orang itu pun yang menyadari jika Kanzia sedang mendekat ke arahnya, segera beranjak dari tempatnya.
"Aku harus mengikuti orang itu, aku yakin dia pasti dalang dari semua ini," gumam Kanzia sambil mengejar wanita misterius itu.
__ADS_1
Kanzia terus mengikuti orang itu sampai memasuki gang kecil yang ada di sekitar tempat itu, tapi anehnya orang itu tiba tiba saja berhenti tepat di hadapan Kanzia.
"Siapa kamu? Apa tujuanmu melakukan hal ini," tanya Kanzia yakin jika orang itu adalah dalangnya.
"Tujuanku adalah menghabisi nyawamu," ucap wanita itu sambil berbalik ke arah Kanzia dan membuka cadar yang ia gunakan.
"Clara ..." Kanzia sangat terkejut saat mengetahui siapa wanita itu.
"Bagaimana? Kamu pasti tidak menyangka jika ini adalah perbuatan ku bukan?"
"Asal kamu tau Kanzia, aku sengaja mengalihkan orang orang suruhan suami mu dan memancing mu ke tempat ini agar aku bisa dengan mudah menghabisi nyawamu adikku tersayang," ucap Clara dengan senyum liciknya.
Ia mengeluarkan sebuah belati yang baru saja diambilnya dari seorang ahli racun.
"Cih, apa aku tidak salah? Kamu ingin menghabisi nyawaku hanya dengan benda kecil itu?"
"Zia ... Zia, apa kamu pikir belati ini adalah belati biasa aku telah mengorbankan banyak hal untuk mendapatkan benda ini, karna belati ini telah dibaluri oleh racun yang sangat mematikan," ucap Clara dengan senyum iblisnya.
Clara semakin mendekat ke arah Kanzia yang semakin mundur untuk menghindari serangan Clara. "Ayolah Zia, sebaiknya kamu menyerahkan dirimu padaku, aku akan membuatmu bertemu dengan mamaku dan meminta maaf padanya," ucap Clara.
Ia mulai menyerang Kanzia dengan brutal dan di saat seperti itu Kanzia tiba tiba merasakan perutnya keram, membuatnya tidak fokus untuk melawan Clara.
Clara yang melihat hal itu tersenyum puas, ia merasa semesta sedang berpihak padanya dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Selamat tinggal Kanzia, ini adalah akhir dari hidupmu aku tidak mungkin membiarkanmu tetap hidup bahagia sementara aku sendiri telah hancur," ucap Clara sambil mengarahkan benda tajam itu pada Kanzia.
"Kanzia!"
Jleb!
.
.
.
Bersambung . . . . . .
Apakah yang akan terjadi pada Kanzia? Apakah Clara berhasil melukainya?
Jangan lupa like👍
Komen
Favorit
Vote
__ADS_1