My Magnificent Doll

My Magnificent Doll
Eps. 30 Demam


__ADS_3

Suatu malam di musim dingin dan bersalju terlihat Fiona yang tengah berada di dapur sedang menunggu tuannya itu menyantap hidangan makan malamnya yang baru saja selesai ia masak dan hidangkan.


“hachi...” Fiona bersin beberapa kali.


“Kau demam ?” tanya Mark terlihat khawatir menaruh sebentar alat makannya di meja. “Kau harus minum obat sebelum terlambat.” ucapnya singkat namun ia baru menyadari jika Fiona selama ini tak pernah makan ataupun minum jadi bagaimana mungkin gadis itu juga akan minum obat ?


“Mungkin karena pengaruh cuaca di luar saja tuan, jika aku memakai jaket tebal akan kembali normal.”


Mark kembali meneruskan makannya karena merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan dan semuanya terlihat baik-baik saja.


“Tak mungkin bukan manekin bisa sakit seperti layaknya manusia ? Sepertinya kekhawatiran ku terlalu berlebihan.” batin Mark setelah berpikir logis.


Dua jam berikutnya pria itu sudah berada di kamar dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin menusuk hingga ke tulang meski sudah menyalakan penghangat ruangan kemudian memejamkan matanya.


“Fiona kan tak punya jaket tebal ?” Mark tiba-tiba membuka matanya kembali teringat pada Fiona yang belum ia belikan mantel tebal di musim dingin yang baru berlangsung selama tiga hari ini. “Apa aku pinjamkan satu jaketku lainnya pada dia saja ?”


Mark turun dari tempat tidur dan langsung mengambil jaket tebalnya dari lemari pakaian. Ia kemudian masuk ke kamar Fiona.


“Ini jaket ku, kau bisa memakainya dulu daripada kedinginan.” Mark menyerahkan jaket itu Fiona yang sedang berbaring dan terlihat gemetar meski sudah memakai selimut yang tebal.

__ADS_1


“Terinkasih, tuan.”


Fiona langsung memakai jaket tersebut. “Susah sekali resleting ini ditutup ?” ia menarik resleting yang terasa berat dan tetap stuck di tempatnya.


Melihat Fiona yang tak bisa menutup resleting jaketnya, ia pun tak tega melihatnya. “Biar aku bantu. Jaket ini emang sudah lama tidak kupakai jadi mungkin sedikit seret resletingnya.”


Mark memegang resleting itu dan mudah saja baginya langsung menutupnya dengan kekuatannya sebagai seorang lelaki ditambah itu adalah miliknya, jadi ia tahu cara mudah menutupnya.


“Kau demam Fiona.” tak sengaja Mark menyentuh tangan Fiona yang terasa panas. “Kau memang demam.” untuk lebih meyakinkan ia menyentuh dahi Fiona yang juga terasa panas.


“Ya, barusan aku merasa tubuhku tak enak, tuan.”


Mark segera keluar dari ruangan itu menuju ke kotak obat untuk mengambil paracetamol dan memberikannya pada Fiona.


“Ayo coba minum.” Mark menaruh obat itu ke tangan Fiona.


“Tapi tuan--”


Mark mengambil kembali obat dari tangan Fiona kemudian segera memasukkan pil itu ke mulut Fiona.

__ADS_1


“uhuk.” 5 detik setelahnya pil itu kembali keluar dari mulut Fiona dengan sendirinya karena tubuhnya tak bisa menerima itu.


“Bagaimana ya...” Mark mencoba berpikir keras namun tak menemukan juga solusinya. “Tidurlah aku akan ambilkan selimutku untukmu.”


Mark membaringkan Fiona ke tempat tidur meskipun gadis itu sebenarnya masih ingin duduk. Secara tak sengaja ia merangkul Mark. “Hangat sekali rasanya.”


Mark pun mengurungkan niatnya untuk beranjak dari sana. “Apakah begini terasa lebih hangat ?” ia malah memeluk Fiona.


“Ya, tuan.”


Mark kembali menyentuh dahi Fiona. “Aneh suhu tubuh mu sedikit turun.” ucapnya merasakan panas Fiona sudah menurun.


“Aku juga merasa sedikit enakan, tuan.” jawab Fiona singkat. “Apa itu karena pelukan ini ?”


“Bagaimana jika kita coba saja tetap seperti ini mungkin demanmu akan turun.” saran Mark yang terlihat senang dan tidak mencoba mengambil keuntungan darinya.


“Apa tuan, tak apa ?”


Mark mengangguk dan memeluknya lebih erat hingga gadis itu tertidur dalam pelukannya.

__ADS_1


“Aku juga ngantuk.” dua jam kemudian Mark menguap dengan mata yang berair. Karena merasa mengantuk maka ia pun merebahkan Fiona ke tempat tidur dan berbaring di sampingnya sambil memeluknya erat.


__ADS_2