
Friendship based on sincerity and affection will give birth to eternity in togetherness.
Until time passed very quickly, he adjusted everything according to what God had ordained, that in every togetherness, whenever there will be separation.
Persahabatan yang dilandasi oleh keikhlasan dan kasih sayang, akan melahirkan keabadian dalam kebersamaan.
Hingga waktu berjalan sangat cepat, ia menyesuaikan segalanya dengan apa yang sudah ditetapkan Tuhan bahwa di setiap kebersamaan, kapanpun itu, akan terjadi perpisahan.
...
Bel istirahat telah berbunyi sejak tadi, namun hal itu seolah tuli bagi pemuda bermata biru yang masih tak beranjak dari tempatnya dan satu orang yang berada di kelas.
Rain menghela napas sambil menelangkupkan kepalanya di atas meja.
Beberapa jam lalu Percy memaksanya untuk pergi ke kantin bersama tapi Rain menolaknya dan bilang dia membawa bekal.
Dia ingin makan di kelas saja, tapi entah kenapa niatnya kini seolah menguap dalam sekejap hingga membuatnya malas.
Di tengah moodnya yang turun tiba-tiba dia teringat akan Ice yang duduk di kursi belakangnya.
Dia menoleh yang menatap pemuda berambut grey yang tengah tertidur dengan posisi sama sepertinya.
Entah keberanian dari mana Rain lalu menghampiri meja Ice dan berdiri di samping pemuda yang masih memejamkan mata itu, karna posisi kepala Ice yang miring ke kanan membuat Rain bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas.
Hingga tanpa sadar jemari tangannya sendiri tergerak untuk menyingkirkan sedikit helaian poni berwarna grey itu.
Pemuda itu seperti larut dalam perasaannya.
Perasaan ini...
Benar-benar membuatnya sedikit tersiksa.
'Kapan kau kembali mengingatku?apa di dunia ini kau juga menganggap ku musuh atau teman? keinginan ku hanyalah satu, tolong ingat aku dan kita berdua adalah soulmat sehingga kita kembali menciptakan kenangan berharga lagi.
Karna saat waktunya tiba.
Aku tidak ingin merasakannya penyesalan terberat yang menghantuiku seumur hidupku...'
Grep!
Mata biru Rain membulat saat melihat kedua mata Ice terbuka dan tiba-tiba tangannya di pegang oleh pemuda itu.
Ingin lepas dari cengkraman pemuda itu sangat kuat hingga membuatnya sedikit meringis.
"Siapa namamu?"
Pertanyaan dingin menyapa rungu pendengaran Rain.
__ADS_1
Tapi Rain berusaha untuk menjawabnya.
"R-rain...maaf aku..."
"Aku tidak tau alasanmu menetap di kelas, tapi melihatmu yang memperhatikanku saat tidur tadi ternyata kau seorang penguntit di balik tatapan polosnya itu."tuduh Ice.
"Aku? penguntit?huh!itu tidak benar!"ucap Rain balik menatap Ice tajam.
Ice hanya menampilkan ekspresi wajahnya yang datar lalu menarik tubuh kurus Rain kepangkuannya.
Rain benar-benar tak berkutik atau terpaku.
Kenapa dia...
"Kau sangat kurus apa kau makan kapas tiap hari?"
Lagi-lagi ucapan mengesalkan itu.
Rain ingin membalas tapi tatapan kalah tajam dari Ice.
Ice mengelus kepala Rain dan tanpa sadar tangan satunya memeluk perut Rain.
"Aku tak mengerti saat berpas-pas atau menatapmu aku jadi merasa familiar padahal kita baru bertemu di sekolah sebagai orang asing, sebenarnya siapa kau?
Kenapa dengan mudah membuatku tertarik huh?"
"A-aku juga tidak tau, tapi jangan pangku seperti ini kau terlihat memperlakukanku seperti anak kecil."ucap Rain sedikit malu, jika Percy lihat hancur sudah harga dirinya nanti.
Sedangkan Ice hanya diam, entah kenapa dia merasa seperti mempunyai seorang adik yang lama ia impikan saat bersama Rain.
Karna karakter yang ia masuki adalah orang kaya yang kesepian tanpa saudara atau orang tua.
Kedua orang tua dan adiknya telah meninggal dalam kecelakaan pesawat, keluarga lain atau kerabatnya ingin mengasuh atau merawatnya tapi dia harus tinggal di luar negri, namun karna Ice tak ingin meninggalkan tempat kelahirannya jadinya dia menolak semua tawaran itu.
Melihat wajah Rain yang merah dan tak nyaman membuatnya terkekeh untuk semakin menggoda pemuda itu.
"Umurmu berapa?"
"16 tahun."
"Benarkah?kukira enam tahun."
"Hah?aku tidak sekecil itu!"
"Bagiku kau sangat kecil, jangan-jangan kau anak berusia 6 tahun yang terjebak di tubuh tinggi dan kurus ini."
"Itu tidak benar!"
__ADS_1
Rain menggembungkan pipinya seperti bakpao karna kesal dengan ucapan Ice.
Tapi di sisi lain sudut hatinya menghangat karna di dunia ini dia bisa sedekat seperti ini dengan Ice.
Tiba-tiba Ice mencubit pipinya hingga membuatnya memekik sakit.
"Aw aduh!sakit!"
"Tuh kan, kau masih anak kecil."
"......."
...
Di sisi lain kita melihat dua orang pemuda yang duduk di meja kantin dengan posisi saling berhadapan.
Dua pemuda itu adalah Percy dan Grass.
"Apa kau mengingat semuanya kak?"tanya Percy.
Grass mengetuk jarinya di meja, dan raut pemuda itu tampak berpikir keras.
"Aku hanya merasa familiar tapi tak mengingat semua tentang dunia fantasy yang kau bilang di awal."
"Rupanya kau memang bodoh."
"Huh apa kau bilang?"
"Maksud kau bodoh bukan dalam artian cara berpikir mu tapi cobalah lihat dari segi sudut pandang yang orang lain tak percayai, aku melakukan itu dan aku bisa mengingat Rain saat bertemu dengannya."ucap Percy.
"Rain?"
"Ya Rain adalah seorang manusia terpilih yang menjadi sang pemilik naga es, kita bisa menikmati apapun di dunia ini tapi waktu kita terbatas, entah bagaimana cara manusia tinggal atau menetap di tempat baru tapi tak pernah melupakan teman lamanya seperti contoh itulah kita harus mengikuti sifat kebajikan di dunia ini.
Manusia baik menjadi teladan di dunia ini, dan di dunia kita seorang guardian adalah seorang pembela kebenaran dan keadilan, artinya kita tak sepatutnya meninggalkan sebuah tanggung jawab besar di sana."
Ucapan Percy membuat Grass tertegun dengan setiap kata-katanya.
Entah kenapa dia merasa pemuda yang lebih muda darinya ini lebih bijak darinya.
"Baiklah, anggap saja ini tawaran atau kesepakatan aku akan membantumu mencari cara pulang ke duniamu dan imbalannya kau memberi semua ingatanku, karna aku terbiasa dengan karakter ini atau mungkin karna keinginan karakter ini yang menyuruhku menetap dan membuatku nyaman, tapi aku tau terlena dengan hal bahagia bukan masa depan yang baik atau buruk tapi sebuah keseimbangan bisa goyah karna keraguan."
...
Hidup yang sukses bukanlah hidup yang mudah. Itu dibangun di atas kualitas yang kuat, pengorbanan, usaha keras, loyalitas, dan integritas.
Banyak tanggung jawab dipelajari dari waktu ke waktu dan disertai dengan pengalaman. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah berusaha sekuat tenaga dan sadar diri.
__ADS_1
Karna sebuah dasar yang tetap adalah seseorang yang tidak bisa bertanggung jawab atas diri dan masa depannya sendiri, tidak akan bisa bertanggung jawab atas diri dan masa depan orang lain.