
Ini adalah malam yang cukup larut, cuaca malam ini indah.
Bulan bersinar terang diluar sana dengan indahnya.
Namun sayangnya, disalah satu ruangan Kelas di Sekolah X, terlihat ada seorang gadis masih sibuk untuk membereskan ruang laboratorium bersama beberapa siswa lainnya.
"Terimakasih, Ketua Kelas, telah membantuku, aku benar-benar telah merepotkanmu, padahal ini bukan jatwal piketmu,"
"Tidak masalah sama sekali, aku baik-baik saja dengan ini. Hanya saja, aku merasa sedikit kesal dengan teman-teman piketmu, mereka pergi begitu saja,"
"Tidak masalah Ketua Kelas, aku baik-baik saja, lagipula mereka bilang ada sesuatu yang penting, mungkin memang hal yang benar-benar penting terjadi,"
"Kamu benar-benar terlalu baik, Seraphina," kata pemuda berkacamata itu sambil menghela nafasnya.
Keduanya pun mulai membereskan peralatan disana. Karena berdua, hal-hal cepat terselesaikan.
Sekarang tinggal mengunci ruangan dan menyerahkannya pada petugas jaga.
"Seraphina, biar aku saja yang pergi ke petugas, kamu pulang saja duluan,"
"Tapi, ini adalah tugasku,"
"Sudahlah tidak apa-apa, toh aku tinggal di Asrama, kamu tinggal diluar bukan?"
"Iya.... Tapi...."
Jadi pada akhirnya, Seraphina berpisah dari pemuda berkacamata itu, dia naik kearah lift.
Namun ketika Seraphina baru saja turun dan berpisah dengan pemuda barusan, ketika di lantai bawah, dirinya baru ingat kalau meninggalkan Tasnya di Laboratorium.
"Sial, kenapa aku bisa begitu teledor?" Gumanya terlihat kesal itu.
Lalu dia segera menaiki lift lagi, namun ada masalah.....
Benar....
Ada masalah!!!
Dirinya tidak tahu dimana lantai Laboratorium barusan. Semua catatan dan rincian jatwal pelajaran semua ada di buku catatan di Tasnya, sekarang tidak ada Tasnya...
Apa lagi disekolah sebesar ini, siapa yang dirinya mintai tolong?
Ketika Seraphina berpikir sendiri, lift tersebut tiba-tiba berhenti, dan secara respon Seraphina turun dari lift.
Ketika dirinya keluar dari lift, dirinya mendengar sebuah suara.
Ini adalah sebuah alunan musik yang indah, apakah ini alunan musik dunia manusia yang disebut Piano itu?
Ketika mendengar alunan musik ini, tanpa sadar, Seraphina berjalan kesalahan satu ruangan tertentu yang terbuka di ujung koridor.
Dari arah koridor, alunan musik sedikit bergema, namun tidak menghilangkan keindahan dari musik tersebut.
Ini tidak bisa membuat Seraphina tidak bertanya-tanya, tentang siapa yang bermain musik malam-malam begini.
Ini mengigatkannya kalau sebenarnya lagi akan ada festival di Sekolah.
Apakah ada seseorang yang berlatih untuk persiapan festival?
Tapi ini sudah cukup larut, sudah hampir jam tujuh malam....
Kira-kira siapa yang berlatih?
Perlahan-lahan di lorong yang kosong itu, Seraphina berjalan kearah ruangan diujung.
Ketika sampai didekat pintu yang setengah terbuka itu, Seraphina bisa melihat tulisan 'Ruang Musik' diatas pintu.
__ADS_1
Ketika Seraphina mengintip kedalam, dia cukup terkejut.
Disana, terlihat seorang pemuda berambut silver, dengan mata merahnya, terlihat fokus memainkan piano didepannya, seolah dunia hanya miliknya sendiri.
Menikmati memainkan alunan indah dari tus-tus piano, menekan nada demi nada.
Dia mengenakan set pakaian seragam sekolahnya, dengan lengan yang sedikit digulung, memperlihatkan tangan dan jari-jarinya yang terlihat begitu indah itu.
Tatapannya yang tenang, diteragi cahaya bulan samar dari jendela, dan diiringi musik itu membuat pemadangan itu begitu indah.
Ini adalah keindahan lain yang memukau.
Tanpa sadar, Seraphina yang terpaku menatap pemuda itu, memasuki ruang musik.
Seraphina masih sangat terpukau dengan alunan musik yang indah, dan pemuda yang cukup tampan didepannya itu.
Kalau dilihat lagi setelah memasuki ruangan, Seraphina akhirnya bisa melihat wajah pemuda itu.
Itu.....
Itu bukankah Allen, Sang Pangeran Sekolah?
Akhhhh....
Sial!!
Aku membuat masalah, bertemu seseorang seperti ini disini.
Seraphina yang begitu panik itu, tidak sengaja malah menutup pintu dibelakangnya.
Klek
Suara pintu tertutup itu membuat alunan musik terhenti.
Pemuda itu menatap Seraphina.
Disini, Allen selalu merasa ada sesuatu yang salah setiap kali dirinya melihat gadis itu.
Seperti ada godaan tertentu yang merasuki dirinya.
Dirinya sendiri tidak mengerti apa yang terjadi.
Seperti.....
Ada aroma yang begitu lembut dan manis dari arah gadis itu.
Dan sekarang, diruangan musik yang tertutup ini aroma manis ini menyebar begitu memabukkan.
Ah, benar juga dirinya belum minum lagi belakangan....
Apakah ini ada pengaruhnya?
Tidak.
Ini tidak bisa, dirinya harus mengendalikan diri.
Allen mulai berjalan mendekat kearah Seraphina.
Disini, Seraphina yang mencoba membuka pintu karena takut, malah gagal.
Seperti pintu ruangan ini malah terkunci.
Sejak dia bertemu Sang Pangeran Sekolah tempo hari, kesan dirinya pada orang itu cukup buruk. Dia adalah seorang senior yang sombong, dan akan merepotkan berurusan dengannya dan para pengikutnya.
"Pintu ruangan ini rusak, itulah kenapa aku tidak menutup pintunya," kata Allen sambil berjalan semakin dekat ke arah Seraphina.
__ADS_1
"Ah... M... Maaf aku tidak tahu," kata Seraphina dengan gugup.
"Kenapa kamu disini?"
"A... Aku salah masuk ruangan, aku tidak tahu kalau ada orang di sini,"
"Aku paling tidak suka jika diganggu ketika berlatih bermain piano," kata Allen dengan dingin.
"A... Aku tidak tahu, aku minta maaf...."
"Kamu selalu hanya bisa minta maaf dari tadi?"
"A... Aku akan segera pergi," kata Seraphina lagi, terlihat panik, dia berusaha membuka pintu itu, namun malah tanganya terkena gagang pintu yang runcing, dan sedikit berdarah.
Deg
Aroma yang begitu memabukkan langsung tersebar dengan liar didalam ruangan itu, yang hanya bisa tercium oleh Allen.
Mata merahnya yang semerah darah itu, terlihat bersinar lebih merah dalam kegelapan.
Tiba-tiba rasa haus yang mengerikan muncul dalam dirinya.
Aroma yang begitu menggoda, dan memabukkan....
Allen mengabil tangan Seraphina yang terluka ke wajahnya.
Disana, Allen menjilat luka goresan disana, membuat Seraphina begitu kaget dengan reaksi Allen.
Lidah yang hangat dan lembut menyentuh tangannya.
Ini adalah perasaan yang mendebarkan yang membuat binggung.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Lalu kemudian, Allen menarik Seraphina kearahnya.
Lalu mencium bibir gadis itu.
Bukan...
Itu bukan ciuman, Allen yang sedikit kehilangan kendali itu, mulai menghisap bibir Seraphina, membuat gadis itu meronta namun tidak bisa bergerak, seperti tubuhnya dikendalikan oleh sesuatu.
Perlahan, Allen menghisap Esensi Jiwa dari Seraphina tanpa gadis itu sadari.
Benar....
Allen sebenarnya adalah seorang Vampir.
Bagi Vampir, mereka yang merupakan Iblis khusus, hanya bisa bertahan dengan meminum darah dari mahluk lain atau mengambil sebagian esensi jiwa mahluk hidup.
Darah dan Esensi Jiwa milik manusia khususnya Esper memang sangat bagus dan mengoda.
Namun.....
Darah dan Esensi Jiwa milik seorang Angel yang masih begitu murni adalah yang paling mengoda.
Ini adalah sebuah godaan manis...
Seperti jiwanya dipanggil dan membuat melayang....
Sensasi yang memabukkan....
Itulah yang dirasakan Allen sekarang...
####
__ADS_1
Bersambung