
Dua minggu sudah berlalu, dan selama ini juga Lilly terus terkurung di ruang rawat luas dengan fasilitas yang lengkap itu.
Selengkap-lengkap nya ruangan itu, tetap saja Lilly merasa bosan. Erlan belum mengizinkan Lilly untuk pulang, pria itu benar-benar protective bahkan saat ke kamar mandi saja harus ada yang menemani Lilly jika dia sedang bekerja.
Memang sebelum nya kaki Lilly terasa sedikit nyeri, mungkin akibat kecelakaan itu yang membuat kaki nya terjepit tetapi kini ia benar-benar sudah sehat bahkan wajah nya tak lagi pucat.
"Ma.." Panggil Lilly pada sang Mama yang hari ini menemani nya selagi Erlan bekerja.
"Kenapa sayang?" Jawab sigap Aili.
"Aku bosan, ingin keluar dari ruangan ini" Ujar nya sedikit merengek.
"Tidak bisa sayang, Erlan tidak mengizinkan mu dan hanya Erlan yang boleh mengajak mu berjalan keluar"
Lilly mengacak rambut nya kesal, jawaban seperti ini terus ia dapatkan entah itu dari Mama nya sendiri atau pun mertua nya.
"Kenapa kalian takut sih sama Erlan? Kalian 'kan orang tua Lilly dan orang tua nya" Kesal nya semakin merengek.
"Bukan nya takut, tetapi Erlan suami mu yang mana kamu harus menuruti perkataan suami mu termasuk Mama dan mertua kamu yang mendapat amanah dari nya"
Sudah, rasa nya Lilly lelah untuk berkata-kata lagi. Memang pernah sekali saat sahabat nya datang menjenguk nya.
Lilly memaksa mereka untuk membawa nya keluar, lebih tepat nya ke taman rumah sakit itu. Namun hal itu berakhir membuat Erlan melarang para sahabat nya untuk datang menjenguk lagi, bukan kan itu keterlaluan?
"Sabar 'ya hari ini Erlan pulang cepat kok" Ujar lembut Aili merapihkan surai putri nya.
Lilly berdehem menanggapi itu, "Oh iya dimana Lala?" Tanya nya karena beberapa hari ini tidak melihat sosok adik nya.
"Seminggu ini Lala tinggal di asrama sekolah"
"Lah kok..?" Kening Lilly berkerut bingung, penuh pertanyaan.
"Sekolah nya akan mengadakan acara dan kebetulan adik mu ketua panitia nya"
"Wow,, ternyata adik ku pintar dan berbakat ya" Puji Lilly merasa bangga, namun beberapa detik kemudian wajah nya sedikit murung. "Tidak seperti aku yang kata nya nakal, keras kepala dan sulit di atur"
Aili tersenyum tipis. "Setiap anai mempunyai kelebihan dan kekurangan nya, jadi--"
"Dan aku hanya bagian kekurangan nya saja, aku tidak pernah membuat kalian bangga 'bukan?" Potong Lilly.
__ADS_1
Perlahan ia tau seperti apa diri nya, dan itu semua karena beberapa hal yang Erlan ceritakan tentang diri nya dan sahabat-sahabat nya yang juga menceritakan semua nya.
"Tentu ada" Seru gemas Aili.
"Apa?" Tanya murung Lilly.
"Kamu pintar memasak, sayang!" Aili mencubit hidung Lilly hingga membuat mata wanita itu seketika berbinar antusias.
"Benarkah?"
Aili mengangguk, memang benar Lilly sangat pintar dalam hal memasak. Namun selang beberapa detik wajah berbinar itu kembali di tekuk murung.
"Tapi sekarang aku lupa ingatan, jadi tidak ada yang bisa aku banggakan"
"Tidak sayang, kamu pasti masih memiliki keahlian itu walaupun lupa ingatan"
"Mama tau dari mana huh?"
"Kita coba saja nanti setelah kamu keluar dari rumah sakit" Tantang Aili yang langsung di berikan anggukan yakin dari Lilly.
"Oke nanti kita coba 'ya!"
Sekitar pukul tiga sore, Erlan sudah kembali menemani Lilly di ruangan nya yang ternyata benar pria itu pulang cepat.
"Mana senyum nya, kok cemberut terus sih?" Tanya Erlan seraya menusuk-nusuk pipi Lilly dengan ibu jari nya.
"Ga mau senyum kalau ga di ajak keluar, huh!" Dengus nya ketus.
Melihat itu Aili terkekeh pelan, Lilly yang sekarang cukup manja dan pasti nya mereka lebih suka dengan Lilly yang sekarang walaupun keras kepala nya tetap ada.
"Mau kemana? Taman lagi?" Tanya Erlan yang sudah melepaskan jas serta dasi nya. Tangan nya pun bergerak menggulung lengan kemeja nya sebatas siku lalu membuka dua kancing teratas kemeja nya.
"Aku ingin ke taman belakang, kata nya taman itu lebih sejuk!" Jawab antusias Lilly.
Alis Erlan terangkat sebelah. "Kata siapa?"
"Tadi aku bertanya pada perawat" Jawab Lilly tak berbohong.
"Sana ajak Lilly keluar, dari tadi dia terus merengek" Ujar Aili membuat sepasang pasutri itu menatap nya.
__ADS_1
"Mama mau kemana?" Tanya Lilly saat melihat sang Mama sudah memakai mantel tipis nya serta tas yang di selendang di bahu kiri nya.
"Mama mau menjenguk Lala setelah itu Mama akan pulang"
Mendengar kata pulang seketika Erlan teringat. "Mama sudah tidak tinggal bersama Daddy dan Mommy?" Tanya Erlan.
"Tau dari mana kamu? Moon mengadu?"
"Jawab saja, Ma" Sahut serius Erlan.
"Huh, iya. Mama lebih nyaman tinggal di rumah Mama sendiri" Jawab Aili seadanya.
"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu? Di tambah saat ini Lala tidak ada di rumah"
"Astaga tenang saja Erlan, bukan kah ada banyak pelayan di rumah?"
"Tapi--"
"Sudah jangan khawatirkan apapun, Mama baik-baik saja" Potong Aili berjalan mendekati sepasang suami-istri itu.
Mengecup singkap pipi Lilly, Aili pun kembali menatap menantu nya. "Sana bawa Lilly jalan-jalan, Mama berangkat sekarang"
"Baiklah hati-hati Ma, supir sedang di kantin aku akan menghubungi nya"
Aili mengangguk lalu berpamitan untuk pulang, tidak langsung pulang tetapi wanita setengah baya yang sekarang berstatus Janda itu akan menjenguk putri bungsu nya terlebih dahulu.
"Huuh.." Erlan menghela napas melihat kepergian sang mertua, ternyata sikap Lilly berasal dari wanita itu.
"Ayo ke taman" Ajak Lilly setengah merengek.
Erlan menurut dan langsung membantu Lilly untuk turun dari ranjang, setelah nya pria itu langsung memeluk bahu Lilly seraya menuntun nya berjalan karena Lilly tidak mau menggunakan kursi roda.
Saat hendak membuka pintu, Lilly menghentikan langkah nya membuat Erlan ikut berhenti juga.
"Ada apa.." Pertanyaan Erlan terhenti saat tiba-tiba jari mungil Lilly mengaitkan kancing kemeja yang membuka dada nya itu.
"Milik aku, orang lain ga boleh liat"
...****************...
__ADS_1