
Silence floats memories, returns lost love, drives away anger, repeats sweet successes and beautiful failures. Silence becomes a mirror that makes us reflect whether we like it or not at the result.
Keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang manis keberhasilan dan indah kegagalan. Hening menjadi cermin yang membuat kita berkaca-suka atau tidak pada hasilnya.
Sebuah kenangan tak dapat di beli atau di salin seperti fotocopy, berbeda dengan foto atau bingkai yang masih bisa di pajang kenangan akan selalu ada di hati.
...
Rain masih terpaku membuat Diana yang melihatnya heran.
"Hei nak, apa kau mau masuk?"tanya Diana lembut.
Rain mengeleng lemah, dia merasa tak enak masuk kedalam rumahnya dulu dia takut kenangan itu kembali di memorinya dan membuat rahasianya terbongkar.
Memang sebelum dia masuk atau lebih tepatnya bertransmigrasi wajahnya sangat mirip Aiden hingga tak ada berubah namun saat dia berada di dunia ini wajahnya sedikit berubah hingga mungkin orang tak mengenalinya kalau dia adalah Aiden dulu.
Di tambah dia memiliki suara.
Hal itu membuatnya bersyukur karna dia masih bisa berbicara, rasanya Rain ingin memutar waktu di mana dia menunjukkan suaranya dia depan keluarganya tapi itu telah terjadi saat dia bertemu ibunya dengan keadaan yang berbeda.
"Tidak aku hanya mampir untuk memberikan ini."ucap Rain sedikit gugup, dia menyerah kan bingkisan yang berisi coklat dari ayahnya.
Katanya agar dia melihat tetangga baru atau menemukan teman baru, tapi bagi Rain ini adalah hari yang benar-benar membuatnya terkejut dengan takdir yang menentukan nasibnya sekarang.
Yang dia pikirkan saat ini adalah, dia tak ingin penyamarannya terbongkar oleh keluarga dari masa lalunya.
Benar kata Ice dulu,dunia ini hanyalah drama yang sudah di rencanakan tidak ada takdir atau nasib jadi apa yang kau harapkan dari dunia?
Kata-kata dari temannya itu membuat ia sedikit merindukannya, bisakah dia membawa Ice kembali ke jalan yang benar?
"Terima kasih nak, sayang sekali kamu gak mampir padahal Tante akan membuatkan mu kue."
Rain hanya tersenyum kikuk.
Setelahnya dia berpamitan untuk pergi pada Diana tanpa menoleh kebelakang kalau Diana masih memperhatikan punggungnya.
"Dia seperti dirinya..."ucap Diana lirih.
...
Sementara itu.
__ADS_1
"Ayah!"
"Oh nak kau sudah bertemu dengan tetanggamu jadi bagaimana?"
Rain memiringkan kepalanya.
"Bagaimana apa?"
Bagaskara terkekeh sambil menarik tangan putranya hingga Rain kini duduk di pangkuan ayahnya itu.
"Apa kau bertemu dengan teman baru?"
Rain mengeleng, dia tak mau bertemu dengan teman baru, siapapun itu kecuali teman-temannya di dunia fantasy.
"Kenapa?apa di sekolah ada yang menganggumu?"tanya Bagaskara menaikan sebelah alisnya.
Rain sontak mengeleng, dia tak mau ayahnya berprasangka buruk pada teman-temannya di sekolah, meskipun dirinya tak tau siapa teman-temannya.
"Benarkah?"tanya Bagaskara lagi sambil memicing curiga.
Rain kembali mengeleng.
Pemuda bermata biru itu lalu menangkup wajah ayahnya.
Ayahnya benar-benar sosok pemimpin yang sempurna, Rain juga pernah melihat ibunya saat berada di dalam mimpinya, ibunya wanita yang sangat cantik hingga jika mereka berdua bersama maka akan sangat cocok menjadi foto model terkenal di bumi.
Tanpa sadar Rain tertawa membayangkan itu membuat Bagaskara binggung dengan putranya yang tiba-tiba tertawa.
"Kenapa kau tertawa hm?ayah jadi penasaran apa yang ada di pikiranmu sekarang."
"Apa ayah berkerja?"
"Tentu saja sayang, bagaimana kita makan kalau ayah tak bekerja untuk menghidupi dan menuruti semua permintaan putra kesayangan ayah ini."ucap Bagaskara memeluk putranya itu gemas.
Rain sedikit tertegun karna Bagaskara bekerja demi dirinya, sebelumnya orang tuanya tak pernah memperdulikannya bahwa dari dulu dia tak pernah punya banyak mainan atau satu mainan seperti anak lainnya.
Dia menghirup nafas dalam untuk meredakan rasa sesak yang menyakiti hatinya, dia tak mau mengingat memori itu tapi rasanya sangat sulit di lupakan.
Sedangkan Bagaskara panik melihat kedua mata putranya itu berkaca-kaca.
"Astaga maafkan ayah sayang!apa ayah memelukmu terlalu kencang hingga menyakitimu?"tanya Bagaskara khawatir.
__ADS_1
Rain diam, dia memegang tangan ayah dan menyentuh wajahnya, telapak tangan itu besar dan hangat dan membuatnya ingin selalu mengengamnya.
"Ayah....apa kau menyayangiku?"
Bagaskara lalu mengecup kedua mata putranya yang sejak kapan mengeluarkan buliran air mata yang menyedihkan itu.
Jujur saja dia kaget karna baru kali ini dia melihat tatapan putranya seperti ini.
Tatapan sedih, takut, dan kecewa.
Siapa yang telah berani menyakiti putranya?itulah yang terlintas dalam benaknya.
Dirinya berjanji akan membalas orang itu berkali lipat.
"Nak ayah sangat menyayangimu melebihi nyawa dan hidup ayah sendiri.
Kau adalah anugerah dari sang pencipta, bagaimana ayah tak bisa menyayangi anugerah yang seperti berlian yang amat berharga?
Berlian yang murni, dan mudah pecah jika ada yang sembarang orang menyentuhnya, ayah sangat ingin menjagamu bahkan suatu saat ketika kau beranjak dewasa di mata ayah kau tetaplah anak laki-laki kecil yang selalu mengisi hari ayah dan mengajarkan apa itu kebahagian menjadi seorang ayah yang memberi kasih sayang pada putranya."
Kata-kata Bagaskara membuat Rain terharu, dia tak menyangka di dunia ini atau di dunia fantasy Bagaskara tetaplah sosok ayah yang sangat menyayangi dan melindunginya.
Kini dirinya tau...
Bahwa seseorang tak bisa di nilai dari cover akan tetapi kita tak bisa melihat lembaran dalam buku itu hingga menyalah artikan sampul dari buku.
Rain...
Baru menyadari bahwa kebencian masa lalu bisa di pudarkan dengan sedikit cinta.
Ya sedikit kasih sayang, sedikit simpati, sedikit bantuan bukan kah semua itu membuat hatimu merasa hangat seperti lelehan coklat panas yang di ruang kedalam es?
...
The pain of your past is too far away to touch you today, but it is the repetition of the memories and the pain that can weaken you."
Derita masa lalumu itu terlalu jauh untuk menyentuhmu hari ini, tapi pengulangan kenangan dan rasa sakitnyalah yang bisa melemahkanmu.
Ketika hati masih menginginkan seseorang di masa lalu kembali dengan kenangan indah dulu, lihatlah bahwa hidup maju untuk masa depan.
Kita tak bisa terus melihat kedepan, pernahkah kau melihat orang berjalan mundur?mereka pasti berjalan ke depan dan maju.
__ADS_1
Seperti itulah masa lalu yang membuat kita mempelajari tanpa melupakan dan menyimpan kenangan tanpa tawa.
Bangkit untuk melawan masa lalu walaupun kau harus menangis.