
“Apa yang dilakukan oleh Nona Scarlet ?” pekik nona Pearl menghentikan tayangan tersebut kemudian beralih menatap Mark yang duduk di sampingnya. “Apakah dia ada masalah denganmu, tuan ?”
“Tidak, aku malah baru mengenalnya beberapa hari yang lalu saat bertemu dengannya di sini.” jelas Mark.
“Lalu kenapa dia melakukan hal itu pada Fiona ?” nona Pearl Ntar habis pikir sampai mengerutkan keningnya.
Mark kemudian berpamitan dan lukisan pada wanita itu untuk menjaga Fiona.
“Baik, tuan Mark aku akan mengawasi Fiona dan hal itu tak akan terjadi lagi.” jawab nona Pearl tegas karena sejujurnya ia memang menyukai Fiona dalam artian memberikan patung lilin itu penilaian lebih daripada lainnya.
Mark pun kembali ke mobilnya dengan tenang karena tak mungkin wanita itu berani mengganggu Fiona lagi.
“Jika sampai hal itu terjadi kembali maka dia akan berurusan denganku.” gumam Mark yang sudah berada di mobil dan mengemudikan nya.
Nona Pearl menatap Fiona yang ada di sampingnya.
“Dimana tempat yang aman untuk menaruh mu ?” gumamnya karena ia tak bisa menjaga patung lilin itu seharian. “Tak ada ruangan lain di sini. Semuanya penuh.”
__ADS_1
Karena waktu terus berjalan sedangkan Ia mempunyai banyak tugas yang harus ia selesaikan maka ia pun membawa Fiona ke ruangannya.
“Mungkin tak masalah jika hanya Fiona yang ada di sini.”
Ia pun segera mengganti pakaian dan mendandani Fiona barulah dia masuk ke ruang ganti di mana arah patung lilin yang lainnya berada di sana.
“Astaga, sekarang aku malah berada di ruang ini sendirian.” pekik Fiona tersenyum kecil sembari menatap ke sekitar yang hanya ada lemari berisikan banyak baju ganti juga make up. “Tak akan ada yang akan menggangguku lagi sekarang, terima kasih nona Pearl.” Ia merasa senang wanita itu memperlakukan dirinya dengan istimewa.
Sementara Mark baru tiba di rumahnya. Namun Iya terkejut saat melihat ada mobil polisi yang berhenti di depan rumahnya.
“Ya, sherif apa ada yang bisa kubantu ?” Mark langsung saja menanyakan keperluan polisi itu datang menemuinya.
“Begini tuan Mark ini mengenai peristiwa kebakaran galeri anda dan kami sudah berhasil menemukan pelaku pembakaran galeri.”
Mark tak menyangka polisi akhirnya menemukan juga pelakunya.
“Siapa pelakunya ?” tanya Mark penasaran.
__ADS_1
Polisi tak mau menjelaskannya secara langsung. “Mari biar ku tunjukkan pada anda, tuan.”
Mark merasa aneh saja kenapa tak bilang langsung siapa pelakunya namun malah mengajaknya untuk melihatnya.
“Baik, sherif silakan masuk dan duduk dulu.”
Mereka berdua kemudian masuk ke rumah kamu dan duduk di sana. Polisi membuka laptop yang di bawahnya kemudian memutar rekaman CCTV yang ia temukan satu hari yang lalu.
“Astaga... Elvis ?!” pekiknya saat melihat pria itu menyiram galerinya dengan minyak lalu membakarnya. “Ini pasti salah bukan ?” ucapnya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, teman baik selama ini dipercayainya yang melakukan pembakaran itu.
“Ini benar, tuan. Jadi kami akan segera memproses kasus ini.” polisi mengakhiri tayangan tersebut dan membawa kembali laptopnya dan berpamitan setelahnya.
“Terimkasih, sherif atas bantuannya.” Mark pengantar polisi tersebut sampai ke depan pintu barulah ia masuk kembali dan duduk dengan lemas.
Ia masih percaya saja dengan apa yang barusan dilihatnya. Bagaimana bisa Elvis melakukan hal itu padanya. Bahkan dia bisa mengingat dengan jelas saat itu pria itulah yang pertama memberitahukan padanya jika galerinya terbakar.
“Kenapa Elvis ?” gumam Mark. “Kenapa ?” ia berpikir apa motif temannya itu melakukan hal itu padanya.
__ADS_1