
"Apa kamu tidak bisa menghandle nya sendiri, Jo?"
"Maaf tuan, tetapi jadwal ini sudah di atur dari jauh-jauh hari. Terlebih lagi hal ini menyangkut perluasan lahan minyak dan gas"
Erlan memijat pelipis nya, saat ini kepala nya terasa sedikit pusing setelah semalaman tidak tidur dan pagi ini Jo sang asisten menghubungi nya.
Menoleh pada ranjang rawat itu, dimana sang istri sedang memakan sarapan nya malas-malasan. Erlan pun kembali menatap lurus jendela di depan nya.
"Baiklah, siapkan semua berkas nya dan kirim juga melalui email. Aku akan membaca nya ulang" Putus Erlan.
"Baik tuan, rapat nya akan di mulai pukul sembilan nanti dan semoga nona Lilly cepat sembuh"
"Hmm, terima kasih"
Panggilan kedua nya pun berakhir, Erlan kembali mendekati ranjang rawat itu dan duduk di tepi nya seraya merebut sendok di tangan Lilly.
Mendapatkan tatapan tidak senang dari gadis itu, namun Erlan mengabaikan nya dan memilih untuk menyendok makanan itu.
"Ayo buka mulut nya" Titah Erlan bersiap menyuapi Lilly.
"Aku bisa sendiri" Tolak nya berniat kembali merebut sendok tersebut.
"Buka mulut nya, sweety" Ulang Erlan tak ingin di bantah.
Pada akhirnya Lilly menurut, menerima suapan sang suami walaupun sejujurnya ia sangat mual menelan makanan rumah sakit yang tidak ada rasa nya itu.
"Aku harus ke kantor, ada beberapa hal yang perlu di urus" Ujar Erlan di sela suapan nya.
Lilly tak menyahut, bahkan ekspresi gadis itu seolah-oleh berkata 'aku tidak peduli'.
"Aku harus ke kantor--"
"Ya udah sana!" Potong kesal Lilly memalingkan wajah nya, tidak mau menerima suapan Erlan lagi.
"Habiskan sarapan nya dulu, setelah itu aku akan memanggil perawat untuk menemani mu selama Mommy belum datang"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri"
"Sweety.."
__ADS_1
Mendengar nada bicara Erlan yang penuh penekanan pun Lilly kembali menatap wajah pria itu. "Aku bukan anak kecil yang harus di temani oleh para perawat!"
"Kamu memang bukan anak kecil, tetapi kamu istri kecil ku" Sahut Erlan mengacak pelan surai Lilly.
Lilly yang mendengar perkataan serta mendapat perlakuan seperti itu dari Erlan untuk pertama kali nya pun, seketika ia membeku.
"Apa ini? Kenapa rasa nya seperti saat pertana kali aku bertemu Nico? Dan jantung ku.." Tangan nya terangkat dan menyentuh dada nya. "Kenapa berdebar begitu cepat?"
"Lilly, hei! Ada apa?"
Erlan panik begitu melihat keterdiaman Lilly, bahkan ia memanggil nya beberapa kali tetapi Lilly tidak menyahut.
Dan kini tangan gadis itu menyentuh dada nya seakan sedang menahan rasa sakit.
Lilly yang setengah tersadar pun menerjab pelan, mata nya berkedip beberapa kali menatap wajah Erlan yang berada tepat di hadapan nya.
"Kenapa? Sakit?" Tanya Erlan dengan raut khawatir seraya menyentuh punggung tangan Lilly yang masih berada di dada gadis itu.
"Kenapa? Napas nya sesak? Atau kenapa?" Tanya Erlan lagi karena tak kunjung mendapat sahutan.
Pada akhirnya kesadaran Lilly pulih sepenuh nya, dengan cepat gadis itu menyentak tangan Erlan dan menjauhkan wajah nya.
"Serius gapapa? Bilang aja kalau ada yang sakit, nanti aku panggilan dokter"
"Aku gapapa, Erlan"
Ting!
Ting!
Suara notifikasi handphone Erlan membuat pria itu mengurungkan niat nya untuk kembali bersuara.
Kini mata pria itu mulai terfokus pada handphone nya, membuka email dimana sang asisten telah mengirimkan bahan pembahasan untuk rapat tersebut.
"Kapan handphone ku akan di ganti?" Tanya Lilly menatap wajah serius Erlan.
Seketika fokus Erlan kembali teralihkan pada wajah cantik yang masih terlihat jelas lebam di pipi nya.
"Memang nya aku bilang akan menganti handphone mu?" Tanya balik Erlan.
__ADS_1
Lilly mendengus kesal. "Tapi 'kan kamu yang menghancurkan handphone ku!" Sahut nya kesal.
"Itu salah kamu"
Telinga Lilly memerah menahan kesal nya ketika mendengar jawaban Erlan.
"Ya udah kalau kamu ga mau ganti nanti aku minta sama Papa!"
"Silahkan, tapi kemungkinan mau Papa atau pub Mama tidak akan memberikan nya"
"Kenapa? Aku anak nya jadi tidak mungkin mereka tidak memberikan nya!"
"Kamu sudah menjadi tanggung jawab ku, sweety.."
Semakin geram dengan jawaban itu, terlebih lagi Erlan kembali menatap handphone nya alhasil kini Lilly merebut paksa handphone pria itu.
"Belikan aku handphone baru!" Ucap nya penuh ancaman seraya berniat menceburkan handphone Erlan ke dalam gelas air di hadapan nya.
"Ceburkan saja, handphone ku anti air"
"Erlan..!!" Pekik kesal Lilly.
"Baiklah-baiklah, akan aku belikan" Ucap nya seraya merebut kembali handphone nya.
"Keluaran terbaru!"
Erlan mendelik kesal. Bisa-bisa nya istri nya ini malah me-request handphone seperti apa yang akan ia belikan.
"Kamu banyak uang, jadi tidak masalah 'bukan?!" Celetuk Lilly.
"Baiklah, tetapi di dalam handphone itu hanya ada nomor ku dan para wanita saja!" Putus Erlan membuat mata Lilly melotot.
"What the--"
Cup!.
Umpatan Lilly terhenti kala Erlan mengecup bibir nya.
"Aku berangkat sekarang, Mama akan segera sampai dan habiskan sarapan mu!" Celoteh Erlan seraya meraih kunci mobil nya.
__ADS_1
...****************...