
Fiona yang masih tak mempercayainya melihat kembali lukisan tersebut.
“Ya, ini memang benar aku dan ini tuan.” gumamnya sembari menyentuh lukisan dirinya. “Apa maksudnya melukis seperti ini ?” Fiona bukannya berpikiran positif atau mencurigai sesuatu namun malah berpikiran negatif pada tuannya.
“Apa dia mencoba mempermalukan aku dengan menjadikan aku sebagai model kekasihnya ?” gerutunya kesal saja merasa di rendahkan berpikir pria itu mengajak dirinya sebagai gadis murahan.
Fiona yang kesal gerak menutup lagi lukisan tersebut dan keluar dari galeri.
“Lebih baik aku tidur saja daripada memikirkan hal itu terlebih lagi yang penting tuan sudah bisa melukis kembali.”
Fiona mencoba menahan rasa kesalnya sembari berjalan menuju ke kamarnya. Ia pun tertidur beberapa menit setelah mencium bantalnya.
Pagi harinya Mark bangun lebih awal karena ia teringat harus menyembunyikan sesuatu yang menurutnya penting sebelum ada yang melihatnya.
“Untung saja Fiona masih tidur jadi gadis itu tak melihatnya.” Mark berhenti sebentar di depan kamar Fiona saat melewatinya dan mengintip gadis itu.
Ia pun buru-buru masuk ke galeri. 2 menit kemudian dia ia keluar lagi dari sana dengan membawa lukisan tadi.
“Disni aman sekali yang tak mungkin Fiona akan mengetahuinya. Bisa hancur aku jika Fiona tahu apa isi hatiku.”
__ADS_1
Mark sampai di kamar dan ia menyembunyikan lukisan itu di sebuah laci lalu mengunci nya.
“Tuan sarapan sudah siap.” teriak Fiona dari kejauhan karena jarak kamar tuanya dan dapur lumayan jauh.
Mark Sudah menyantap sarapan pagi yang ada di meja setelah tiba di dapur. Suasana pagi ini tidak seperti biasanya. Entah kenapa mereka berdua hanya diam dan saling menatap saja tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“dong.” bunyi dentang jam memecah kesunyian di antara mereka berdua.
“Sebaiknya aku mengambil mantel sekarang sebelum berangkat.” Fiona memilih untuk kabur dari sana dan segera mengambil mantel bulunya karena ya tak mau kedinginan lagi di cuaca yang masih musim dingin ini.
“Hey, kenapa aku merasa seperti gadis itu menghindariku saja. Apa aku melakukan kesalahan padanya ?” Mark ikut berdiri setelah selesai makan untuk mengambil kunci mobil.
“Fiona sudah belum ?” teriak Mark karena gadis itu tak kunjung muncul.
“Ya, tuan sebentar.”
Satu menit kemudian Fiona menyusul tuannya yang masih menunggu dirinya di depan pintu.
“Kita berangkat sekarang.” Mark segera menggendong Fiona masuk ke mobil dan mengantarnya menuju ke Stark Model.
__ADS_1
Setelah mengantar Fiona ia pun kembali pulang ke rumah. Ia merasa ide di otaknya kembali mengalir dengan deras dan mulai melukis kembali.
Waktu untuk mengikuti pameran lukisan tinggal dua hari lagi dan selama dua hari Mark kembali melukis meskipun yang dia lukis sebanyak biasanya dan mungkin hanya 25% saja jika dihitung totalnya.
Tiba di hari-H pameran lukisan. Mark menjalankan rutinitas pagi seperti biasanya. Dia mengantar Fiona bekerja ke Stark Model.
“Mungkin aku akan terlambat datang nanti ke pameran.” gumam Mark mengemudi dengan santai di tengah ramainya jalanan Kembali menuju ke area pameran lukisan dilangsungkan.
Di dalam galeri Elvis dari tadi tersenyum lebar saat menatap galeri tempat dipamerkannya lukisan Mark, kosong. Bahkan pria itu pun tak menampakkan batang hidungnya.
“Sudah pasti dia tak akan ikut pameran lukisan kali ini.” batin Elvis kemudian kembali fokus ke galeri lukisannya sendiri karena di tempatnya mulai ramai.
Satu jam kemudian Mark tiba di lokasi tempat berlangsungnya pameran lukisan.
“Aku terlambat satu jam lebih, tapi tak apalah. Toh lukisan ku juga cuma sedikit.”
Mark membawa lukisannya masuk ke galeri tepat di saat Elvis menatap ke arah pintu masuk.
“Itu seperti Mark ?” gumam Elvis tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1