My Fantasy Voice

My Fantasy Voice
Bertemu Percy


__ADS_3

"It's funny when blood ties no longer have any meaning, when in fact being with a stranger feels much safer and more enjoyable."


"Lucu rasanya ketika ikatan darah itu tak lagi memiliki arti, jika nyatanya bersama orang asing jauh terasa lebih aman dan menyenangkan hati."


Note: Rain.


....


Hari ini Rain dan Bagaskara tengah memasak kue buatan mereka.


Entah apa yang membuat ayah dan anak itu memiliki ide membuat kue di saat musim panas, katanya Bagaskara ingin merayakan pesta kecil di tempat tinggal baru mereka dan Rain yang persis seperti anak beruang itu hanya menurut saja.


"200 gram tepung terigu, 200 gram gula pasir, susu , 4 butir telur ayam, baking soda secukupnya, 100 ml air, margarin secukupnya."


"Ayah susu vanila atau coklat?"tanya Rain.


Bagaskara diam memandang wajah putranya yang sudah seperti adonan kue saja, dirinya juga tak kalah berantakan di tambah keadaan dapur yang sudah seperti terkena gempa mendadak pagi ini.


"Ayah tidak tau."ucap Bagaskara.


"Kok ayah gak tau sih?"


"Campurkan saja susu kesukaanmu."


"Rain suka susu rasa stoberry!"


"Oke kita bersiap sekarang dan pergi ke minimarket untuk membeli bahan lainnya."ucap Bagaskara sambil menarik tangan putranya itu untuk membersihkan diri.


Dirinya benar-benar tak tau membuat kue jadinya mereka langsung praktek dengan nonton YouTube, membuat kue sudah sepusing ini apalagi mencoba membuat nastar mungkin Bagaskara akan les tata boga dulu.


Tak lama mereka sudah siap dengan pakaian baru dan wajah serta rambut yang sudah tak di taburi bedak tepung.


Rain memakai celana jins berwarna hitam dan kaos putih dengan jaket berwarna berwarna biru yang senada dengan warna matanya.


Rain tampak sangat tampan dalam balutan style cool itu.



Sedangkan seorang pria paruh baya di sampingnya memakai sweater berwarna abu-abu dan celana jens berwarna hitam.


Tampak sederhana namun tak menurunkan ketampanan serta kewibawaan Bagaskara karna wajah pria itu selalu berekspresi tegas dan tatapan yang mengintimidasi.



"Rain ayo, pagi hari ini ayah akan membawamu shopping sambil jalan-jalan merasakan weekend yang menghilangkan stres pelajarmu!"

__ADS_1


...


Setiap orang pasti memiliki kesibukan dan waktu luang, ketika orang yang memiliki jabwal sibuk di hari Senin sampai Sabtu maka saat Minggu mereka akan menghabiskan waktu luang mereka istirahat di rumah.


Karna pada dasarnya manusia tak bisa berkerja melebihi batas atau melewati waktu istirahatnya, karna itu akan membuat stres berat dan kelelahan hingga membuat tubuh drop karna kesehatan menurun drastis.


Rain dan Bagaskara sampai di depan minimarket yang kebetulan sepi.


Setelah membuka pintu Rain langsung berlari masuk kesana menghiraukan teriakan Bagaskara yang menyuruhnya hati-hati.


Rain begitu tak sabar menikmati susu stoberry kesukaan karna dulu di jarang sekali membeli karna tak pernah di kasih uang jajan.


Ya itu juga ulah masa lalu orang tuanya sih dan dia tak memikirkan hal itu lagi yang penting adalah hari ini adalah kebahagiaannya dan mendapatkan apa yang ia mau.


Hingga...


Bruk!


Rain tak sengaja menabrak salah satu pengunjung minimarket yang mau keluar, naasnya Rain yang terjatuh ke lantai sedangkan pemuda itu masih berdiri kokoh bak tembok yang keras.


Namun sebagian belanjaannya jatuh dan berserakan di bawah kaki Rain.


"Astaga Rain makanya hati-hati!"ucap Bagaskara yang baru tiba di sana langsung membantu anaknya itu berdiri dan meminta maaf pada pemuda yang berusan di tabrak Rain.


Sementara pemuda itu hanya diam dan tersenyum tipis tanpa sengaja dia bertatapan dengan mata Rain entah kenapa dia seperti mengenal sosok Rain lama.


"Tidak apa-apa paman, aku juga salah apa kau terluka?"tanya pemuda berwajah kelinci dengan style Hoodie berwarna hitam begitu juga bawahnya.


Rain terpukau sejenak melihat pemuda itu.


Percy?


"Rain..."melihat anaknya bengong membuat Bagaskara binggung.


Namun Rain berhasil mengembalikan kesadarannya sendiri.


"Aku baik-baik saja maafkan aku yang menabrak mu dan membuat belanjaan jatuh semua."


"Itu tidak masalah, lain kali hati-hati kau bisa saja jatuh keras dan terluka tadi."ucap Percy tersenyum manis.


Melihat itu Rain mulai yakin bahwa sosok pemuda di depannya itu adalah Percy, sekilas dia mengerutkan keningnya saat melihat kalung emas dengan liontin kalajengking emas yang di pakai atau lebih tepatnya melingkar di leher putih pemuda itu.


"Ayo Rain."ajakan sang ayah kembali menyadarkan setelah membantu Percy membereskan semua belanjaan yang jatuh tapi Rain tak serasa tak berpisah lagi dengan Percy.


Dia telah bertemu dengan adiknya itu tapi di sisi lain dia binggung harus melakukan apa.

__ADS_1


Apa dia harus mengatakan yang sebenarnya?


Lalu apa pemuda dan ayahnya akan percaya?


"Kau tampak binggung, ada apa?"tanya Percy.


Begitu halnya Bagaskara yang entah kenapa sedikit khawatir.


"Ayah bisa aku membawanya ke suatu tempat agar kita bisa berbicara berdua."


"Tunggu apa kalian berdua saling mengenal?"


"Rain langsung mengangguk antusias dan menarik tanpa Percy yang bengong sama seperti Bagaskara yang bengong karna di tinggalkan sendirian disana.


...


"Percy ini aku Rain."


"Kau tau namaku?"


"Tentu saja aku mengenalmu karna kau adalah adikku."


"Huh?"


Melihat ekspresi Percy membuat Rain menghela napas panjang, sepertinya dia melupakan petuah sosok Azari yang juga ada di dunia ini.


"Aku tau sulit mengerti semuanya, karna sebagian ingatanmu telah di hapus tapi aku yakin kau masih merasakan hubungan saat berada di dekatku kan?seperti merasa familiar atau sesuatu yang aneh, itu benar Percy kita memang pernah bertemu dan kalungmu itu bukti bahwa kalajengking emas dan Chloe membutuhkan bantuan kita agar bebas, kita harus kembali ke tempat asal kita....


seharusnya kita tak berada di sini, rasanya bukan diri kita ketika kita mengantikan aktor figuran dari alur cerita sebenarnya."ucap Rain panjang lebar, dia tau perkataan pasti sulit di mengerti dan mungkin Percy akan menganggap orang asing yang gila.


Namun...


"Aku tau itu kau Rain, penjelasanmu membuatku tertawa lucu sekali."ucap Percy menahan tawa.


"Hah!kau!"


"Kau tau aku tipe mendengarkan perasaanku di banding mendengarkan pikiran logis yang terkadang memundurkan diriku mencari kebenaran di balik fakta kebenaran.


Aku bukan tipe yang mudah percaya di depan panggung tapi aku percaya pada apa yang terjadi di belakang panggung."ucap Percy mengembangkan kelincinya.



(Bunny smile so cute.)


...

__ADS_1


Your biggest weakness is when you give up and your greatest power is when you try one more time.


(Kelemahan terbesarmu adalah ketika kamu menyerah dan kehebatan terbesarmu adalah ketika kamu mencoba sekali lagi.)


__ADS_2