
Fiona menaruh kembali lukisannya ia lihat di tempatnya kemudian keluar dari ruang galeri dan kembali ke tempat tuannya berada.
“See...? Semua lukisan ku tak ada yang bisa dipamerkan dalam acara pameran lukisan nanti.” ucap Mark begitu melihat Fiona kembali dan menggerakkan bibirnya seakan mau bicara.
Fiona diam sejenak Iya memang tidak mengetahui banyak hal tentang dunia melukis.
“Apa mungkin karena kesedihan membuat lukisannya menjadi seperti apa yang dirasakannya ?” pikirnya dalam hati sembari duduk di samping tuannya.
“Tuan mungkin dengan membuat pikiranmu senang itu akan membuatmu kembali bisa melukis seperti sebelumnya.” celetuk Fiona setelah terdiam selama 10 menit lebih.
“Oh, lalu apa menurutmu yang bisa membuatku senang ?”
“Aku tidak tahu, hanya tuan sendiri yang mengetahuinya.” Fiona sendiri bingung hal apa yang akan membuat tuannya senang. “Bagaimana jika keluar ke suatu tempat untuk me-refresh pikiran ?”
Mark menggeleng, “Aku sedang tidak mood untuk melakukan rekreasi atau apapun itulah namanya di luar sana.
“Bagaimana jika belanja ?” tanya Fiona menyebutkan opsi lainnya dan tuannya itu kembali menggeleng.
“Oh... apa ya ?” Gadis itu tampak menyerah setelah menyebutkan banyak opsi lainnya dan tuannya tetap tak tertarik pada satupun yang disebutkannya. “Musik, ya musik. Tuan pasti akan menyukainya.”
__ADS_1
Fiona segera menyalakan alat pemutar musik yang ada di ruang tengah. Ia memutar musik melow tepatnya musik untuk berdansa. Ia yakin sekali jika musik itu akan membuat mood-nya membaik karena hal itu seringnya lakukan pada dirinya sendiri dikala sedang sedih dan itu berhasil.
Musik mulai melantun dan terlihat Fiona mulai menari di ruang tengah yang luas.
“Fiona kau...” Mark bangkit dari kursi dan menghampirinya. Ia terpukau pada gerakan tubuh Fiona yang luwes. “Kau bisa balet ?”
Fiona mengangguk sambil melakukan gerakan tarian elok. Dia memang pernah ikut kursus balet dari kecil hingga usianya 16 tahun, tepatnya di paksa les oleh orang tuanya untuk mengikuti les balet padahal minatnya pada dunia modeling.
“Tuan kemarilah dan bergabung denganku.” Fiona mengulurkan tangannya memanggil Mark.
“Tapi aku sama sekali tak bisa balet bahkan berdansa pun aku tak bisa.”
“Ayo lah tuan, aku akan mengajari mu nanti.” desaknya membuat Mark tergoda untuk mencobanya.
“Wooh...” Mark hampir jatuh ketika berjinjit dan bergerak dan Fiona menangkapnya.
“Bukan begitu tuan. Begini caranya.” Fiona menunjukkan lagi caranya kemudian meminta maaf mengikutinya sekaligus membetulkan posenya yang salah.
Fiona pun mengajari gerakan lainnya hingga 30 menit ke depan dan terlihat Mark mulai tertarik dengan hal itu.
__ADS_1
“Fiona ku rasa cukup latihannya. Aku tak bisa melakukan gerakan sepertimu.” Mark menyerah dan merasa lelah. “Bagaimana jika kau mengajariku berdansa saja ?”
Fiona menghentikan gerakan menarinya yang seperti angsa dan terlihat sempurna demi tuannya.
“Baiklah tuan, kita mulai dansanya.” Fiona menghampiri tuannya kemudian menaruh kedua tangan pria itu di pinggangnya dan ia memegang bahu Mark. “Ikuti gerakan ku dengan hitungan tuan.”
Fiona menghitung dua ketukan bergerak ke kanan, dua ketukan bergerak ke kiri dan satu ketukan gerakan memutar.
"Aku tak menduga sama sekali ternyata berdansa begitu membuatku rileks.” Mark mengikuti gerakan Fiona dan menatapnya intens dengan tatapan lembut. Bahkan ia pun bisa mencium aroma shampo Fiona saat mereka berputar dan tercium aroma rambut Fiona yang terhempas.
“Fiona...” entah karena lagunya yang melow atau karena hal lainnya membuat pria itu hanyut dalam suasana romance kala itu. “Fiona kau cantik sekali dan aku-aku me--”
“Tuan, apakah mood mu sudah membaik ?” potong Fiona dengan cepat membuat tuannya tak melanjutkan lagi perkataannya tadi.
“Ah-ya, ya... tentu saja mood ku membaik berkat mu.” jawab Mark gelagapan dan mereka mengakhiri sesi dansa kali itu.
“Jika begitu sekarang cobalah untuk melukis tuan, aku akan menemanimu.”
Fiona menggiring tuannya itu ke ruang kerja dan mulai menyapukan kuasnya dengan hati yang tidak kalut dan kacau lagi.
__ADS_1
“Tuan, kenapa belum melukis juga ?” tanya Fiona duduk menemani di samping tuannya yang sudah memegang kuas selama 30 menit lebih tapi belum menggoreskannya sama sekali.
“Aku tidak tahu mungkin karena aku terlalu senang dan sekarang pikiran ku blank.”