My Magnificent Doll

My Magnificent Doll
Eps. 32 Lelah


__ADS_3

Malam hari di rumah Mark.


Pria itu masih berada di ruang kerjanya, melukis padahal sudah banyak lukisannya ia buat namun Ia tetap tak berhenti juga.


“Sudah jam segini kenapa tuan belum keluar juga dari ruang kerjanya ?” gumam Fiona menatap jam dinding kemudian berani menatap ke ruang kerja tuannya yang berada 3 meteran dari tempatnya berada saat ini. “Aku akan memanggilnya, mungkin saja dia lupa waktu.”


Ya, selama ini Mark memang selalu lupa waktu jika sudah memegang kuas. Bahkan berada di ruang kerja tanpa makan pun dia betah saja.


“Tuan sudah malam kenapa tak beristirahat ?” Fiona masuk ke ruang kerja Mark.


“Ini masih sore.”


“Ini sudah malam, tuan.” Fiona mengingatkan sambil menunjuk ke arah jam dinding yang ada di ruangan itu.


Mark menaruh sebentar kuasnya lalu menatap ke atas. “Astaga sudah pukul 19.00.”


Ia benar-benar tak sadar jika waktu sudah malam bahkan ia pun belum makan.

__ADS_1


“Tuan cepatlah makan. Jika sering terlambat makan tak baik untuk kesehatan mu.” Fiona bahkan mematikan lampu ruang kerja sebelum tuannya itu keluar dari sana yang memaksa Mark akhirnya keluar dari ruang kerja.


Mark membersihkan diri kemudian duduk di ruang tengah. Sementara Fiona menuju ke dapur.


“Tuan, ini makanan untukmu.” gadis itu kembali dengan membawakan makanan hangat yang baru selesai ia masak.


“Terimkasih.”


Mark segera menyantapnya Karena memang dia merasa lapar sambil melihat tayangan televisi yang barusan disetel oleh Fiona.


“Itu kan berita tentang Stark Model.” celetuk Mark saat berita menayangkan tentang agensi model tempat Fiona bekerja.


“Itu kau.” Mark menunjuk Fiona yang juga diliput dalam berita kali itu. “Ah ya tuan.” Fiona hanya tersipu mendapati dirinya juga tampil dalam siaran berita.


“Tak ku sangka kau menjadi semakin populer setelah pindah ke Stark Model saja.” Mark tak bermaksud memuji tapi Fiona menyalah artikan perkataan tersebut dan manggilnya sebagai pujian.


“Tuan bisa saja.” timpal Fiona singkat dengan menunduk karena ia tak mau bersikap sombong di depan tuannya karena dirinya tak akan seperti yang sekarang jika tanpa campur tangan dari tuannya.

__ADS_1


Fiona pun mengalihkan topik pembicaraan setelah berita berganti agar tuannya itu tak memuji dirinya terus-menerus yang mungkin saja akan bisa membuatnya melambung serta lupa diri.


“Kenapa tuan hari ini melukis sampai malam ?” tanyanya mengganti topik pembicaraan.


“Ada pameran minggu depan dan banyak yang inden, jadi aku harus lembur. Mungkin setelah ini aku akan kembali melukis.”


Mark menaruh piringnya yang sudah kosong ke meja kemudian menyandarkan bahunya yang terasa pegal sebentar untuk mengistirahatkannya.


“Tuan duduklah sebentar.” Fiona menahan temannya yang akan bangkit dari tempat duduk kemudian segera memijat pundaknya. “Apakah pijatanku enak, tuan ?”


“Enak sekali Fiona.” Mark sampai memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan dan pijatan gadis itu.


“Kasihan sekali, dia lelah.” Fiona menghentikan memijat 30 menit kemudian. “Tuan apa mau ku temani melukis di ruang kerjamu ?”


Hening tak ada jawaban.


“Tuan ?” Fiona memeriksa tuannya yang ternyata sudah tertidur. “Mungkin dia lelah, biarkan saja dia tidur.” Fiona sengaja tak membangunkannya malahan ia duduk di sebelahnya sambil melihat tayangan televisi karena ia belum mengantuk sama sekali.

__ADS_1


“hoahem...” dua jam berikutnya gadis itu menguap lebar. Ia pun tertidur di samping Mark dan tanpa sadar bersandar ke bahu pria itu dengan tv yang masih menyala.


Entah kenapa Mark memeluk pinggang Fiona yang ada di sampingnya dalam kondisi tertidur meski ia sendiri tak sadar memeluk gadis itu.


__ADS_2