My Fantasy Voice

My Fantasy Voice
Masa lalu


__ADS_3

Flashback 5 tahun yang lalu.


Rain kecil membuka kedua matanya dan terlihat wajah wanita yang selama ini memberinya banyak cinta.


Dulu Rain tak pernah tau, apa yang kebenaran yang membuatnya bisa ada di dua dunia, setiap kali dia tidur maka dia akan bermimpi mempunyai kedua orang tua dan kebebasan yang selama ini dia harapkan.


Rain kecil yang lugu hanya menerima itu walaupun ia sedikit binggung tapi hal itu tak masalah baginya.


Baginya sosok wanita yang kini tengah tidur dengannya adalah seorang ibu yang sangat amat menyayanginya.


Rain yang masih berumur 5 tahun itu  perlahan akan menjadi sosok remaja yang tampan.


Dan meski dunianya tak memberikan apa yang dia mau tapi dia bisa mendapatkannya disini , sesuatu yang berharga dan perasaan yang dia rasakan sekarang sudah cukup membuatnya senang dan sangat bahagia.


Dia tak mengharapkan lebih.


Apapun itu tak akan membuat berpikir dewasa dimana pikirannya masih kecil dan terkadang kekanakan tapi Rain anak yang menggemaskan.


Cup!


"Pagi sayang, kau sudah bangun dari tadi hm?"


Suara lembut itu menyadarkan dari aksi memandang wajah wanita yang menjadi ibunya saat ini.


Jika diperhatikan wajah wanita itu mirip sekali dengan ibunya aslinya di dunianya.


"Pagi juga ibu...Rain bangun karna lapar."ucap anak itu polos.


Mata birunya berkedip membuat Meira sendiri gemas dengan putranya sendiri.


"Ya ampun kenapa tak membangunkan ibu dari awal sayang, ibu tak mau putra menunggu lama dan kelaparan lalu sakit perutnya."ucap Meira sambil mengelus surai lebat Rain yang sangat halus di tangannya.


Hal itu membuatnya nyaman untuk selalu mengelus kepala putra kecilnya.


Rain mengeleng kecil lalu tersenyum khasnya.


"Rain tak mau ibu kurang tidur, jadi Rain tak mau menganggu ibu."ucap anak itu tulus membuat Meira sendiri tersentak.


"Sayang kamu anak yang baik sekali, ibu dan ayah bangga padamu jadi jangan cepat tumbuh besar ya."ucap Meira mencium kedua pipi tembem putranya.


Kedua ibu dan anak itu lalu beranjak dari tempat tidur, tentu Meira ingin merasakan dirinya menjadi seorang ibu sungguhan oleh karna itu dia menggendong Rain dan membawanya kekamar mandi untuk menandainya karna takut anak itu kenapa-napa saat mandi sendiri.


Padahal Rain kecil sudah bisa merawat dirinya sendiri dari kecil karna ibu kandung sendiri di dunianya tak mau merawatnya.


Rain kecil sudah tau bahwa dirinya memang tak memiliki suara namun disini dia bisa berbicara bahkan tertawa.


Rain sangat betah tinggal di mimpinya bahkan dia akan menangis saat dia terbangun dan tak ada siapapun yang menemaninya seperti di mimpinya, rasa kesepiannya itu akan kembali menyiksanya dan dia sangat tak suka hal itu.


"Rain mau keramas juga?"


Rain hanya mengangguk kecil hingga membuat Meira terkekeh.

__ADS_1


"Baiklah kita pakai shampo bau stoberry kesukaan Rain."


"Ya!"


...


"Hai Rain!"


Seorang anak yang tengah memeluk seekor kelinci kecil menghampirinya dan menepuk kepalanya yang agak basah sehabis keramas, tapi sebelum tangan itu mendarat ke kepalanya tangan mungil lain telah menepisnya.


"Percy kau sangat tidak sopan pada yang lebih tua!"sentak anak lain dengan rambut yang di sisir rapi, Rain ingat kalau anak itu sering menyebut dirinya tampan seperti anak itu.


"Sakit tau kak Saurus!habisnya kenapa aku harus jadi yang bontot, panggilan itu cocok dengan Rain!"ucap anak kelinci itu tak terima sambil mengelus tangannya yang ditepis tadi.


Saurus tak peduli dia lalu memegang tangan Rain.


"Rain yuk ikut kakak!"ucap Saurus sambil menarik tangan Rain meninggalkan Percy yang berteriak memanggil namanya.


...


Ketiga anak itu kini berada di luar bersama empat anak lainnya.


"Ice bisa kau buat boneka salju?"tanya Percy pada anak yang lebih pendek dari mereka.


"Yak! panggil aku kakak karna aku lebih tua darimu meskipun aku pendek!"ucap Ice memonyongkan bibirnya seperti bebek.


Zai anak berkulit pucat itu hanya memutar bola matanya.


"Kak apa kau tak pernah mengaca?tinggi kita hampir sama."ucap Ice.


"Hah sudahlah, bagaimana kalau kita bermain petak umpet saja?"usul Naries.


"Ide bagus, ayo hom Pi pa buat yang jaga nanti."ucap Saurus.


Ketujuh anak itu membentuk posisi melingkar dan menyanyi lagu anak.


"Hom Pi pa ala terong gambreng!"


"Rain dan Ice keluar dulu."


"Hom Pi pa ala jengkol gambreng!"


"Yeay aku keluar!"


Kini tinggal Zai dan Percy.


Mereka lalu adu suit dan yang menang adalah Percy jadi yang jaga Zai karna dia malas gerak.


"Aku hitung sampai sepuluh, dan kalian semua sembunyi."ucap Zai menghadap kearah pohon besar yang ada disana.


"Satu....dua...."

__ADS_1


Sontak yang lain lalu cepat berlari untuk mencari tempat sembunyi yang pas.


....


"Rain kau sembunyi dimana?"tanya Ice pada anak seumurannya yang masih berdiri disana, terkadang mereka berdua sering di katai kembar karna selalu bersama seperti lem dan perangko.


Wajar saja sih karna mereka lahir di bulan yang sama dan pribadi Ice dan Rain itu sangat cocok jadi mereka berdua adalah soulmate.


Rain yang hiperaktif dan Ice yang kalem.


Rain mengaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menghampiri akar pohon yang besar disana.


"Bagaimana kalau kita bersembunyi di bawah sini, sepertinya hanya tempat ini saja yang aman."ucap Rain.


Ice mengangguk lalu mengikuti sahabatnya itu untuk bersembunyi di bawah akar pohon yang sangat besar.


Mereka berdua lalu duduk hingga Rain merasa bahwa ada seseorang yang dari tadi mengawasi mereka berdua.


"Ice apa kau merasa ada yang memperhatikan kita?"


Ice mengeleng, tapi matanya memicing saat melihat cahaya ungu yang tak jauh dari tempat mereka.


"Rain lihat!itu apa?"


Rain juga melihatnya, dia lalu berdiri.


"Hei apa yang kau lakukan, cepat sembunyi sebelum di temukan kak Zai!"ucap Ice menyentuh tangan Rain untuk tetap di bawah.


Tapi Rain seolah tak mendengar dan perlahan melangkah ke tempat cahaya ungu itu.


"Rain!"


Tak mau terjadi apa-apa pada sahabatnya, Ice lalu beranjak dari sana menyusul Rain.


Hingga akhirnya mereka berdua sampai ketempat itu.


Kedua sahabat itu saling bertatap satu sama lain lalu melihat kearah batu permata berwarna ungu yang ada di atas batu.


"Ini...."


"Aargghhhh!"tiba-tiba Ice merasa dadanya panas hingga dia berjongkok membuat Rain binggung dan panik.


"Ice, kau kenapa! Ice!"


Rain memegang pundak temannya itu tapi setelah itu dia merasakan aura aneh dan berbeda di dekat Ice.


Hingga....


Jleb!


"Uhuk!"

__ADS_1


__ADS_2