
"Apa yang membuat kakek datang menemui ku?" tanya Abian yang sudah duduk di hadapan kakeknya.
Abian sangat yakin ada hal penting yang ingin disampaikan kakeknya, jika tidak mana mungkin kakeknya tiba tiba saja datang ke rumahnya.
"Kakek hanya ingin mengingatkanmu agar lebih berhati hati, sepertinya Bara sudah memasukkan seseorang untuk memata matai Pramudya grup, dan yang paling penting adalah perketat lagi penjagaan untuk istrimu, kakek yakin mereka pasti sudah mengetahui tentang Kanzia, dan kita harus segera menemukan siapa mata mata itu sebelum kekacauan terjadi di perusahaan," ucap Tuan Bagas yang selama ini selalu memantau pergerakan anak angkatnya.
"Kakek tenang saja aku sudah memiliki rencana untuk membuatnya keluar menunjukkan dirinya, dan sampai kapan pun mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan," ucap Abian sambil tersenyum misterius.
"Apa kamu sudah mengetahui siapa orang suruhan Bara?" tanya Tuan Bagas pada Abian.
"Menurut kakek?" Abian malah balik bertanya.
"Baiklah kakek serahkan semuanya padamu, tapi ingat untuk selalu berhati hati, karna Bara sangatlah licik kita tidak tau apa yang akan ia lakukan untuk mencapai tujuannya."
"Percayakan saja padaku, aku pasti akan mengakhiri semua ini," ucap Abian dengan penuh keyakinan.
"Lalu kapan kamu akan mengumumkan pernikahan kalian? jangan sampai ada gosip miring tentang istrimu, apalagi sekarang ia sedang hamil," ucap tuan Bagas.
"Aku akan mengumumkannya di acara ulang tahun perusahaan, sekalian aku akan mengungkapkan tentang jati diri Kanzia yang merupakan pemilik Angkasa grup," jawab Abian.
"Apa ini termasuk dari rencana yang kamu buat untuk memancing mata mata itu?" tanya tuan Bagas.
Abian tidak menjawab pertanyaan sang kakek dan hanya menunjukkan senyum misteriusnya, entah apa yang akan direncanakan Abian kali ini.
Begitu pun dengan tuan Bagas yang tidak lagi bertanya, kemampuan cucunya itu tidak perlu diragukan ia pasti lebih tau apa yang harus ia lakukan.
*
*
Penampakan di meja makan rumah Abian sudah seperti ada acara hajatan saja saking banyaknya makanan yang tersaji di sana, belum lagi kecerewetan Abian yang terus menanyakan pada pelayan apa makanan itu aman dan sehat untuk istrinya. Kanzia hanya bisa menghela napas melihat tingkah suaminya yang super protektif padanya.
"Bian ... sudahlah kamu membuat mereka semua takut ..." ucap Kanzia yang melihat Abian mengomeli salah satu pelayan karna salah satu menu di meja makan ada yang terlalu pedas.
__ADS_1
"Tapi sayang gimana kalau tadi kamu memakannya, bisa bisa kamu sakit perut," ucap Abian.
Kanzia memutar bola matanya malas melihat tingkah suaminya itu.
"Kalau begitu aku tidak usah makan saja, dari tadi kamu terus bilang ini tidak boleh itu tidak boleh, terus aku kapan makannya," kesal Kanzia.
"Eh, tidak boleh kamu harus makan," ucap Abian menarik tangan Kanzia yang hendak beranjak dari meja makan.
"Kalau gitu biarkan aku memilih makananku sendiri," ucap Kanzia.
"Baiklah kamu bisa memilih mana yang kamu suka," ucap Abian pasrah, dari pada Kanzia tidak makan.
*
*
Abian yang baru saja selesai dengan pekerjaannya masuk ke dalam kamar dan ia mendapati Kanzia yang sedang berdiri di balkon sambil menatap langit malam.
Abian menghampiri Kanzia dan memeluknya dari belakang. "Jangan terlalu lama di luar, angin malam tidak baik untuk ibu hamil," ucap Abian sambil mencium rambut Kanzia.
"Apa ada yang menggangu pikiranmu?" ucap Abian yang sebenarnya mengetahui apa yang membuat istrinya melamun.
"Apakah salah jika aku membenci ayahku?" tanya Kanzia.
Abian yang mendengar pertanyaan Kanzia langsung membalikkan tubuh istrinya agar menghadap dirinya.
"Katakan padaku dengan jujur, apa kamu benar benar membencinya?" tanya Abian dengan suara lembut.
"Entahlah, aku pun tidak tau," ucap Kanzia dengan suara lirih.
"Sayang, kamu tidak salah jika membencinya, tapi aku yakin kamu sebenarnya sangat merindukannya, kamu hanya marah karna ayahmu mengabaikan mu dan lebih menyayangi orang lain, jadi kamu tidak benar benar membenci ayahmu," ucap Abian.
"Aku tidak tau apa aku membencinya atau merindukannya, hatiku terlalu sakit dengan semua perlakuannya padaku, setelah kepergian bunda ia tidak lagi peduli denganku, ia selalu mementingkan Clara dan selalu mengabaikan ku, ia selalu menyalahkan ku atas kesalahan yang dilakukan Clara. Bahkan ia dengan terang terangan tidak mengakui ku sebagai putrinya di hadapan rekan bisnisnya, di saat kamu memintaku padanya, tanpa pikir panjang ia menyetujuinya dan menyerahkan ku pada orang asing, aku sudah seperti barang yang tidak ada harganya di mata Ayahku, tapi sampai detik ini aku tidak bisa benar benar membencinya, aku tidak bisa Bian ... ." lirih Kanzia.
__ADS_1
Kanzia menumpahkan semua rasa sakitnya sambil terisak , Abian yang mendengar hal itu ikut merasakan sakit dan ia pun langsung membawa Kanzia ke dalam pelukannya.
"Ya, seperti apa pun perlakuannya padamu dia tetap bagian dari dirimu, jadi kamu tidak akan pernah bisa membencinya, aku tidak akan pernah melarang mu untuk membencinya, tapi apa dengan kamu membencinya akan membuat perasaan mu menjadi lebih baik?" tanya Abian sambil menatap Kanzia.
Kanzia hanya diam saja sambil menatap Abian, berusaha menyelami perasaannya apakah ia akan bahagia ketika membenci ayahnya.
"Apakah aku harus memaafkannya?" tanya Kanzia.
"Aku tidak memaksamu untuk memaafkannya, aku hanya ingin mengatakan jika semua yang terjadi adalah kehendak tuhan dan itu yang terbaik untuk mu, bahkan di setiap penderitaan yang kamu rasakan selama ini," ucap Abian, ia tidak ingin istrinya dipenuhi rasa kebencian pada ayahnya yang malah menyakiti dirinya sendiri.
"Rencana Tuhan ..." gumam Kanzia tersenyum miris. "Ibuku meninggalkan ku dengan cara yang tragis, Ayah tidak lagi memperdulikan ku, di siksa oleh ibu sambung ku, dikucilkan karna fisikku yang buruk, dikhianati oleh kekasih dan kakak tiri ku, apakah itu semua rencana Tuhan untukku?" ucap Kanzia dengan mata yang kembali berembun itu.
Abian menarik dagu Kanzia dan menatapnya dengan penuh kelembutan.
"Dibalik semua penderitaan itu Tuhan menyelipkan rencana terbaiknya untukmu dengan menjadikanmu seperti sekarang ini, bukan hanya cantik tapi kamu juga adalah wanita yang tangguh, kamu memiliki segalanya, kamu memiliki aku dan sekarang kamu akan memiliki seorang anak buah cinta kita, hidupmu sudah sangat sempurna sekarang, jadi tidak ada yang perlu kamu sesali dari setiap penderitaan yang kamu alami di masa lalu, jangan biarkan dirimu tenggelam dalam kenangan masa lalu sudah saatnya kamu untuk bahagia," ucap Abian.
Kanzia hanya bisa menatap Abian, ia sama sekali kehilangan kata kata untuk membalas semua ucapan Abian, benar yang dikatakan suaminya itu, sekarang bukan saatnya ia mengingat masa lalu.
"Mari kita temui ayahmu besok, kita dengar penjelasannya kenapa ia sampai melakukan hal itu padamu," ucap Abian menatap Kanzia dengan penuh kehangatan.
.
.
.
Bersambung . . . . .
Jangan lupa Like
Komen
Favorit
__ADS_1
Vote