
No matter how strong a person is, he must have cried, and the people who made him cry were the people he loved the most.
Sekuat-kuat seseorang pasti dia pernah menangis, dan orang-orang yang membuatnya menangis adalah orang yang paling disayanginya.
Kau tidak akan pernah sekuat itu ketika ribuan jarum menusuk belakang punggungmu.
Kekuatan hanyalah topeng kesadaran dan ketika aku menangis aku hanya sedikit merasa menjadi kuat.
Ketegaran itu di hati bukan di wajah, percuma yang menyembunyikan kesedihan dan luka di balik senyummu tapi hatimu terkoyak oleh ribuan pisau tak kasat mata dari seseorang yang membuatmu terluka parah.
...
"Nah kita sudah sampai..."
Ucapan Bagaskara menyadarkan Rain jadi perjalanan mereka sampai kerumah baru mereka.
"Ayah ini...."
Rain membulatkan matanya saat melihat sebuah rumah yang dulu menjadi tempat tinggalnya.
Dimana rumah itu menjadi tempat lukanya, dan rasa kesepian yang amat menyiksa.
Sementara Bagaskara yang tidak tau sedikit panik melihat wajah Rain yang pucat.
"Rain kau baik-baik saja kan?"tanya Bagaskara.
Rain mengeleng, dengan terpaksa dia menunjukkan senyum palsunya seperti sebuah senyuman yang sama ia berikan kepada keluarganya untuk tetap kuat.
"T-tidak ayah, mungkin Rain hanya benar-benar capek hari ini."
"Yaampun nak,apapun kegiatan sekolahmu jangan sampai memberatkan fisikmu, manusia butuh istirahat tidak semua orang yang berkerja keras untuk mengejar apa yang di mau harus memaksa dirinya sendiri tapi lebih baik jalani dengan tenang dan ikuti alurnya saja karna dengan menyia-nyiakan waktu hidup masa muda mu kau sedikit keliru."
Rain mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan ayahnya.
"Em maksud ayah?aku keliru dimana?"
"Terkadang masa muda itu di habiskan untuk bersenang-senang tapi manusia yang kecanduan akan kebebasan dan melewati batasnya itu sama saja merugikan dirinya sendiri dan manusia yang bekerja keras melebihi batas kemampuannya tetap salah, intinya jangan gunakan waktu melebihi kapasitas waktumu ,ada saatnya kau memikirkan waktu santai dan padamu dan merendahkan kapan kau terakhir kali bersantai."ucap Bagaskara memberikan petuah logika bagi anaknya.
Sedangkan Rain tersenyum karna mengerti dengan arti makna perkataan ayahnya, ya setiap kata-kata itu meresap di pikirannya.
"Ayah sangat pintar!ayah seperti seorang ilmuwan yang mampu menguji sesuatu yang ada dalam diri manusia."puji Rain berdecak kagum dengan rangkaian ucapan ayahnya membuat Bagaskara sendiri gemas.
"Lain kali jangan memaksakan dirimu lagi oke."
__ADS_1
"Oke!"
Untuk sesaat Rain bisa melupakannya tapi dia tak pernah tau...
Karna luka lama itu masih ada.
Kalau tetangganya adalah...
Rumah keluarga lamanya sendiri.
...
Keluarga itu seperti sebuah lilin, yang bercahaya menerangi kegelapan ketika di nyalakan dengan korek dan akan mati saat lilin telah habis.
"Ayah aku merindukan Aiden."ucap Marcel pada keluarganya yang saat ini tengah makan malam.
"Marcel, adikmu sudah tenang tolong jangan bicarakan tentangnya saat makan."tegur sang ibu.
Diana juga tak bisa berbuat apa-apa.
Saat putra bungsunya benar-benar meninggalkan mereka, Diana selalu pergi ke kamar putra bungsunya dan membersihkannya setiap hari.
Dia merasakan penyesalan dan kekosongan di waktu yang sama.
"Apa ibu masih membencinya?bahkan setelah dia meninggalkan kita!"ucap Marcel yang salah paham dengan ucapan Diana.
"Nak..."
"IBU ADALAH PEMBUNUH ADIKKU!AKU JUGA!KITA SEMUA ADALAH KEKUARGA PEMBUNUH!!!"
"MARCEL HENTIKAN OMONG KOSONGMU!"
"Omong kosong?ayah masih belum mengerti kejadian beberapa hari lalu?
Kalau adikku telah pergi selamanya, dia tak mengucap perpisahan, dia tak membuka matanya, dia tak memukulku!rasanya hati ini benar-benar kosong, aku selalu menangis tiap malam berharap dia datang ke mimpikan dan saat bertemu aku ingin sekali memeluknya, meminta maaf bahkan bersujud di bawahnya tapi rupanya dia terlalu membenciku hiks..."ucap Marcel meluapkan segala kekesalannya.
Sebuah perasaan yang di pendam akan menjadi emosi yang tak terkontrol saat di keluarkan, begitu halnya Marcel yang merasa amat sangat kehilangan seorang yang dulu membawa pelita dalam hidupnya tapi telah ia sia-siakan.
Sekalipun dia menangis darah dan setiap kata maaf ya hanya menjadi butiran debu itu tak dapat mengambilkan adiknya yang telah pergi.
Mereka telah menyesal sayangnya penyesalan itu terlambat.
"Ayah mengingatnya dengan jelas, walaupun hati telah berganti dan waktu akan berubah ayah tak akan pernah melakukan kenangan pahit yang membekas di hati kita dan justru yang lebih terluka adalah Aiden bukan kita, sudah sepantasnya kita tak bahagia dan sekarang keluarga ini di ambang kesengsaraan jurang kegelapan untuk selamanya."ucap Alvin.
__ADS_1
Kenangan lama itu seperti buku usang namun tetap rapi sampulnya sekadangkan buku baru walaupun masih bersih bisa cepat sobek jika ada yang menyobeknya.
Ego adalah salah penyebab kerusakan hati manusia dan kekosongan seperti gelas pecah yang tak bisa diisi karna sebuah penderitaan dari penyesalan tak akan pernah cepat berakhir.
...
Penyesalan dan kesalahan. Itulah yang membentuk kenangan.
Jika kamu harus menghidupkan kembali hidup persis seperti sebelumnya, keberhasilan dan kegagalan yang sama, kebahagiaan yang sama, kesengsaraan yang sama, campuran komedi dan tragedi yang sama, apakah kamu mau? Apakah itu layak?
Terkadang ada momen sedih dan lucu bersamaan.
Dan Rain memikirkan hal itu, dimana dia akan bertatap muka dengan salah satu keluarganya tanpa dari mereka yang saling mengenal.
Dirinya juga tak mengerti, saat ayahnya bilang dan menyuruhnya untuk memberikan bingkisan kue pada tetangga baru.
Dan karna dia tak bisa menolaknya dia akhirnya memutuskan pergi walau hatimu menyuruhnya tetap tinggal atau diam.
Kini dia berdiri di depan rumah lamanya.
Warna dan rasa masih sama.
Clek!
"Oh maaf kan aku karna tidak mendengar bel rumah barusan."ucap seorang wanita berpakaian rapi tapi entah kenapa wajahnya terlihat sangat letih dan sendu.
Mata Rain tak sengaja bersitatap dengan mata coklat itu.
Dia tertegun untuk beberapa saat kemudian mengelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pemikiran nya.
"Hai Tante, namaku Rain aku adalah tetangga baru."
Wanita itu sedikit binggung dengan pemuda bermata biru yang tadi diam cukup lama hingga memberi mereka jeda akan tetapi dia menunggunya.
Pemuda berperawakan setara dengan putranya bedanya mungkin hanya tinggi, dan wajah rupawan dan mata biru serta bulu mata yang lentik.
Mungkin pemuda itu akan sangat manis jika tersenyum.
"Yaampun jadi kamu tetangga baru, maafkan Tante juga yang lama membuka pintu ya sayang."perkataan Diana berubah lembut lagi-lagi membuat Rain tersentak.
Seumur hidup dia tak pernah mendengar ucapan lembut dari ibunya.
Apa keluarganya telah berubah?atau melupakan kepergiannya?
__ADS_1