
Mark tiba di rumah yang seperti biasanya pria itu membawa Fiona saat ia turun dari mobil.
“Tuan, turunkan aku.” ucap Fiona setelah mereka ada di dalam rumah dan sudah berubah menjadi manusia kembali.
Sebenarnya bukan karena tak mau tuannya itu membopongnya tapi entah kenapa dia merasa gugup saja kali ini. “Pasti karena tema bikini kali.” gumam Fiona sambil menyentuh dadanya yang bergemuruh tanpa sebab.
“Ya, baik.” Mark membuka tangannya begitu saja yang mengakibatkan gadis itu jatuh ke. Lantai.
“Auwh.” rintih Fiona sambil menyentuh bagian belakang tubuhnya saat berdiri. “Tapi tuan, bukan berarti menjatuhkanku seperti ini.” protesnya.
“Kau sendiri yang minta turun, jadi bukan salahku.” Mark tersenyum tipis kemudian segera berlalu dan masuk ke kamarnya untuk ganti baju.
“Ada apa dengan tuan hari ini.” Fiona segera masuk ke kamarnya juga meskipun merasa aneh dengan tingkah tuannya yang tak seperti biasanya dimana hari ini pria itu seperti ini menggoda atau mengerjainya saja.
Fiona merasa malas untuk berganti baju dan memilih untuk rebahan sebentar di tempat tidur masih mengenakan bikini yang tertutup oleh jaket tuannya.
“Oh astaga, aku belum memasak untuk tuan.” Fiona segera bangkit dari tempat tidur setelah melihat jam berapa saat ini.
Ia pun segera bergegas mengganti bajunya. Ia melepas jaket dan menyisakan bikini yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1
“Andai saja ayah dan ibu tahu jika aku saat ini menjadi model peraga, pasti mereka senang sekali.” Fiona melihat pantulan wajahnya dijamin sembari membayangkan masa lalunya teringat pada kedua orang tuanya.
Dari luar datanglah Mark yang merasa lapar setelah mengecek meja di dapur kosong dan menuju ke kamar Fiona.
“Tumben sekali dia belum masak.” Mark masuk ke kamar Fiona dan seketika ia ingin muntah darah atau mimisan saja rasanya.
Bagaimana tidak mimisan jika melihat pemandangan indah di depannya. Ya, Fiona sedang melamun dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang melekat pada tubuhnya dan menunjukkan tubuh indahnya.
“Fiona, kenapa kau belum masak ?” Mark mencoba memejamkan matanya, takut tergiur pada tubuh indah Fiona.
“Ah... tuan.” Fiona segera tersadar dari lamunannya dan ia lupa jika dirinya belum memakai baju yang sudah ia ambil namun malah berjalan mendekati Mark karena merasa aneh kenapa tuannya menutup mata.
“Oh...” jantung Mark semakin berdegup kencang melihat tubuh Fiona sedekat ini, meskipun ia melihatnya dari balik jemari tangannya yang renggang.
“Tuan kenapa menutup matamu seperti itu ? Apa aku menakutkan seperti hantu ?”
“Bukan, tentu saja kau tidak menakutkan tapi kau sangat menggoda.” ucapnya jujur dan di detik berikutnya ia sangat kecewa kenapa ia tak bisa menahan perkataannya.
Sontak Fiona langsung respect dan melihat ke arah tubuhnya sendiri. “Argh... !” jeritnya segera mundur dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos dengan muka bersemu.
__ADS_1
“Tuan, keluarlah. Aku akan segera memasak untukmu.” ucapnya mengusir secara halus.
Begitu Mark keluar dari kamar tanpa bicara, Fiona segera memakai baju. “Jadi tuan sudah melihat tubuhku, bagaimana ini ?”
Gadis itu terlihat salah tingkah dan ingin menghindari tuannya saja kali ini karena masih merasa malu. “Tapi dia bilang lapar.”
Akhirnya mau tak mau Fiona pun segera menuju ke dapur untuk memasak sambil menahan malu di tatap tuannya yang duduk di kursi dapur, menunggu masakannya matang.
“Ini tuan masakannya.”
“Oh lezat sekali.” Mark segera menyantap dan menikmati hidangan buatan Fiona dan bersikap santai seolah tak melihat apapun sebelumnya.
Berbeda dengan Fiona yang masih teringat pada hal itu.
“Tuan, aku sedikit tak enak badan. Kali ini tuan makan sendiri ya.” ucapnya bohong lalu segera keluar dari sana dan masuk ke kamar.
“Kenapa pria itu bisa sesantai itu ?” Fiona yang sedari tadi merasakan jantungnya tak bersahabat mencoba menarik nafas panjang berulang kali untuk membuat dirinya rileks.
“Kenapa dia pergi dari sini, seperti menghindariku saja.” Mark tersenyum kecil menatap sekilas wajah gugup Fiona.
__ADS_1