My Fantasy Voice

My Fantasy Voice
Kecemasan


__ADS_3

Hal yang membentuk sebuah kepercayaan adalah dari persahabatan sejati.


Sempurna apapun hidupmu ketika kau tak memiliki teman maka kau akan tetap merasa kesepian hidup di dunia ini.


Tidak ada yang namanya seseorang bisa bangkit seorang diri.


Rain merasakan hal itu.


Di mana saat dia mulai nyaman dan cemas bersamaan dengan sahabatnya.


Kecemasan yang ia rasakan bukan alasan karna dia mengerti apa itu arti simpati dan kepedulian sesama makhluk tapi lebih dari apapun.


Dia cemas sekaligus takut akan penglihatan, apa itu nyata?dan akan terjadi?


"Rain!"


Tepukan pada bahunya membuatnya tersentak kaget dan ternyata pelakunya adalah Ice.


Ice yang melihatnya sedikit heran dengan sikap Rain.


Ada apa dengan temannya itu?


"Kau kenapa hm?melamun sesuatu?"


Rain yang merasa dirinya ketahuan terdiam, dirinya tak mau menatap Ice apalagi temannya itu memang selalu bisa membaca kebohongan di kedua matanya.


"A-aku tidak apa-apa."


"Jangan berbohong padaku Rain, kita adalah teman sedari kecil aku mengerti saat kau memikirkan masalah kau akan menjadi pendiam."


Ya ternyata Ice benar, mereka lebih dari teman hingga mengenal sedekat itu dan tau tentang diri masing-masing, mereka adalah saudara.


Rain memejamkan matanya sejenak sedangkan Ice mulai suka memainkan rambut putih Rain yang terasa lembut dan dingin di tangannya.


Posisi mereka seperti ini, kalau Ice duduk di belakang yang ada pijakan tanah seperti tangga hingga membuatnya sedikit lebih tinggi dan Rain yang di bawah tangga.


Ice lalu merangkul leher temannya itu hingga membuat Rain bersandar padanya.


Untuk sejenak Ice begitu kagum melihat paras wajah Rain yang dari dekat berkali lipat lebih tampan dari Saurus.


"Kau sangat tampan Rain..."gumam pelan Ice sayangnya masih bisa di dengar oleh Rain.


Rain membuka perlahan membuka matanya membuat Ice makin kagum dengan mata biru yang seolah menyedotnya ke dalam dan menyejukkan hati siapapun yang melihatnya.


"Aku memang tampan tau."


"Baiklah kau memang keturunan Prince Sun, sekarang katakan apa yang menganggu otak kecilmu itu?"

__ADS_1


"Tunggu, kau bilang apa?!otakku kecil itu artinya aku bodoh begitu!?"


"Tidak maksudku kau masih sangat kecil, anak kecil tidak boleh memikirkan atau ikut campur urusan dewasa."


"Yak aku sudah besar Ice!"


Ice tergelak melihat raut wajah temannya itu.


Rasanya menggoda Rain adalah rutinitasnya sekarang.


"Astaga kau sangat lucu dan manis..."ucap Ice tanpa sadar mencubit pipi chubby Rain hingga membuat temannya itu memekik sakit.


"Aw hentikan!"


"Baik-baik lah bocah besar apa bertanya tapi kau belum menjawabku."


"Apa-apaan panggilanmu itu, membuatku geli saja."


"Oh kau mau lebih geli?"ucap Ice bersiap menggelitiki temannya itu.


"Tidak!jangan..."ucap Rain memohon tanpa sadar matanya memelas karna dia paling tak tahan jika di gelitik seseorang.


"Hahaha kau benar-benar menggemaskan...."ucap Ice lalu mengusap rambut Rain dengan rambutnya gemas.


Tapi hal itu tak membuat Rain risih dan malah membiarkannya saja.


"Ice..."


"Apa sebenarnya penglihatan mu?"tanya Rain mulai serius.


Ice menghela napas lalu tangannya sibuk kembali memainkan rambut Rain.


"Sudah aku bilang bahwa aku berada di ruangan kaca seperti labirin dan memecahkan teka-teki yang sulit, aku tak bisa menafsirkannya tapi perasaanku bahwa suatu saat itu penglihatan ku itu benar-benar terjadi padaku."


"Ruangan kaca dengan teka-teki?jadi kau hanya melihat dirimu tanpa ada orang lain di sana?"


"Ya tidak ada seorang pun di sana, oh ya bagaimana denganmu?"tanya Ice balik membuat Rain terdiam seribu kata.


Dia masih belum ingin mengatakannya.


"Bisa beri aku waktu?"


"Apa kau..."


"Tolong karna aku belum siap menceritakannya."ucap Rain membuat Ice memandang dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Baiklah."

__ADS_1


...


Sementara itu kita bisa lihat Saurus dan Grass yang sedang istirahat di dekat danau.


Saurus yang memainkan trik sihir airnya dan Grass yang melihatnya sesekali bertepuk tangan karna kakaknya benar-benar jago seperti melakukan atraksi pesulap.


"Yak apa maksudmu bertepuk tangan huh?"tanya Saurus memandang heran kearah Grass.


"Kan aku memuji kakak."


"Tapi pujianmu seperti aku melakukan atraksi tau."


"Lah kan kakak memang sedang melakukan atraksi wajar dong aku aduh!hei kenapa menyiram wajahku!"pekik Grass terkejut karna Saurus menyiram wajahnya dengan sihir airnya.


"Ini bukan atraksi bodoh tapi aku sedang melatih sihirku dengan alam, air adalah lambang ketenangan dan untuk menguasai kau harus tetap tenang.


Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku juga mencemaskan sesuatu Grass."


"Tentang penglihatannya itu?"tanya Grass membuat Saurus terdiam.


"Kau tau...?"


"Tentu saja hanya kita berdua yang mendapatkan penglihatan yang paling mengerikan hingga aku tak ingin melihatnya lagi bahkan seumur hidupku.


Kak jika itu akan terjadi pada umat manusia maka dunia fantasy ini akan lenyap selamanya, itu artinya akan bencana besar dan penglihatan itu memperingatkan kita, hal itu memang belum terjadi tapi akan terjadi tak lama lagi."


"Tapi bagaimana kalau kita terlambat mencegahnya Grass?bisa jadi penglihatan itu adalah masa depan atau takdir yang sudah di tetapkan kan?"ucap Saurus ragu, hatinya menjadi bimbang tapi Grass berusaha menyakinkan kakaknya itu.


"Kak apa kau ingat bahwa manusia bukanlah pembuat takdir sepenuhnya dan hanya pencipta nya, tapi kita bisa mengubah nasib dengan apa yang kita lakukan sekarang, kau tenang saja kita mempunyai Naries yang pintar menganalisis, paman Bagaskara yang pandai membuat strategi perang, Rain yang paling kuat di antara kita dan yang lain.


Para guardian adalah kita...dan kita bertujuh telah bersumpah tak pernah meninggalkan satu di antara kita."


Ucapan bijak Grass membuat Saurus tersadar.


Setiap kejadian yang mereka alami bukanlah awal atau akhir masalah tapi babak baru yang membuat mereka makin kuat dan mempererat kebersamaan.


Bukankah pepatah juga pernah bilang, bahwa setiap kejadian selalu menyuruh kita memetik hikmah di dalamnya walau itu sama seperti mencari mutiara di laut yang luas dan dalam.


...


The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.


When life gives you a hundred reasons to be sad and cry, show life that you have a million reasons to smile and laugh.


Where is someone who has been given trust and then says he is ready to carry out that trust but in the end he betrays that trust.


Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan impian (cita-cita) mereka.

__ADS_1


Ketika hidup memberimu seratus alasan untuk sedih dan menangis, perlihatkan pada hidup bahwa kamu memiliki sejuta alasan untuk tersenyum dan tertawa.


Dimana seseorang yang sudah diberikan kepercayaan lalu ia mengatakan siap untuk menjalankan kepercayaan itu namun pada akhirnya ia justru mengkhianati kepercayaan tersebut.


__ADS_2