
Fiona mengambil kanvas yang sudah kering dari hadapan tuannya yang saat ini sudah menjadi kekasihnya.
“Kenapa lukisannya jadi seperti ini ?” ucapnya terkejut.
Bagaimana tidak terkejut jika lukisan Mark kali ini berubah lagi dari biasanya dan cenderung sedikit vulgar yang menampilkan adegan ciuman sepasang kekasih.
“Ya, aku hanya mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku saja.” jawabnya malah tersenyum menimpali Fiona yang terkejut.
“Tidak bisakah kau melukis seperti biasanya saja ?”
“Ya, besok aku akan mencobanya.”
Mereka berdua kemudian keluar dari ruang kerja Mark dan kembali ke kamar masing-masing. Terlihat Mark tidur pulas dengan wajah yang sangat tenang setelah mimpi sekaligus keinginannya terwujud, memiliki seorang kekasih.
Sementara Fiona masih belum tidur meskipun mencoba untuk memejamkan matanya.
“Aku tak percaya sekarang aku sudah menjadi kekasih dari tuan ku sendiri.” gumamnya sudah mengulangi kalimat itu untuk yang ke-10 kalinya dengan pipi yang masih merona.
Gadis itu bingung bagaimana nanti ia memanggil tuannya itu karena ia masih suka salah memanggilnya dengan sebutan tuan seperti biasanya.
Parahnya lagi ia masih belum bisa melupakan ciuman Mark yang membuat bibirnya masih bengkak meskipun sudah mengompresnya dengan es.
__ADS_1
“Oh... tuan... kenapa kau lakukan itu pada ku ?” gumamnya sembari menyentuh bibirnya yang bengkak.
Keesokan paginya Mark bangun lebih dulu dan ia tak melihat sosok Fiona.
“Apa dia masih tidur ?” gumamnya kemudian berjalan menuju ke kamar gadis itu.
Mark melihat Fiona masih tertidur dan ia pun mencoba membangunkannya.
“chu.” ia mengecup kening Fiona yang membuat gadis yang baru tidur tiga jam itu langsung membuka matanya.
“Tuan apa yang kau lakukan disini ?” Fiona seketika merasa degup jantungnya berdebar kencang merasakan ciuman hangat di keningnya juga karena wajahnya cukup dekat dengan Mark.
Fiona sudah tutup dan merapat ke dinding karena malu juga belum terbiasa dengan status mereka saat ini.
“Oh, aku belum kesingan dan belum membuatkan sarapan untukmu.” Ia pun segera turun dari tempat tidur lalu masuk ke dapur, menyiapkan sarapan pagi untuk Mark.
Beberapa saat kemudian Fiona selesai memasak dan menghidangkan masakannya di meja.
“Selamat makan, Mark.” ucapnya dengan susah payah menghilangkan kata tuan yang sudah terbiasa diucapkannya.
Anehnya Mark tak menyantap makanan di depannya namun ia malah menyodorkannya pada Fiona.
__ADS_1
“Aaak.” ia membuka mulutnya sambil memberi kode agar Fiona imenyuapinya.
“Aneh sekali... kenapa hari ini dia bersikap seperti anak kecil berusia 5 tahun saja di depanku ?” batin Fiona menatap piring yang disodorkan padanya.
“Ayo lah aku sudah lapar.” Mark kembali bicara karena Fiona tak meresponnya. “Kau kekasih ku dan wajar saja jika kau menyuapi ku.”
Fiona pun menuruti permintaan kekasihnya itu setelah melihat waktu yang terus berjalan dan dia akan kesiangan jika Mark tidak selesai makan juga dalam 30 menit.
“Oh senangnya mempunyai kekasih baru setelah tujuh tahun menjadi single sampai aku lupa rasanya mempunyai kekasih dan dimanja seperti ini.” batin Mark tersenyum lebar dalam hati.
Sepuluh menit berikutnya mereka berdua sudah duduk di mobil yang meluncur di Stark Model.
“Fiona, aku akan menjemputmu lebih cepat nanti sore.” ucap Mark setelah tiba di sana sebelum turun dari mobil.
Fiona hanya mengangguk saja karena ia tak bisa mengungkapkan isi hatinya yang meluap-luap saat ini hingga pria itu sudah membawanya masuk dan menyerahkannya pada miss Pearl.
Miss Pearl selesai mendandani Fiona dan manekin lainnya yang ada di sana lalu keluar dari ruangan. Tanpa sepengetahuannya, Scarlet keluar dari balik tirai panjang setelah pintu tertutup.
“Fiona, aku tak ingin kau sampai menyaingi Winnie ku.” ucapnya melempar berdiri di depan Fiona.
Wanita itu kemudian mengeluarkan pemantik api dan membakar ujung jari tangan Pearl.
__ADS_1
“Rasakan.” Scarlet kemudian segera keluar dari sana setelah melihat ujung tangan Fiona yang mulai meleleh dan ketahuan oleh seseorang.
“Oh, panas dan sakit. Seseorang tolong aku.” teriak Fiona dalam hati.