
“Tuan...” Fiona kembali mengulangi panggilannya untuk kesekian kalinya meskipun belum mendapatkan respon. “Tuan !” ia pun terkejut kala mendapati tuannya tak sadarkan diri.
“Tuan Mark...” dengan susah payah ia pun membawa tubuh tuannya itu ke tempat tidur. “Haah...” Fiona merasa kelelahan dan mengatur nafasnya setelah mengangkat tubuh tuannya seberat 65 kg itu sambil mengusap keringatnya, duduk di samping Mark.
Mark yang tak sadarkan diri tiba-tiba mengigau. “Ibu... jangan pergi.” ucapnya masih dengan memejamkan mata membuat Fiona ya ingin pergi dari sana tetap tinggal di kamar itu.
“Astaga tuan, tubuh mu panas sekali.” Fiona memegang dahi tuannya yang seperti terbakar. “Oh apa yang harus kulakukan ?”
Fiona kemudian keluar gambar dan kembali dengan membawa ember berisi air es dan handuk.
“Semoga saja dengan ini panas mu akan turun, tuan.” Fiona nomornya sendok kecil dan mengompres tuannya. Sepuluh menit sekali ia mengganti handuk yang sudah dingin tersebut.
“Kenapa panasnya belum turun juga ?” sudah satu jam lewat namun panas Mark belum turun juga. “Apa aku harus memberinya paracetamol ?”
Fiona kemudian membawa kembali ember beserta handuk tadi dan mengambil obat penurun panas.
__ADS_1
“Tuan, minumlah.” Fiona mendudukkan tuannya kemudian menaruh obat tersebut di bibir, namun Mark tak bisa menelannya dalam keadaan tak sadar. “Bagaimana ini ?”
Fiona tampak bingung. Ia Mencoba membuka bibir tuannya dan memasukkan obat itu namun sia-sia.
“hoek.” Mark malah memuntahkan obat tersebut.
“Terpaksa aku harus memakai cara itu.” Demi kesembuhan tuannya maka Fiona menaruh obat itu di bibirnya kemudian mencium tuannya sambil mendorong obat di bibirnya ke bibir Mark. “Bibirnya terasa lembut sekali seperti kapas.” Fiona merasa panas di tubuh tuannya itu pindah ke dirinya yang membuatnya segera melepas tautan bibir mereka.
“ugh...” 30 menit setelahnya Mark berkeringat dan panasnya sedikit turun.
“Ibu jangan pergi... temani aku. Aku rindu pada mu.” igaunya masih dengan memejamkan mata.
“Kasihan sekali tuan rupanya kamu merindukan ibumu.”
Fiona merasa iba dan dia pun kembali duduk di tempat tidur dengan Mark yang masih menggenggam tangannya erat.
__ADS_1
“Ouh...” satu jam berikutnya Fiona menguap dan beberapa saat setelahnya gadis itu tertidur di samping Mark setelah kelelahan menjaga dan merawat tuannya.
“Ibu...” Mark yang masih mengigau memeluk gadis di sampingnya tanpa sadar yang ia kira adalah ibunya. “Ibu tubuh ku panas.”
Mark kecil di saat panas biasa memeluk ibunya yang melepas baju untuk mendinginkan tubuhnya yang panas.
“Brr...” Fiona tiba-tiba merasa kedinginan tanpa sebab dan membuka matanya. Betapa terkejutnya dia saat tuannya melepas bajunya. “Tuan apa yang kau...” tiba-tiba Mark menyandarkan kepalanya ke dada Fiona seperti anak kecil yang bermanja pada ibunya dan pria itu kembali tertidur pulas karena merasa nyaman.
“Bagaimana ini ?” Fiona merasa aneh saja tuannya kembali memeluk dirinya dengan tubuh setengah telanjang. “Apakah dia terbiasa seperti ini pada ibunya dulu ?”
Terpaksa Fiona pun membiarkan pria itu bersandar di dadanya juga memeluk tubuhnya dengan erat.
Deg
“Tuan... kenapa kau membuatku berdebar seperti ini ?” Fiona merasa mereka terlalu dekat sekali dan membuat jantungnya berdetak tak beraturan. “Oh bagaimana aku bisa tidur jika begini ?”
__ADS_1
Kini ganti gadis itu yang gelisah dan tak bisa tidur.