My Fantasy Voice

My Fantasy Voice
Di mulai


__ADS_3

Moment baru mungkin mengobati kerinduan tapi sosok masa lalu yang pernah hadir tak pernah hilang dalam memori otak, seperti sosok sang ibu yang tak pernah tergantikan di hati Taehyung.


Namun bukan berarti kita juga berhenti melangkah saat moment itu pergi melainkan melangkah dan terus melangkah lagi untuk menemukan moment baru.


Kehidupan itu seperti lembaran kertas, dan beberapa lembar di balik untuk pergi ke halaman selanjutnya.


Banyak lembaran tapi tak akan pudar untuk di ingat kembali karna kita masih bisa membukanya tapi seseorang yang menutup lembaran itu maka dia akan tertinggal membaca atau tidak tau apa lembaran berikutnya.


"Ayah aku sudah bahagia, bersama


orang-orang baik yang selalu berada di sisiku dan memiliki sosok orang tua yang luas biasa sepertimu dan ibu, aku juga memiliki teman terbaik yaitu Garfield dan aku bersumpah demi nyawaku inilah adalah janji sang pemilik naga bahwa aku akan melindungi orang-orang yang lemah."


...


Pagi hari di sebuah tempat yang di huni oleh tujuh pemuda tampan.


Tampaknya ketujuh pemuda itu begitu terlelap dalam mimpi tanpa menghiraukan alarm di atas meja laci yang terus berbunyi dari tadi.


Hingga salah satu dari mereka meregangkan badannya dan tak sengaja menendang punggung Hyung tertuanya.


Kejadian selanjutnya pasti pembaca tau.


Bruk!


"ADUH!YAK JHOPE!"ucap Seokjin menggelegar dan membuat semua orang di sana bangun.


Ya tadi malam mereka semua memutuskan untuk tidur di ruang tamu sambil nobar film horor.


Di tambah ada dua anggota yang paling penakut siapa lagi kalau bukan Seokjin dan Jhope.


Jadilah mereka semua ketiduran di atas karpet berbulu itu kecuali Hyung tertuanya yang tertidur dengan memeluk popcorn di atas sofa eh paginya malah kena tendang dari bawah oleh kaki panjang Jhope.


Ya kalian bayangkan saja lah.🗿


"Apa sih Hyung."tanya Jhope dengan wajah tampannya yang habis bangun tidur.


Ya ketujuh pemuda itu memang selalu tampan.


"Kau berani sekali menendangku!aduh punggungku encok sebagai hukumannya kau siapkan sarapan pagi ini!"


"Heh?tunggu, apa!"


"Hyung jika Jhope Hyung yang masuk di akan membakar dapur!"ucap Jungkook mengompori.


"Sudahlah kalian pagi-pagi ini ribut menganggu tidurku saja."ucap Suga dengan swag nya.

__ADS_1


"Pagi apanya?ini sudah jam sebelas memang kalian itu kebo semua!"ucap Jimin.


"Apa kau tak punya kaca untuk melihat wajah gembel mu itu Jim?"sarkas Taehyung yang sepertinya ketularan kata-kata pedas Suga.


Jimin yang mendengar itu sontak terkejut dramatis, dimana temannya yang selalu bersikap lugu dan tatapan polos itu sekarang menatapnya tajam menakutkan bak anak harimau yang ingin memangsa anak itik.


Huu..membayangkannya saja membuat Jimin merinding bagaimana anak singa saja bisa mengoyak leher rusa dengan ganas.


Diam-diam Suga tersenyum tipis melihatnya seperti ayah yang bangga dengan anaknya.


"Nah dengarkan itu...."ucap Suga.


Jungkook memutar bola matanya malas, padahal baru bangun saja para Hyungnya sudah kerasukan setan pagi.


Eits jangan beritahu pada yang lain.


Sedangkan Namjoon yang dari tadi diam hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan teman-temannya seolah ia satu-satunya anggota yang normal.


"Hyung apa kau libur bekerja hari ini?"tanya Namjoon pada Seokjin.


Pemuda yang berbahu lebar itu menoleh ke arahnya dengan mengerutkan dahinya lalu dia tersenyum lebar.


"Tadi malam nenek menghubungiku dan mengatakan akan tutup restorannya hari ini karna dia akan menjemput keponakannya yang baru saja tiba di bandara.


Tapi dia memberiku uang lebih di gaji pertamaku karna aku telah menambahkan resep baru di restorannya."


"Kue rasa tiramisu!"ucap Seokjin sambil berdecak bangga pada dirinya sendiri membuat Taehyung kagum.


"Tak ku sangka walau Hyung baru datang dan beradaptasi dengan dunia manusia, Hyung mempelajari cara memasak dengan sangat baik di banding aku yang pernah mempunyai banyak pengalaman di dunia ini tapi tak pandai memasak."ucap Taehyung.


Mendengar hal itu Jimin merangkul soulmatenya.


"Itu berarti kita harus belajar pada Jin Hyung Vee, cita-citanya kan jadi chef terkenal!"ucapnya di selingi gurauan.


Membuat mereka semua lalu tertawa karna alasan sederhana hingga tiba-tiba suara Namjoon menginterupsi mereka.


"Apa hari ini kita akan pergi ke rumah anak itu?lebih cepat lebih baik kan, apalagi urusan ini menyangkut nyawa seseorang yang di pertaruhkan, dan kita harus membantu mereka."ucap Namjoon.


Mereka semua mengangguk mengerti.


Para guardian tidak bisa menunda waktu lagi.


Bahaya terkadang datang menghalangi mereka tetapi mencari akar permasalahan ibarat membuka kamus dan mempelajari rumus matematika lebih baik.


Karna sebuah pepatah mencegah lebih baik dari pada mengobati.

__ADS_1


...


Di sisi lain, di sebuah mansion yang di huni oleh anak dan ibu itu.


Keadaan tampak sunyi dan hening seolah tak ada seorang pun yang menghuni tempat itu, entah apa terjadi.


Hingga...


"Nathan!dimana kamu?Nathan!"


Suara Diana menggema di setiap sudut ruangan yang cukup luas, wanita itu tampak panik saat tak mendapati sang putra di manapun.


Dia terus mencari bahkan berkeliling mansion demi menemukan Nathan tapi hasilnya nihil, dan pikiran negatif mulai muncul kalau putra semata wayangnya itu berbuat nekat untuk kabur dari rumah atau pergi meninggalkannya.


Diana bersumpah dia akan mati saat itu juga tanpa putranya.


Di tengah kebingungannya.


Tiba-tiba...


Dia mendengar suara langkah kaki dari atas tangga, padahal dia tadi pagi sudah mengeceknya dan tidak ada siapapun namun suara langkah yang samar itu semakin jelas seolah seseorang itu hanya sedang memainkannya dengan bolak-balik ke kanan dan kekiri dan berputar-putar secara acak.


Tanpa pikir panjang Diana langsung berlari menuju asal suara itu.


Suaranya makin dekat.


Dan semakin dekat.


Akhirnya dia menemukan sang putra yang berdiri mematung di ujung lorong tangga memandang kearahnya dengan tatapan tajam.


Diana yang merasa aneh mencoba menyingkirkan pikiran negatifnya dan mulai mendekati Nathan.


Tetapi...


Nathan justru berjalan cepat kearahnya sambil mengulurkan kedua tangannya, mata Diana membulat saat putranya itu mencoba mencekik lehernya sambil mendorongnya di dekat ujung tangga seolah ingin menjatuhkannya dari atas tangga.


Diana yakin ia akan mengalami cedera yang cukup fatal jika jatuh dan dia berusaha menghentikan Nathan, tetapi sayangnya usahanya sia-sia karna tenaga yang di miliki putranya itu sangat kuat.


Apa yang harus ia lakukan!


"Nathan...ini ibu nak hei sayang...argh sakit!"ringisan dari mulut Diana terdengar saat ia merasakan kuku tajam Nathan yang menggores di lehernya saat mencekiknya.


Itu sungguh sakit tapi dia tak bisa melawan putranya sendiri!


Dirinya yakin bahwa di hadapannya kini bukankah putranya tapi iblis yang selalu menganggu Nathan sedang mengendalikan putra malangnya.

__ADS_1


Dia hanya berharap bahwa dua orang yang di temuinya kemaren datang menolongnya sekarang.


__ADS_2