
Tepat satu bulan berlalu dan hari ini juga adalah hari pertama bagi Fiona untuk menerima gajinya. Sore hari Mark datang menjemputnya.
“Tuan Mark jangan pergi dulu ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu.” tuan Jimmy membuat langkah pria itu tertahan.
“Ya, tuan Jimmy ?” Mark berbalik sembari menaruh Fiona yang sedang di bawanya.
“Ini gaji manekin anda selama satu bulan.”
“Terimaksih, tuan Jimmy.” Mark menerima amplop putih dari pemilik butik tersebut.
“Satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu. Omzet penjualan di butik ini meningkat setelah adanya Fiona.” jelas tuan Jimmy yang membuat Mark terkejut namun ikut senang mendengarnya.
“Semoga kedepannya Fiona bisa membawa keberuntungan lebih banyak pada butik ini.” Mark menanggapi sambil tersenyum lebar kemudian berpamitan.
Pria itu segera masuk ke mobilnya dan melanjutkan mobil menuju ke rumah.
__ADS_1
“Ini hasil kerjamu selama satu bulan.” Mark menyerahkan amplop putih dari tuan Jimmy tadi pada Fiona yang sudah berwujud manusia.
“Ah.... aku punya gaji sendiri.” pekik Fiona dengan riang karena ia tetap bisa menghasilkan uang dalam wujud manekin. “Tuan Bagaimana jika malam ini aku akan mentraktir mu ? Anggap saja ini sebagai ganti anda mengantar dan menjemputku setiap hari.”
“Ku rasa kau harus memakai sendiri gaji pertamamu itu karena aku juga sudah mempunyai gaji sendiri dari semua hasil lukisanku.” Mark menolak dengan tegas. Terang saja ia tak ingin dicap sebagai orang yang suka memanfaatkan dan itu satu hal yang tak pantas baginya.
Satu bulan berlalu dan jumlah pengunjung dari hari ke hari di butik Grimme Shine semakin meningkat dan keuntungan mereka menembus 50% dengan cepat.
Tak hanya itu saja ternyata Fiona pun menjadi populer meski ia hanyalah sebuah patung lilin.
“Aku mau lihat katalognya dulu sebelum pergi ke G.S.” Seorang wanita berniat melihat baju dari katalog dan ketika di sana tinggal membelinya saja karena, semakin padatnya butik itu saat ini.
“Aku juga mau melihat baju apa yang dikenakan oleh Fiona.” bahkan para customer di sana pun sudah terbiasa memanggil patung lilin itu dengan nama aslinya. “Baju yang dikenakannya bagus mungkin itu juga cocok denganku.”
Bahkan kini Mark pun tak malu keluar membawa Fiona saat ia berada di tempat umum ataupun tempat keramaian lainnya.
__ADS_1
“Kita makan di sini.” Mark berada di sebuah pusat perbelanjaan tepatnya di sebuah food court. “Kau tunggu sebentar dan aku tak akan lama.” Seperti biasa pria itu tetap mengajaknya ngobrol meskipun dalam wujud patung lilin Fiona tak bisa meresponnya.
Mark memesan menu dan meninggalkan Fiona sendiri di sana.
“Astaga itu kan Fiona.” seorang pengunjung wanita lain langsung mengenali sosok patung lilin yang terkenal tersebut.
Tiga orang wanita yang ada di food court itu menghampiri Fiona dan berfoto bersmanya.
“Anda pasti tuan Mark, pemilik Fiona.” ucap orang wanita saat kembali ke tempat duduknya.
“Ya, nona.” secara tak langsung pun pria itu ikut terkenal juga.
“Terinkasih sudah mengizinkan kami berfoto dengan Fiona.” ucap wanita lain setelah berfoto lagi dengan Fiona dan Mark mengizinkannya.
“Sama-smaa.”
__ADS_1
Setelah tiga wanita tadi pergi Mark kembali duduk di tempatnya. “Untung saja kau mengenakan pakaian cantik hari ini. Aku tak mengira sekarang kau menjadi populer seperti seorang model.”
Fiona minta bisa merespon namun bisa mendengar hanya tersenyum dalam hati. “Akhirnya aku bisa mewujudkan impianku dulu untuk menjadi seorang model.