
Keesokan harinya hingga satu minggu berlalu hubungan mereka berdua terlihat dingin. sudah berulang kali Fiona mencoba mengajak bicara tuannya, namun Mark tanya diam saja tak pernah menjawabnya.
Bahkan saat setiap harinya mengantar Fiona ke tempat kerja, Mark hanya diam saja selama berada di mobil.
“Tuan.... apa kau marah padaku karena aku menolakmu ?” batin Fiona berada dalam mobil dalam perjalanan menuju ke Stark Model. Sungguh ia merasa tak nyaman dengan sikap tuanya yang menjaga jarak dari dirinya.
Bahkan saat mereka tiba di lokasi tuannya itu sama sekali tidak mengajak bicara dirinya.
“Tolong bawa Fiona.” Mark menyerahkan Fiona begitu saja pada nona Pearl kemudian berlalu pergi begitu saja.
“Fiona aku merasa wajahmu terlihat sedih kali ini. Atau aku yang salah melihat ?” celetuk nona Pearl saat mendandani Fiona di ruangan kemudian menyembuhkan make up di wajah.
“Apa aku tinggalkan saja dia di sini ?” gumam Mark dalam perjalanan pulang menuju ke rumah.
Ya, pria berpikir dirinya bodoh telah jatuh cinta pada seseorang patung lilin yang merupakan karyanya sendiri. Dan jika terus bersamanya mungkin ia akan semakin terluka karena tak bisa melupakannya dan akan terus berharap padanya.
__ADS_1
Sore hari Mark kembali ke Stark Model untuk menjemput Fiona. Ia segera membawa Gadis itu masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah.
“Tuan, apakah tuan masih marah pada ku ?” tanya Fiona saat mereka hampir tiba.
Mark berani menatapnya tanpa menggeleng namun tetap tidak mengeluarkan sepatah ataupun. Hingga mereka tiba di rumah dan Mark membawa masuk Fiona.
“Tuan...” panggilnya duduk di samping pria itu dengan memandangnya intens. “Aku tak pernah jatuh cinta ataupun menjalin hubungan dengan orang lelaki di kehidupanku sebelumnya. Aku juga tidak tahu apakah rasa berdebar setiap kali dekat bersamanya itu disebut cinta ?” batinnya mempertanyakan arti cinta.
“Fiona kurasa besok aku akan meninggalkanmu di Stark Model. Aku sibuk, jadi tak bisa menjemputmu.” ucap Mark tiba-tiba.
Fiona awalnya merasa senang pria itu mau mengajaknya bicara namun senyumnya seketika layu setelah mendengar apa yang diucapkannya hingga membuatnya menelan salivanya dengan berat.
Karena Mark diam dan malah melepaskan tangan Fiona karena ia tak mau terus-terusan gila dikarenakan rasa sukanya pada Fiona yang tidak kesampaian juga memutuskan untuk move on, namun Fiona memeluknya dari belakang.
“Tuan... tolong jangan campakkan aku.” ucapnya dengan memohon karena ia sudah tidak tahan lagi sama sekali tidak melakukan kontak dengan pria tersebut yang juga membuat hatinya serasa teriris.
__ADS_1
Namun Mari kembali melepas pelukan Fiona dan berlalu meninggalkannya.
“Tuan !” Fiona mengejar Mark dan ini justru menghadang nya. “Tuan...” ia pun memberanikan diri mencium bibir Mark saat pria itu masih menatapnya dengan penuh amarah. “Aku juga menyukai mu. Aku benar-benar tak bisa jauh darimu.” Fiona melepas tautan bibir mereka.
Amarah Mark seketika luluh begitu saja mendengar pernyataan dari Fiona.
“Benarkah itu ?” ucapnya tersenyum lebar dengan mata yang juga ikut melebar dan di angguki oleh Fiona.
Mark pun seketika mendaratkan ciuman di bibir Fiona yang sudah menjadi candu baginya meskipun baru dua kali dan ini yang ketiga kalinya.
“Tuan, ajarkan cinta pada ku.” ucap Fiona setelah tautan bibir mereka terlepas.
“Aku akan mengajari mu apa cinta itu sekarang.” Mark kembali mencium bibir Fiona. Kali ini ciumannya terasa panas bahkan ia pun mulai mendaratkan ciuman di tempat lainnya, di leher Fiona juga di telinganya.
Tepat di saat Mark melepas kancing baju Fiona sambil mencium bibirnya, pintu rumahnya terbuka.
__ADS_1
“Elvis ?” Mark menoleh ke arah pintu dan melihat temannya itu masuk.
“Mark, kau ?” Elvis tak percaya melihat apa yang dilakukan temannya itu, mencium sebuah patung lilin dengan panas.