
Mobil yang membawa manajer Willie kemudian tiba di galeri pameran lukisan. Segera saja pria itu masuk ke sana dan menemui Mark kembali.
Di tengah keramaian padatnya pengunjung kali ini Manajer Willie menemui Mark di ruangan khusus. Ia melihat Mark yang berjalan ke belakang dan segera menyusulnya.
“Tuan Mark, tuan Jimmy sudah setuju dan mengalihkan kontrak sewa Fiona pada ku.”
Mark berbalik sembari berhenti dengan terkejut. “Oh benarkah itu ? Bagaimana bisa tuan Jimmy--”
“Masalah dengan tuan Jimmy sudah beres sekarang beralih kesepakatan kita berdua.” Manajer Willie segera memotong pembicaraan Mark.
Mark tampak diam dan berpikir, “Bagaimana ini kenapa dia bersih keras untuk memiliki Fiona ?” batinnya bingung untuk memutuskan.
“Bagaimana tuan Mark ?” tanya manajer Willie karena belum ada respon dari Mark.
“emm...apa Manajer Willie tahu bagaimana kontrak kerja ku dengan tuan Jimmy ?” Mark mengingatkan sekaligus memberitahu sebelum memutuskan.
__ADS_1
“Ya, aku tahu.” Manajer Willie sudah membaca kontrak kerja antara tuan Jimmy dan tuan Mark. “Kau akan membawa pulang Fiona setiap hari.”
Mark masih diam setelah mendengarkannya karena sejujurnya ia tak ingin lagi menyewakan Fiona pada siapapun juga. Selain membuatnya repot harus antar jemput setiap hari, juga belakangan ini ia sangat sibuk dikarenakan pemesan lukisannya semakin banyak.
“Tuan jangan khawatir aku akan menambahkan biaya sewanya dan tentunya lebih tinggi dari tarif yang ditawarkan oleh tuan Jimmy.” pria itu segera mengiming-imingi sesuatu yang menarik karena lagi-lagi tak ada respon dari Mark. “bagaimana jika aku membayarnya dengan...” membisikkan sebuah nominal yang fantastis di telinga Mark.
“Ya, tentu saja.” jawab Mark tanpa sadar karena tergiur dengan jumlah yang disebutkan oleh manajer Willie.
“Bagus.” Manajer Willie tersenyum lebar karena Mark mengambil keputusan dengan cepat tanpa perlu ia menanyakannya dua kali.
“Jika begitu mulai besok kamu bisa mengantarkan Fiona ke Stark Model.” ucap Manajer Willie lagi dengan tersenyum lebar. “Senang bekerja sama denganmu tuan Mark. See you tomorrow.”
Pria itu pun segera berlalu dari sana tanpa menunggu jawaban dari Mark terlebih dulu. Sepertinya itu adalah style dari sang manajer.
Mark kemudian pergi kembali ke ruangan tanpa ia ketahui di sana ada sepasang telinga lainnya yang mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Enak sekali nasib Mark. selain lukisannya laris manis, beberapa orang penting memperebutkan manekinnya bahkan lebih gilanya mereka mau membayar untuk manekin yang tak berguna sama sekali itu.” menatap ke arah luar melihat Mark yang berdiri di samping Fiona dengan tatapan penuh iri.
“Kenapa bukan aku saja yang bernasib beruntung seperti itu ?” gumamnya menghujat diri sendiri kenapa dia sial selama beberapa pekan ini.
Beberapa jam kemudian pameran lukisan berakhir. semua pelukis melumasi lukisan mereka dan pulang menuju ke rumah mereka masing-masing termasuk Mark.
“Apa kau butuh bantuan dariku ?” tawar Elvis yang kebetulan melewati Mark dan melihat pria itu membawa banyak barang bawaan.
“Sebenarnya tak perlu kawan, aku bisa membawanya sendiri.”
“Ayo lah kita ini teman biarkan aku membantumu.” Elvis memaksa. “Sepertinya kau kesusahan membawa patung lilin itu.” tanpa menunggu jawaban dari Mark ia pun sekira membawa Fiona yang masih ada di galeri.
Mark akhirnya membiarkan temannya itu membantunya tanpa merasa curiga ataupun mempunyai pikiran buruk padanya.
Di tengah jalan Elvis mengeluarkan cat kemudian menumpahkannya ke bagian wajah Fiona lalu memasukkannya ke mobil.
__ADS_1
“Terimakasih, kawan.” Mark segera melanjutkan mobilnya menuju ke rumah tanpa tahu Elvis tersenyum menyeringai dari kejauhan menatap ke arah mobilnya yang sudah berada di jalanan raya.