My Fantasy Voice

My Fantasy Voice
Kematian sebenarnya


__ADS_3

"Bagaimana caraku untuk kembali ke masa lalu?"tanya Rain pada sosok itu.


Sosok itu menatapnya lalu mengarahkan tangannya pada Rain.


"Bukankah?kau pernah melewati perbatasan antara mimpi dan duniamu?pasti kau tau caranya."


Rain mengeleng, dia sendiri saja belum lama menginjakkan kakinya di dunia fantasy, bagaimana dia tau semuanya?


"Aku tidak tau."


"Kau bisa mengunakan kekuatan itu tapi hanya sekali, karna ada batas waktu apa kau yakin?"tanya sosok itu.


Rain terdiam sejenak, lalu dia mengangguk.


"Aku yakin."


Sosok itu menyeringai, dia sudah menduganya, jika dia memang adalah setengah jiwa dari Ice mungkin dia memang tau semua perangai Rain.


Rain bukan tipe orang yang suka berdiam diri saat semuanya berjuang.


Anak itu sangat mudah mengingat kebaikan seseorang oleh karna itu dia akan membalas bentuk perbuatan itu walaupun kecil atau besar.


"Kau pasti masih ingat tentang kelima Guardian, yang coklat tua adalah yang paling pijak, yang merah adalah yang paling tegas, yang biru adalah yang paling tenang, yang kuning adalah keceriaan, dan yang putih melambangkan kesucian.


Kau bisa mengunakan kekuatan mereka untuk membantumu mengendalikan permata lain."


"Maksudmu permata lain yang belum di temukan?"tanya Rain.


"Iya, dan mungkin sekarang aku ku tunjukan gambaran masa lalu dunia ini padamu...."


Sosok itu lalu menghentikan jarinya dalam sekejap ruangan itu berubah menjadi ruangan terbuka, Rain melihat seorang wanita dan pria yang tengah duduk di pesisir pantai.


"Apa itu.....ayah dan ibu?"


Sosok itu mengangguk pelan, posisi mereka terbilang cukup dekat dari dua orang di depan mereka, jadi mereka masih mendengar pembicaraan dua orang itu.


"Mereka tak akan bisa melihat kita karna kita transparan, aku melakukan ini agar kau tak mengunakan kekuatan batu permata yang ada di tanganmu mu sekarang, gunakan kekuatan itu di situasi mendesak saja."ucap sosok itu memperingatkan.


Sedangkan tatapan Rain masih terpaku pada dua orang di depannya itu.


Perasaan rindu....


Perasaan itu kembali ia rasakan.


Walaupun dia mempunyai keluarga asli di bumi tapi keluarga di dunia ini seolah mengikat semua perasaannya dengan benang merah tak kasat mata.


Seperti reinkarnasi yang terhubung di antara dua dunia.


Hal itu lah yang ia rasakan sekarang.

__ADS_1


"Meira, apa kau yakin mau melakukan?kita bukan pemilik naga, makhluk seperti kita bahkan tidak bisa menyentuh tujuh permata bagaimana kita menggunakan untuk kembali ke masa depan?"ucap ayahnya sambil memegang tangan wanita itu.


"Kita harus bisa, karna aku ingin putraku bisa ke dunia ini."jawabnya.


Rain sedikit binggung dengan pembicaraan kedua orang tuanya.


Mereka ingin pergi ke masa depan?


Tapi untuk apa?


"Tapi itu memiliki resiko besar Meira!aku tak terjadi apa-apa padamu!"


"Bagaskara, kita tak tau dengan masa depan bukan?untuk menoleh kebelakang saja itu sudah terlambat, Rain kecil tak pernah mengingatnya apa yang terjadi ketika dia dewasa.


Karna ingatannya masih tertahan di antara dua dunia, satu-satunya jalan adalah mencari jalan keluar."


Meira lalu menunjukan bola kristal berwarna ungu cerah di tangannya.


"Itu...."


"Di dalam bola kristal itu ada sebuah jiwa manusia, dan itu adalah kau Rain."


"Bagaimana bisa?"tanya Rain pada sosok itu.


....


Tempat itu kembali berubah menjadi tempat yang menjadi kenangan Rain yaitu rumahnya di bumi.


Dia mencengkram rambutnya sendiri untuk mengurangi rasa sakit itu dan perlahan rasa sakit itu menghilang.


"Lihatlah..."ucap sosok itu membuat Rain memandang kearah sosok yang mirip dengannya waktu kecil.


Ya ini adalah kamarnya...


Dimana dia berbagi rasa sakit dan kesepian pada dirinya sendiri.


Semua luka ia terima dengan pasrah karna tubuhnya yang kecil dan lemah.


Dimana penderitaannya yang di alami tiap hari dari keluarganya sendiri.


"Ini...."


"Ini adalah gambaran dari masa lalu mu."


Rain melihat dirinya sendiri yang masih berumur 5 tahun tampak menemukan sesuatu dalam lemari pakaiannya.


Itu adalah bola kristal yang sama persis di berikan ibunya pada ayahnya waktu mereka ada di tempat tsb.


Bola kristal itu di peluknya dalam dekapannya, tampaknya Rain kecil sangat menyukai sesuatu yang baru.

__ADS_1


Karna waktu telah malam, dan tubuh mungilnya lelah karna seharian dia di suruh bersih-bersih rumah oleh ibunya.


Rain kecil menaiki ranjang dan merebahkan dirinya lalu tertidur saat ia memejamkan matanya sambil memeluk bola kristal berwarna ungu itu.


Tubuh Rain membeku saat melihat cahaya dari bola kristal itu.


Perlahan dia mendekati ranjang, memperhatikan wajah polosnya saat tidur, dari kecil Rain memang manis hingga banyak yang mengiranya seorang perempuan karna bulu matanya yang lentik, tapi di balik wajah lugu itu bertahun-tahun semenjak dia lahirkan, anak seusianya yang harus merasakan kasih sayang dan kebahagian masa kecil telah di renggut oleh perilaku pilih kasih kedua orang tuanya.


Tidak ada yang tau di balik senyum kotak yang selalu ia tunjukan bahwa dia telah menyimpan luka yang menganga besar di hatinya.


"Rain..."ucap sosok itu mencoba menyadarkan Rain yang sedang terjebak dalam pemikirannya sendiri.


"Rain apa kau tau bahwa mimpi itu jendela masa depan?


Ketika kau menemukan bola kristal itu disitulah kau mengenal dunia fantasy yang kau sebut dunia mimpi."


Rain hanya diam dia menatap sosok yang mirip Ice itu yang kini tengah mengelus surai Rain kecil yang sedang tidur.


"Saat kau tertidur kau sudah berada di dunia fantasy dan bertemu dengan ibu dan ayahmu, itu artinya kau bertemu mereka, temanmu, keluargamu, nagamu, dan musuhmu setiap detik, hari, dan tahun...."ucap sosok itu.


Sontak mata Rain membulat mendengar itu.


Jadi dia...


"Ibumu nekat ingin membalikan waktu di mana saat kau mati karna ulah iblis itu, dan ibumu menghidupkan jiwamu dengan mengganti jiwanya sendiri, seharusnya saat kau masih dewasa karna masih bertemu dengannya tapi ternyata dia jauh lebih menyayangimu dibanding nyawanya sendiri."


"Aku pernah mati?"ucap Rain seolah tak percaya setelah dia tau kebenarannya.


"Ya kau pernah mati, dua kali....


Saat kau kecil karna ulah iblis itu, dan ketika kau memilih mengakhiri penderitaan mu di duniamu sendiri."


Rain lalu mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya saat merasakan kepala berputar dan serasa mau pecah.


Apa ini efek ketika ingatannya akan kembali?


Tapi...


Kenapa sangat menyakitkan?


Sejujurnya dia masih menahan rasa sakit, tapi untuk mengetahui kenyataan terkadang memang sulit di terima.


Dia hanya belum memahami semuanya, tapi yang dia tau adalah...


Kebenaran bahwa kematiannya sebenarnya telah terungkap!


Dan dia tau...


Bahwa ingatannya di masa kecil dan semuanya adalah nyata.

__ADS_1



(Tunggu bab selanjutnya.🤭)


__ADS_2