My Fantasy Voice

My Fantasy Voice
Karakter Ice


__ADS_3

When your desire is strong enough, it will appear that you have the superhuman strength to achieve it.


Because like the highest reward for a hard worker is not what he gets from the job, but how much he develops with his hard work.


Ketika keinginanmu cukup kuat, kamu akan tampak memiliki kekuatan manusia super untuk mencapainya.


Karna seperti penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi seberapa berkembang ia dengan kerja kerasnya itu.


...


Pagi hari di sekolah SMA Garuda.


"Sayang jangan lupa makan bekalmu oke."


"Siap yah."


Bagaskara terkekeh melihat wajah putranya itu, dia sengaja membuatkan bekal karna takut anaknya itu makan jajan sembarangan di kantin.


Sama seperti Rain, karakter yang ia masuki juga tak tahan dengan semua makanan pedas, jika dia makan makanan pedas maka lambungnya akan sedikit bermasalah dan sakit perut hingga membuatnya pingsan.


Itulah alasan Bagaskara membuat bekal untuk putra kesayangan.


Setelah di antar dengan mobil oleh ayahnya Rain melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbang sekolah, namun matanya tak sengaja menangkap suilet familiar yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


Matanya membulat saat bertatapan dengan orang itu.


"Ice..."


...


"Kau kenapa?"tanya Percy melihat Rain yang mengetuk meja dengan menyangga wajahnya dengan satu tangannya seperti sedang memikirkan sesuatu.


Siapa sangka kalo mereka berdua akan sekelas bukan?


Benar kata orang, di dunia ini semua hal bisa menjadi sempit ketika manusia mencari tau luasnya dunia dengan kebodohannya.


"Aku memikirkan Ice..."


Ucapan Rain membuat Percy terkejut.


"Jadi musuh kita juga ada di sini?"


"Percy, ingatlah kalau kita semua menjadi karakter yang berbeda, dan masing-masing kehidupan mereka juga adalah hal wajar untuk di rubah, aku yakin karakter Ice di sini tak sama dengan karakternya di dunia fantasy."ucap Rain.

__ADS_1


"Kenapa kau begitu yakin huh?di masa lalu ataupun sekarang dia masihlah sama yaitu ingin membunuhmu."


Jujur saja Percy masih belum percaya kalau Ice bisa menjadi orang baik.


"Tapi di dunia ini dulu dia begitu menyayangi dan menjagaku seperti seorang kakak yang melindungi adiknya, kau tak pernah tau karakter dia di masa laluku..."ucap Rain sendu.


Perkataan Rain membuat Percy terdiam, dari awal dia memang tak bisa mempercayai Ice tapi Rain yang seolah selalu membela membuktikan seberapa mereka berdua dekat dulu di masa lalu.


"Bisa kau ceritakan dia seperti apa?maaf mungkin karna aku tak pernah mengenalku aku jadi bersikap menghakimi."ucap Percy yang merasa bersalah setelah melihat tatapan terluka Rain.


Rain mengigit bibir bawahnya lalu menatap kearah jendela di sampingnya, dimana langit mulai terlihat mendung.


"Intinya aku tak akan pernah bisa membenci sosoknya, dia bukan seorang teman biasa tapi dia juga soulmate dan saudaraku.


Setiap hari aku selalu mengalami rasa sakit tapi saat bersamanya, walaupun kami hanya berbicara dia menyembuhkan luka itu secara perlahan.


Aku benar-benar tak mengerti bahwa berada di dekat teman bisa mengubah pandangan dan menyerap energi dukungannya, waktu itu adalah hari di mana pertama kali aku tertawa hanya karna leluconnya.


Aku...tidak bisa membencinya, tidak bisa meski kalian membencinya atau sekarang dia telah berubah aku tetap tak bisa."


Percy mengerti, ini adalah ucapan yang selama ini pendam oleh Rain.


Dia tak menyangka bahwa ada dua orang yang sangat tulus memberi kasih sayang atau sama lain, namun karna sebuah perbedaan mereka terpisah oleh namanya suatu perubahan.


"Rain..."ucap Percy sambil menepuk pundak anak itu.


Rain menoleh dan matanya membulat saat melihat soso yang di temui di gerbang sekolah kini berada di depan kelasnya.


"Sepertinya kalian berdua memang di takdirkan bertemu."ucap Percy.


Awalnya dia juga tak menyangka, namun melihat seorang guru dan pemuda berambut grey yang berjalan di belakang, membuatnya yakin kalau pemuda itu adalah anak baru di kelasnya.


"Baiklah anak-anak, kita kedatangan murid pindahan baru, Ice kenalan dirimu di depan teman sekelasmu."


"Baik pak."


...


Sekolah adalah momen yang pernah di impikan oleh Rain sejak kecil.


Dulu di homeschooling, keluarganya memang tak menganggapnya tapi sedikit menaruh kepercayaan bahwa dia memang anak yang tak berguna, kakak nya pernah bilang.


'Kau sudah tak berguna, tapi gunakan otakmu untuk pintar agar tak menjadi bodoh selamanya.'

__ADS_1


Sedikit ada kata menyakitkan tapi Rain tak pernah mempersalahkannha, saat homeschooling guru privatku sellau memuji dan mengakui kalau dia anak pintar, biasanya dia akan di beri hadiah permen oleh gurunya itu berbeda dengan kakaknya yang memang berpendidikan di luar dan mengambil banyak prestasi di sekolah akan mendapat hadiah mewah dan besar yang di berikan oleh orang tuanya.


Tak lupa pujian yang tiada henti setiap akan makan malam.


Ibunya juga tak pernah luput untuk selalu membandingkannya.


'Coba lihat kakakmu!dia adalah anak yang lebih membanggakan dari pada kau!'


Ya...


Rain sudah terbiasa.


Jadi bisakah ada obat yang membuatnya melupakan ingatan atau membuatnya amnesia.


Sayangnya obat itu tak pernah ada atau di buat.


Layaknya orang yang terkena sindrom langka yang tak pernah bisa sembuh karna obatnya tak dibuat sama halnya perasaan Rain yang ia telah pendam selama ini.


"Rain kau melamun?ada apa?"lagi-lagi Percy memergoki anak itu melamun di tengah pelajaran.


Sayangnya di sini dia tak bisa membaca pikiran Rain karna kekuatan hilang di dunia ini.


Dia jadi sangat merindukan terbang dan memiliki sayap.


Rain sedikit tersentak namun ekspresinya tetap tenang.


"Aku baik-baik saja."


"Tapi kau seperti...."


"Seperti apa?aku hanya merasa dejavu itu saja, seolah aku kembali merasakan rasa kehidupan sebelumnya.


Lebih tepatnya semasa aku hidup dan belum mati, seberapa aku lelah dan menyerah dan ingin kembali pada Tuhan, sayangnya Tuhan sangat baik hingga terus memberiku kesempatan, apa kau tau rasanya kesempatan kedua? Ini adalah kehidupan keduamu setelah aku mati dua kali..."


...


Few people want to admit, simplicity is the greatest wealth in this world: a gift of nature. And most important of all is his courage. Simplicity is honesty, and courage is sincerity.


Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini: suatu karunia alam. Dan yang terpenting diatas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan.


Seberani apa kau menentangnya?


Selama takdirmu belum habis maka kehidupanmu juga belum berakhir meski kau mencoba pergi darinya.

__ADS_1


__ADS_2