My Fantasy Voice

My Fantasy Voice
Kesalahan fatal


__ADS_3

Rain panik saat Ice berteriak keras dan menunjuk-nunjuk kearahnya.


Ingin sekali dia memeluk temannya tapi Ice langsung menghindarinya.


Entah kenapa sikap Ice berubah semenjak melihat batu permata berwarna ungu itu.


Tatapan tajam dan kosong saat melihatnya dan dia selalu mengatakan 'pemilik naga harus mati!pemilik naga harus mati!'


Hingga dia melihat temannya itu berdiri dan berjalan mendekatinya.


"Rain apa kau tau bahwa seseorang yang menjadi teman terdekatmu bisa menjadi seorang musuh yang menusuk mu dari belakang?"


"Apa maksudmu Ice?"tanya Rain benar-benar tak mengerti, dia melangkah mundur saat Ice menghampirinya.


Rasa takut itu muncul ketika firasat buruk ada....


Apa yang terjadi pada Ice?


"Biar kuberitahu sebuah kebenaran di masa depan, bahwa orang yang kau anggap teman adalah rival mu di masa depan, dan ibu mu dia adalah seorang wanita yang tega mengkhianati rekannya, dia datang ke tempatku dan membuka segel yang mengurung ku, dia berharap dengan begitu dia bisa merubah masa depan tapi ternyata dia salah kalau aku yang di harapkan untuk mengubah takdir seseorang justru akan menghancurkan takdir orang itu karna aku adalah iblis pemakan jiwa manusia...."


Jleb!



"Uhuk! Uhuk!"


Mata Rain membulat ketika benda tajam berupa pedang yang entah muncul dari mana menusuk jantungnya.


Mulutnya mengeluarkan banyak darah, tiba-tiba dia merasa sangat pusing dan tubuhnya juga gemetar.


Rasa sakit seolah tak ia rasakan tetapi melihat seringai Ice.


Ice?


Ibunya?


Mengkhianatinya?


Tapi kenapa?


"Ke...ke..Napa?"ucap Rain terbata.


Dia mencengkram bahu temannya itu untuk menopang tubuhnya yang mulai terasa berat, pandangan menjadi kabur karna air mata yang mengenang di pelupuk matanya jatuh mulus di pipinya.


Kenapa...


Dan kenapa...


Kata itu lah yang memenuhi benaknya.


"Di masa depan kau akan menjadi pemilik naga, kau adalah manusia terpilih oleh karna itu aku membunuhmu karna tak ingin keturunanku lenyap saat naga itu bangkit dan mengunakan tujuh permata, jiwamu...ahhh sangat lezat seharusnya aku melakukan ini saat kau bayi tapi aku ingin melihatmu bisa bicara dulu baru membunuhmu, katakan padaku apa permintaan terakhirmu Rain?"ucap iblis itu terkekeh.


"Uhuk!a...ku...Kem..ba..likan.. temanku..."ucap Rain lalu memeluk ice tanpa memperdulikan pedang itu semakin menancap di dadanya, dia merasakan balasan pelukan itu sebelum kegelapan merengutnya.


"RAIN!!!"


...


Deg!

__ADS_1


Rain membuka kedua matanya dan memegang dadanya sendiri.


Mimpi itu seolah sangat nyata.


Dia merasakan setiap detik kesakitan itu.


Hal itu membuat trauma masa lalunya kembali muncul.


Di mana dia di bedakan, tak pedulikan dan di caci maki.


Biasakan dia menyembuhkan luka seseorang saat lukanya sendiri tak dapat sembuh?


Apakah seorang pahlawan berasal dari orang sepertinya?


"Pahlawan sebenarnya bukan berasal dari orang lain, ketika seseorang berhasil menyelamatkan hidupnya sendiri maka setiap orang adalah pahlawan."ucap Percy.


Rain menatap Percy, lupanya kesedihan membuatnya lupa kalau ada seseorang disisinya.


"Maaf aku membaca pikiranmu, tapi aku juga tak mengerti kenapa kau sangat suka menyalahkan dirimu sendiri Rain, kau itu sempurna apa ada yang ada di dalam dirimu."ucap Percy menepuk pundaknya, dia memang menemani pemuda itu saat Rain masih pingsan sedangkan yang lain masih ada urusan.


"Sempurna?apa kata cocok itu benar-benar cocok untukku?"tanya Rain.


Percy terdiam.


Dia lalu mencubit pipi pemuda bermata biru itu.


"Apa kau merasakan rasa sakit jika aku mencubit mu?"


Rain hanya diam lalu mengangguk pelan.


"Walau kau telah merasakan rasa sakit besar atau kecil jika kau masih merasakannya sekarang itu artinya kau adalah orang yang luar biasa,kau manusia....yang sempurna menurutku."ucap Percy.


Mendengar pertanyaan Rain membuat Percy tersentak saat melihat Rain tertawa di depannya.


"Kau memang sahabatku."


"Ya aku tau dan aku akan selalu di sampingmu hingga maut memisahkan kita."


Rain tersenyum mendengar ucapan Percy.


Teman tulus itu ternyata masih ada.


Hingga dia merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat.


"Rain apa kau mau mendengar sebuah lagu?"


"Huh?"


I'm not crying 'cause you left me on my own


Aku tak menangis karena kau tinggalkanku sendiri


I'm not crying 'cause you left me with no warning


Aku tak menangis karena kau tinggalkanku tanpa peringatan


I'm just crying 'cause I can't escape what could've been


Aku hanya menangis karena aku tak bisa lepas dari yang seharusnya terjadi

__ADS_1


Are you aware when you set me free?


Apakah kau sadar saat melepasku?


All I can do is let my heart bleed


Yang bisa kulakukan hanya membiarkan hatiku berdarah


Oh, it's harder when you can't see through the thoughts


Ini lebih sulit ketika kau tak bisa melihatnya melalui pikiran


Not that I wanna get in, but I want to see how your mind works


Bukannya aku ingin masuk, tapi aku ingin melihat bagaimana kerja pikiranmu


No, it's harder when they don't know what they've done


Tidak, ini lebih sulit ketika mereka tak tahu apa yang telah mereka lakukan


Thinking it's better they leave, meaning that I'll have to move on


Berpikir lebih baik mereka pergi, artinya aku harus move on


Ketika kita merasa sendiri....


Kita berpikir apakah masih ada tempat untuk kita hidup...


Ketika kita merasa menderita...


Kita berpikir apakah masih ada sandaran di dunia ini...


Ketika kita merasa putus asa...


Kita berpikir apakah kita masih bisa bertahan di dunia ini...


"Lagi itu..."


"Selain aku bisa membaca pikiran aku bisa menyanyikan lagu yang menggambarkan perasaan orang itu, saat aku membaca pikiranmu, itu sangat membuatku sesak.


Jika kau menganggap ku teman maka mungkin ini saat yang tepat bagimu untuk meluapkan isi hati dan berkeluh kesah padaku, tenang saja aku akan menjaga rahasia mu kok."ucap Percy membuat Rain tertegun.


Percy ini sebenarnya siapa...


"Aku bukan siapa-siapa, aku hanya seorang teman yang mungkin bisa menjadi keluargamu dan tempat mengobati luka di hatimu."ucap Percy tulus.


"Aku tak pernah mendengar perkataan setulus itu seumur hidupku, bisakah aku benar-benar mempercayaimu?"tanya Rain.


Ternyata perkataan sosok itu benar.


'Katakan adik?kenapa kau menyerah pada dunia tapi hatimu masih menginginkan kebahagian?'


Dirinya masih menginginkan adanya kebahagian karna dia adalah seorang manusia.


"Ya kau bisa mempercayaiku karna aku bersumpah tak akan mengkhianatimu bahkan dengan taruhan nyawaku ini."


...


I like friends who have an open mind because they tend to allow you to see things from different perspectives.

__ADS_1


Saya menyukai teman yang memiliki pikiran terbuka karena mereka cenderung membiarkanmu untuk melihat segala masalah dari berbagai sudut pandang.


__ADS_2