
Taehyung hanya tersenyum dia lalu melirik kearah bingkai yang berada di meja kecil dekat TV.
"Apa tante tinggal berdua dengan putra Tante?"tanya Taehyung.
"Suamiku sudah meninggal saat umur Nathan 5 tahun karna kecelakaan, semenjak itu aku bekerja keras menghidupi kebutuhan kami berdua sehari-hari. Tapi makin lama aku seperti melupakan sesuatu karna terobsesi dengan bidang pekerjaan hingga aku jarang meluangkan waktu untuk Nathan saat kecil, hingga saat dia berumur 12 tahun tingkahnya menjadi aneh dan tiap malam aku mendengar suara tangisan di kamarnya itu adalah Nathan, dia terus mendapat mimpi buruk dan demi kesehatannya aku mengizinkan dia homeschooling tapi ketika ulang tahunnya yang 17 belas dia...."
Diana tak bisa melanjutkan ucapannya.
...
"Kenapa anda berhenti menceritakannya?"tanya Taehyung menyadarkan Diana dari lamunannya.
Jujur saat ia kembali menceritakan putranya dia juga kembali teringat akan beberapa hal tak mengenakan saat ia berusaha merawat dan menyembuhkan putra semata wayangnya itu.
"Tidak apa-apa, anda ceritakan pelan-pelan mungkin kondisi Nathan sedikit mengguncang hati Anda."ucapan Taehyung rupanya berhasil membuat Diana melanjutkan ceritanya.
"Putranya tak mengalami kondisi mental, dia masih waras aku yakin itu tapi aku juga sangat putus asa waktu itu, hingga akhirnya aku membawa Nathan kepada seorang psikiater dan...
Itu tetap tak berhasil."
...
Flashback on.
Nathan berumur 12 tahun sedang asik menggambar di buku gambar yang di siapkan oleh Diana, banyak krayon yang berhamburan di karpet berbulu itu tapi Diana yang duduk tak jauh di sofa tak mempersalahkannya dan tetap memperhatikan aktivitas sang putra sesekali menengok kearah laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
Ya dia memutuskan untuk bekerja dari rumah demi menjaga buah hatinya, mulai sekarang dia berusaha untuk bersikap dewasa dengan tak egois mementingkan diri dan merawat satu-satunya orang yang tersisa dalam keluarga kecilnya.
Nathan adalah sosok yang berharga dalam hidupnya dan dia tak mau terjadi apapun pada putra kesayangannya itu.
__ADS_1
Tak lama suara nada dering menyadarkan Diana untuk mengangkat panggilan dari ponselnya itu.
'Halo?oh apa Miss akan datang hari ini? baik, terima kasih atas pengertiannya miss.'
Ternyata itu adalah salah satu psikiater yang di cari Diana untuk putranya.
Bukan alasan dia memanggil psikiater akan tetapi ada sebuah masalah mengapa ia meminta bantuan dari psikiater walau ia yakin putranya sama sekali tak mengalami trauma ataupun depresi berat.
Nathan masihlah berumur 12 tahun, dia tetap menjadi seorang anak tampan yang penurut akan tetapi Nathan tak bisa mengendalikan emosinya saat merasa Diana dulu mengabaikan demi perkerjaan, anak itu berkata ibunya selalu membandingkannya dan sikap temperamen Nathan muncul saat itu dimana waktu itu dia melempar benda-benda tajam seperti piring, gelas dan vas kearah Diana lalu ketika ia sadar anak itu akan meminta maaf dengan begitu menyesal karna tak mengingat apa yang ia lakukan tentu hal itu membuat Diana binggung sekaligus khawatir.
Sebagai seorang ibu, dia merasa lalai dan teledor menjaga putranya dan untuk memperbaiki kesalahan Diana berjanji mulai sekarang dia akan selalu berada di sisi putranya, mendukung Nathan untuk sembuh dan merawat dengan baik putranya itu.
Ting-tong...
Suara bel di depan rumah mengejutkan Diana, tapi wanita beranak satu itu tersenyum saat melihat Nathan sama sekali tak terganggu dari kegiatan mewarnai nya sekarang.
Rupanya anak itu menggambar seorang wanita dan seorang remaja yang bergandengan tangan,bisa di perhatikan bahwa gambar Nathan saat anak seusianya cukup bagus, Diana jadi penasaran dan ingin bertanya apa anaknya ketika dewasa ingin mengambil jurusan seni.
"Nathan sebentar ya,ibu mau menyambut tamu dulu kamu tunggu di sini jangan kemana-mana."pesan Diana langsung di angguki bocah laki-laki itu.
Saat Diana pergi, tatapan teduh dan lembut anak itu berubah menjadi kosong dia menatap kearah belakang, dimana ada undakan tangga untuk menuju lantai atas dan kebetulan di sampingnya juga ada lift jika kata ibunya dia capek mengunakan tangga kalau pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Nathan mengeleng kepalanya saat mendengar bisikan jahat yang menyuruhnya melakukan sesuatu tapi semakin ia berusaha bisikan itu makin bising hingga dia meringis sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Seolah ia ingin berteriak meminta tolong pada sang ibu yang belum kembali suaranya entah kenapa tertahan seperti ada yang sengaja membuatnya bisu.
Tiba-tiba...
Prang!
__ADS_1
...
Di sisi lain kita melihat ruangan yang cukup berbeda dengan dominasi cat putih dan grey.
Tampak dua wanita berbeda usia berbincang serius di ruang tamu.
Hingga saat mereka mendengar suara dari ruangan lain seperti benda kaca yang jatuh ke lantai membuat Diana dan psikiater bernama Miss Rose itu terkejut dan sempat saling berpandangan.
Mereka berdua buru-buru kearah asal sumber suara itu untuk memastikan Nathan tak terluka.
Dan saat sampai di ruang keluarga Diana sedikit panik melihat tempat putranya kosong, kemana putranya itu pergi?
Akan tetapi Rose berteriak 'jangan' dari arah dapur membuat Diana sontak melangkah cepat ke dapur dan betapa terkejutnya ia sampai kedua matanya membulat melihat apa yang di lakukan putranya.
"NATHAN APA YANG KAU LAKUKAN!"
Teriak Diana menggelegar marah, bagaimana tidak rasa ngeri, dan shock saat mendapati putranya tengah bermain dengan pisau dapur seolah ingin memotong tangannya sendiri.
Beruntung saat kedua wanita itu sigap menolong Nathan dengan menarik pemuda itu walau sedikit memberontak dan menyingkirkan pisau itu.
Nathan tak melakukan hal nekat lain dengan mengiris urat nadinya sendiri, tapi ketika itu anak itu berbalik Diana sedikit heran melihat tatapan kosong putranya sebelum putranya kembali sadar dan menangis merasakan perih luar biasa di tangan kanannya yang berdarah akibat ulahnya sendiri.
Flashback off.
...
Love is not an item that we can buy, exchange or sell, but love is a feeling that we must enjoy.
Too much love will surely disappoint you. Don't hate it, because from there you learn not to disappoint others. It was love at first sight, last sight, and forever sight.
__ADS_1
Cinta bukanlah sebuah barang yang dapat kita beli, kita tukar maupun kita jual tapi cinta adalah sebuah perasaan yang harus kita nikmati.
Cinta yang berlebihan pasti akan membuatmu kecewa. Janganlah kamu membencinya, karena dari sana kamu belajar untuk tidak mengecewakan orang lain. Itu adalah cinta pada pandangan pertama, pandangan terakhir, dan pandangan selamanya.