
Tiga hari berlalu namun sampai sekarang, Fiona tetap belum ditemukan. Polisi sudah menindaklanjuti laporan tersebut tapi mereka orang memproses lebih lanjut karena barang yang hilang hanyalah sebuah patung lilin. Sedangkan itu masih bisa diproduksi lagi mirip seperti yang hilang.
Mark di malam hari yang biasa tidur berbagi ranjang juga kenikmatan dengan Fiona, tampak kesepian sekali dan memeluk bantal yang biasa dipakai Fiona.
“Fiona, aku ceramah sekali setelah kejadian yang sebelumnya kenapa aku tak meningkatkan pengamananku padamu ? Sekarang semuanya sudah begini. Dimana lagi aku harus mencarimu ? Ku harap kau baik-baik saja di sana di suatu tempat dan semoga saja aku bisa membawamu kembali ke sisi ku.” ratap Mark dengan pilu.
Ia merasa separuh jiwanya hilang dengan hilangnya Fiona. Bahkan ia pun sudah tak bernafsu makan. Ia juga susah tidur karena terlintas bayangan gadis itu yang menari-nari di pikirannya yang membuatnya tak bisa melupakannya begitu saja.
“Kau sangat berarti bagiku, Fiona.”
Mark memeluk bantal itu dengan erat sekali seolah ia memeluk kekasihnya. Tak terasa urusan bening jatuh di pelupuk matanya, menitik di kulit tangannya.
“Fiona, pulanglah. Kumohon.”
Satu minggu sudah berlalu namun Fiona tetap ada kabar Sampai detik ini juga.
Terlihat Mark setiap hari meluangkan waktunya untuk mencari miliknya yang hilang itu.
“Di sini juga tidak ada.” Mark masuk kembali ke mobil setelah mencari Fiona di sebuah tempat umum, taman bunga.
“Apakah sampai disini saja kisah kita ?” ucap Mark dengan bibir merah yang bergetar hebat masih tak bisa menerima kepergian wanita yang sangat disayanginya.
Satu bulan berlalu bagaimana kabar Fiona sekarang ?
__ADS_1
Selama satu bulan penuh Elvis mencoba berbagai cara agar bisa melihat patung lilin itu hidup seperti yang pernah ia lihat dalam rekaman CCTV di rumah Mark.
Namun segala upaya dan dayanya gagal total. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk membuat manekin itu hidup.
“Oh... bisa gila aku jika begini terus.” ucap Ervis tampak frustasi menghadapi Fiona.
Ia memegang ember dan menyiram Fiona sampai tak hanya manekin itu yang basah, tapi lantai rumahnya juga basah. Namun Fiona masih tak mau merubah ke wujud manusia juga.
“Haah...” Elvis merasa melakukan hal yang sia-sia saja. Ia menarik nafas kasar sembari mengusap wajahnya kemudian membanting tubuhnya ke kursi.
“Aku tidak mau menyimpan benda tak berguna ini. Buat apa ?”
Fiona tersenyum dalam hati mengira pria itu mau membuangnya saja karena mengetahuinya tak berguna. Itu artinya ia bisa lepas dari sana.
“Meskipun kau adalah manekin tapi kau seorang public figure dan cukup populer.” Elvis memegang dagunya kemudian berpikir. “Aku bisa mendapatkan uang dari mu.”
Elvis tersenyum lebar. Ia pun masuk ke kamar dan keluar lagi dengan membawa laptop. Ia terlihat sibuk entah apa yang dia cari.
“Oh Tuhan, apa lagi yang di rencanakan pria gila ini ? Semoga saja dia tidak melakukan hal yang lebih gila lagi padaku.” rutuk Fiona dalam hatinya.
Satu jam kemudian Elvis keluar rumah menuju ke mobil dengan membawa Fiona. Ia memacu mobilnya cepat.
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dia pun berhenti di sebuah tempat. Sebuah butik besar di kota sebelah.
__ADS_1
“Aku berharap meraup untung besar kali ini.” gumamnya tersenyum lebar kemudian turun dari mobil bersama Fiona dan masuk ke butik.
Di dalam butik, Elvis menemui pemilik butik tersebut. Seorang wanita tentunya. Terlihat Elvis sedang bicara dengan wanita itu.
“Nona, percayalah padaku. Manekin ini akan membawa keberuntungan yang besar bagi butik mu ini. Kenapa ? Karena manekin ini sangat terkenal di tempat asalnya. Dia adalah model peraga nomor 1 yang biasa menjadi pendamping model Deborah Stefanie.” ucap pria itu dengan lancar mempromosikan Fiona seolah barang dagangannya.
Siapa yang tak kenal nama model Deborah Stefanie. Dia model yang terkenal sampai ke seluruh penjuru mosok.
“Benarkah ?” wajah wanita pemilik toko itu terlihat senang sekali.
Ia melihat Fiona dan memang tampak berbeda sekali dari manekin yang pernah ada selama ini.
“Jadi berapa kau jual manekin ini ?” wanita itu sudah terasa pernah perkataan manis Elvis.
Mereka berdua pun akhirnya pun melakukan tawar-menawar harga hingga tercapai sebuah kesepakatan harga.
“Terimakasih, nyonya Adelle. Senang bekerjasama dengan anda.” Elvis menjabat tangan wanita tersebut setelah mengantongi sejumlah nilai yang cukup fantastis, 100 000 Poundsterling.
“Sama-sama, tuan Elvis.” tutur nyonya Adelle yang langsung membawa Fiona.
Elvis dari butik dingin senyum lebar menghiasi mukanya.
“Aku benar-benar beruntung kali ini. Ternyata manekin itu memang berguna. Tak salah jika aku mengambilnya dari Mark.”
__ADS_1
Elvis duduk di mobil dan melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya yang bersinar.