
Mark sedang menikmati makan siang dengan santai juga senyum yang terkembang di wajahnya setelah separuh lebih dari lukisan yang ia pamerkan di galerinya habis terjual.
“drrt...” ia merasakan getar di saku bajunya di mana terdapat ponsel di sana. “Siapa yang mengirimiku pesan ?”
Mark ponselnya pada mode silent saat bekerja dan lupa belum menonaktifkan mode tersebut. Ia mengeluarkan ponsel dan segera melihat inboxnya.
“Apa ?!” Mark seketika gemetar dan mukanya pucat pasi setelah membaca pesan masuk dari Elvis. “Tidak mungkin galeriku terbakar sebelumnya tak ada hal yang aneh di sana.” pekik Mark entar kecut luar biasa dan yang pun beranjak dari tempat duduknya meninggalkan makanannya ini masih separuh.
“Tuan anda belum membayar makanannya.” teriak pemilik restoran saat melihat Mark berlari dan hampir keluar dari sana.
“Astaga.” Mark yang merasa pikirannya seketika tiba-tiba blank berbalik dan menuju ke kasir. “Maaf nyonya bukannya Aku tak mau membayar tapi ada masalah serius barusan.”
“Tak apa tuan.” jawab kasir tersebut bisa mengerti keadaan pelanggannya sembari menerima pembayaran dari Mark.
__ADS_1
Setelah melakukan pembayaran pria itu pun segera bergegas masuk ke mobilnya dengan tergesa-gesa mengendarai ke galerinya.
“Oh My God bagaimana bisa galeri ku terbakar ?” Mark bener-bener bersedih melihat galerinya yang terbakar tak hanya di luar bangunan saja tapi api sudah menyimpan sampai ke dalam bahkan membakar lukisannya.
Dal keadaan panik, Mark tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Mark cepat padamkan apinya sebelum api bertambah besar dan melalap semuanya.” Elvis yang berdiri di sampingnya menepuk bahu pria itu.
Mark kemudian menarik nafas panjang dan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi emergency call pemadam kebakaran.
Pria itu kemudian menyalakan kran air pada di rumah warga galeri dan menyemprotkan dengan selang.
“Tim pemadam kebakaran datang.” ucap Mark tampak senang karena api masih saja berkobar meskipun Elvis dan beberapa warga membantu memadamkan api tersebut.
__ADS_1
Tim pemadam kebakaran bekerja dengan bagus dan membuat api padam yang tak sampai menghancurkan seluruh bangunan dan hanya membakar separuh ruangan meskipun semua lukisan Mark tak ada yang tersisa.
“Lukisan ku...” Mark hanya menemukan beberapa kayu kanvas yang sudah tak berbentuk berukuran 3 cm.
“Habis sudah kau Mark. Tak ada lukisanmu yang selamat dan waktu pameran lukisan tinggal beberapa hari lagi.” batin Elvis tersenyum dalam hati penuh kemenangan karena tak akan ada saingan baginya lagi. “Sabar Mark. Aku bisa merasakan kesedihan mu juga tetap semangat.” ia beralih menyemangati Mark.
“Terimaksih Elvis kau sudah membantuku juga memberitahu. Mungkin tanpa pemberitahuanmu galeri ini sudah tak berbentuk lagi di telan api.” Mark terima kasih saat temannya itu berpamitan padanya.
Setelah kepergian Elvis, Mark kembali Masuk ke galeri dan duduk bersimpuh menatap puing-puing juga remahan lukisannya yang sudah berbentuk abu.
“Tunggu ! Kenapa aku mencium bau minyak pada baju yang dikenakan oleh Elvis ?” batin Mark sedikit merasa aneh saja namun ia mencoba mengesampingkan nya.
“Sial sekali aku hari ini.” ratapnya berulang kali menarik nafas dalam dan panjang meratapi semuanya.
__ADS_1
“Setidaknya dia tidak punya karya lukisan yang akan dipamerkan di pameran seni sebentar lagi.” batin Elvis di tengah jalan yang tanti-hentinya ia mengucap puji syukur.
Mark masih terpikirkan pada Elvis. “Apa mungkin Elvis yang berada di balik peristiwa kebakaran ini ?” gumamnya jadi mempunyai pikiran negatif pada temannya itu.