
Hari itu, ketika Seraphina kembali tersadar, dia sudah kembali ke lorong sekolah, tempat dia berada sebelumnya.
Seolah-olah, mengulang adegan barusan, dimana dia melihat Eric masih tersenyum didepannya, seolah-olah tidak terjadi apapun.
Disini, Seraphina tentu sangat kaget, jelas tadi dirinya berada diruangan aneh, namun sekarang sudah kembali ketempat semula.
Apa yang barusan terjadi?
Apakah mimpi?
"Kalau begitu aku pergi dulu, hanya ingat akan apa yang aku katakan barusan."
Kata-kata Eric membuat Seraphina tersadar dari lamunannya.
"I... Iya...." Kata Seraphina sedikit gemetar.
Dirinya masih ingat ketika ada diruangan gelap itu, selain pijakan kakinya, melihat sekelilingnya, itu adalah ruangan yang seolah-olah tidak terbatas, tertutup dalam kegelapan, tidak tahu dimana ujungnya.
Seolah-olah, jika dirinya bergeser satu meter saja, dirinya akan jatuh di jurang kegelapan tanpa ujung.
Kata-kata Eric sebelumnya masih berniang-niang di kepalanya.
'Kamu harus merahasiakan ini semua, atau..... Aku akan meninggalkanmu disini...'
Kata-kata yang begitu santai namun terlihat dingin dan kejam itu benar-benar bisa lolos dari mulut pemuda itu dengan ringan.
Seraphina tidak pernah bisa membayangkan, jika dirinya berada diruangan itu sendirian.....
Jelas dirinya tidak akan bisa keluar....
Benar-benar mengerikan....
Sekarang Seraphina merasa lega setelah melihat Eric pergi, jadi dia memilih untuk pergi ke arah yang berlawanan dengan pemuda itu.
Lebih memilih tidak mau berurusan dengan sesuatu seperti itu, itu diluar kemampuannya.
Jadi ketika Seraphina terus berjalan kedepan, dia sampai lupa tentang seseorang yang berada disana.
Ketika Seraphina tersadar, Touma sudah ada dihadapannya entah bagaimana.
"Seraphina?"
"Ah....."
Jantungnya hampir saja copot dan dirinya hampir berteriak saking kagetnya ketika melihat Touma tepat berada didepannya.
Tatapan mereka bertemu....
Sekarang ketika dirinya menatap Touma, bayangan tentang ciuman-ciuman itu muncul.
Itu membuat wajah Seraphina sedikit memerah karena malu.
"Seraphina?"
"Ya? Ya? Touma? Ada apa?"
"Kamu terlihat linglung dan melamun barusan, apa ada?"
"Ti... Tidak..."
Seraphina lalu memalingkan wajahnya.
Hatinya masih belum siap untuk bertemu dengan Touma sekarang.
Disini, Lucifer juga merasa binggung harus bersikap seperti apa.
Jelas, kejadian malam itu dan kejadian-kejadian sebelumnya yang saat ini Seraphina sudah tahu semua, membuat dirinya merasa canggung.
Sejujurnya, dirinya tidak sengaja bertemu Seraphina, itu karena barusan dirinya seperti merasakan ada pergeseran antara Ruang dan Waktu.
Tapi begitu duitnya ingin mengecek sumbernya, dia malah bertemu gadis ini.
Sekali lagi ada suasana canggung antara keduanya, tidak tahu harus mulai berbicara dari mana.
__ADS_1
"Mau ke kelas?" Tanya Touma tiba-tiba.
"Iya, aku ada kelas Sains sekarang,"
"Ah... Kita satu kelas. Mau ke kelas bersama?"
"Ya,"
Dan begitulah kedua orang itu berjalan dalam diam menuju ruang kelas.
Mereka berdua mengantri di Lift A disalah satu ujung ruangan.
Pagi seperti ini lift begitu penuh dan harus mengantri, bahkan walaupun tersedia beberapa lift dengan muatan siswa cukup banyak setiap liftnya.
Ada beberapa lift khusus naik dan lift khusus turun, untuk menghindari ketidaknyamanan kalau misalnya musti bolak-balik naik turun.
Mengingat itu adalah lantai tiga puluh.
Ketika keduanya masih canggung dan tenggelam dalam pikiran masing-masing, mereka tidak sadar kalau bukannya naik, mereka malah salah masuk ke lift menuju bawah.
Ketika lift terbuka diruangan bawah tanah, keduanya kaget dan saling menatap.
"Seraphina aku rasa aku jadi seperti kamu, bisa-bisanya salah masuk lift, pantas saja liftnya sepi."
Itu benar hanya ada mereka berdua dilihat dari awal sampai akhir.
Mereka berada di ruang sempit itu berdua namun tidak satupun dari mereka yang membuka percakapan.
"Kenapa jadi aku? Bukankah kamu yang masuk ke lift duluan? Aku hanya mengikutimu,"
"Jadi walaupun aku salah, kamu tetap mengikutiku?"
Muka Seraphina sekali lagi memerah seperti tomat.
Ini terlalu memalukan.
"A... Aku hanya tidak sengaja. Lagipula dari awal siapa yang salah masuk lift?"
Melihat wajah Seraphina yang memerah karena malu itu, membuat Lucifer merasa gemas sendiri, dan tidak tahan untuk mengelus rambut Seraphina, lalu sedikit tertawa.
Disini, Seraphina berusaha menepis tangan Lucifer yang mengelus rambutnya.
"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!"
"Baiklah-baiklah."
"Kamu menyebalkan!"
"Kamu kenapa lagi Seraphina?"
"Dari awal kamu mempermainkan ku bukan?"
"Siapa yang mempermainkan mu?"
"Ciuman itu....."
"Itu hanya sebuah ciuman, bukan itu bahkan tidak bisa disebut ciuman. Itu hanya kecupan."
"Kamu terlihat seperti seseorang yang berpengalaman, Touma."
"Tunggu, bukan aku yang mulai mencium seseorang tiba-tiba, oke?"
Seraphina memalingkan wajahnya karena malu.
Namun, Lucifer terlihat tidak membiarkan hal itu terjadi, dia melepaskan kacamata yang dia pakai, lalu tangannya ada di wajah Seraphina, memaksa gadis itu agar menatap kearahnya.
"Ka... Kamu apa-apaan...."
Lucifer hanya tersenyum kecil melihat sikap manis gadis itu.
"Kamu malu?"
Sekali lagi Seraphina memalingkan wajahnya, melihat wajah tampan itu dari dekat membuat dirinya berdebar.
__ADS_1
"Itu karena kamu bersikap seperti ini tiba-tiba,"
Sekali lagi Lucifer tersenyum, memegang dagu Seraphina, masih asik mengoda gadis itu.
"Seperti ini tiba-tiba bagaimana? Bukankan kita memang seperti ini?"
Dari sini, Seraphina mulai memikirkannya, dan memang benar, sebagai seorang 'teman' dirinya dan Touma memang dekat, bergandengan tangan, mencoba sesuatu bersama, saling mengelus rambut masing-masing, saling menggoda, mereka memang sering melakukannya, namun ketika sekarang Seraphina memikirkannya dirinya menjadi malu sendiri.
Ini semua berkat ciuman sembarangan hari itu.
Dan lagi, tiba-tiba Seraphina merasa sedikit kesal, padahal itu adalah ciuman pertamanya, namun sepertinya pemuda didepannya tidak terlalu mengagap itu penting.
"Kamu yang tidak bilang kalau itu adalah kamu, Touma."
"Kamu tidak pernah bertanya,"
"Aku pernah bertanya, oh wahai Tuan Malaikat yang Agung,"
Lucifer lalu tertawa kecil mendengar ledekan Seraphina itu.
"Aku sudah lama tidak dipanggil seperti itu,"
Disini, Seraphina melepaskan tangan Lucifer darinya, dan benar-benar menjaga jarak, namun sayangnya, dibelakang Seraphina hanya ada pintu lift yang tertutup.
"Berhentilah menggodaku,"
"Tapi, Seraphina kamu duluan yang mengodaku bukan?"
"A... Aku tidak...."
"Tapi kamu yang menciumku duluan. Ah tidak itu bukan ciuman,"
"Ya. Aku salah aku yang duluan, lagipula seperti katamu, itu bukan ciuman jadi tidak perlu dianggap,"
"Ya, itu hanya sebuah kecupan, jadi apa kamu mau aku tunjukkan seperti apa itu sebuah ciuman?"
Lucifer agak mendorong Seraphina kearah pintu lift, menghimpit gadis itu diantara lengannya, lalu perlahan, mendekatkan bibirnya pada bibir gadis itu, sebelum gadis itu bereaksi.
Itu adalah ciuman yang lainnya, kedua tangan Lucifer lalu memegang wajah Seraphina membuat dirinya bisa mencium Seraphina lebih leluasa.
Berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya yang hanya kecupan ringan, kali ini ciuman yang lebih dalam.
Itu ciuman lembut dan hati-hati ketika Lucifer menghisap lembut bibir Seraphina, mengoda gadis itu agar merasa nyaman.
Seraphina yang terbawa suasana, tidak menolak, hatinya terasa gaduh.
Dadanya berdebar kencang tidak karuan.
Terbawa semakin larut dalam ciuman ini.
Itu tidak berlangsung terlalu lama karena keduanya mulai kehabisan nafas.
Setelah melepaskan ciumannya, Lucifer dengan tenang bertanya,
"Apakah itu nyaman?"
Seraphina refleks mengangguk, dan bergumam ringan.
"Hmmmm,"
"Itu bagus kalau kamu menyukainya," kata Lucifer lagi dengan santai setelah mundur dari Seraphina.
"To... Touma.... Ka... Kamu...."
Seraphina yang baru tersadar itu hanya bisa menatap kaget melihat wajah Lucifer yang sudah menyelinap memasuki lift.
Di sana, Seraphina bisa melihat sebuah seringai diwajah tampan itu.
Di sini, Seraphina seolah-olah merasa, kalau pemuda itu benar-benar tengah mengodanya, seolah seperti Iblis tampan yang menjeratnya, untuk melakukan dosa.
Akhhhh.....
Apa yang ku lakukan????
__ADS_1
####
Bersambung