My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 33


__ADS_3

"Masih ingat pulang, hum?.."


Mata Lilly membulat sempurna saat melihat wajah tegas dengan sorot tajam nya yang terlihat begitu jelas di dalam gelap nya kamar.


"Er-erlan.."


Napas berat milik Erlan menerpa mengenai kulit wajah Lilly dimana hal itu mampu membuat jantung Lilly berdebar dua kali lebih cepat dari pada biasa nya.


"Dari mana saja istri ku?" Tangan Erlan bergerak mengusap kulit leher Lilly lalu naik hingga ke pipi nya.


"Ma-maaf aku lupa bilang, tadi aku--"


"Bermain hingga lupa waktu dan melupakan suami mu, begitu?"


Lilly mengangguk kecil, karena memang ia lupa bilang pada Erlan bahkan lupa jika sudah memiliki suami jika sedang bersama para sahabat nya.


"Kenapa handphone mu di matikan?"


"Tadi siang kehabisan daya dan baru tadi di jalan pulang aku charger di mobil Brita" Jelas jujur Lilly.


"Hmm.." Erlan mengangguk pelan tanda mengerti. Sejujurnya ia sudah tau kemana Lilly pergi dan bersama siapa.


Karena ia menempatkan dua orang penjaga bayangan yang mengikuti setiap gerak-gerik istri nakal nya ini, bahkan sejak ia mengenal Lilly saat itu.


"Lepasin aku mau ganti baju" Ujar ragu Lilly seraya mencoba menarik lengan nya dari cengkraman Erlan.


"Ganti baju 'ya?.."


Lilly di buat merinding mendengar setiap kalimat yang Erlan ucapkan. Nada bicara pria itu terdengar berbeda dari biasa nya kecuali saat pria itu sedang menahan sesuatu.


"Ayo ganti baju, aku juga belum ganti baju" Ucap Erlan menarik pelan lengan Lilly dan menuntun nya ke arah walk in closet.


"Lampu nya--"


"Lampu nya sedang rusak sayang, malam ini kita gelap-gelapan saja" Sela Erlan.


Mata Lilly mendelik di gelap nya kamar ini, tidak mungkin lampu di kamar ini rusak 'bukan? Dan sekarang walk in closet pun ikut gelap.

__ADS_1


"Bentar aku nyalahin flash du--"


"Ga usah sayang.." Erlan menahan pergerakan tangan Lilly yang memang sedari tadi memegang handphone nya.


Kini pria itu mengambil alih dan meletakkan asal handphone Lilly tanpa takut handphone yang baru ia belikan beberapa waktu lalu rusak.


"Ayo gantinya baju" Bisik Erlan dengan tangan yang melepaskan cardingan yang di pakai oleh Lilly.


"A-aku bisa sendiri, sana kamu ganti baju" Gugup nya.


"Stt.."


Lilly bungkam merasakan benda kenyal menyentuh bibir nya yang ia yakini itu adalah bibir Erlan. Napas pria itu juga terasa begitu panas dan tercium arona aneh seperti..


"Kamu mabuk?"


Erlan menggeleng dan tertawa kecil. "Aku hanya sedikit meminum minuman sialan itu"


Setelah mengatakan kalimat tersebut Erlan langsung menubruk tubuh Lilly dengan pelukan nya dan kepala nya berada di sela leher sang istri.


"Stt.. Aku hanya ingin seperti ini" Bisik nya parau dengan bibir yang sudah menyusuri leher putih Lilly.


Sesaat Lilly terdiam, memang sejak di pintu kamar tadi ia sudah mencium aroma aneh yang sangat familiar di hidung nya.


Sampai akhirnya Lilly tersadar kala tangan Erlan dengan tidak sabar nya meremat bok*ng serta mengangkat dress yang ia pakai hingga perut nya.


"Erlan!" Pekik kaget Lilly.


"Bantu aku sayang, ada klien nakal yang menaruh obat perangsang di minuman ku"


"Apa?!" Lilly tambah kaget mendengar penuturan parau itu, napas Erlan semakin memberat seiring dengan tubuh nya yang menggiring Lilly hingga membentuk lemari. "Sadar Erlan! Katakan dengan benar!"


"Dia menukar minuman ku, sayang. Aku tidak kuat sedari tadi terus menahan nya hikss.." Erlan terisak seiring dengan gejolak di tubuh nya yang semakin menjadi.


"Tu-tunggu Aahhk!!" Desah kaget Lilly begitu tangan Erlan menepuk kuat bok*ng nya.


"Tidak,, aku tidak bisa menahan nya lagi"

__ADS_1


*


*


"Sudah cukup.." Napas Lilly tidak beraturan seiring dengan rasa lelah dan nyeri yang menghantam tubuh nya.


Erlan, pria itu tak kunjung menghentikan gerakan nya padahal jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Gairahh liar nya terus menggebu-gebu dan tak ingin menghentikan semua ini.


Padahal efek obat tersebut sudah mereda, namun salah kan setan mesum dalam diri nya yang tidak ingin menghentikan kegiatan menyenangkan ini.


"Erlan.." Desah nya lirih bahkan tak sanggup untuk bersuara lagi.


"Bersiap untuk menampung anak ku, sayang..!!" Erang tertahan Erlan yang semakin menambah tempo gerakan nya hingga suara dua kulit yang saling beradu itu memenuhi kamar gelap gulita tersebut.


"Errggghh Erlan..!!"


Tubuh kedua nya bergetar seiring dengan rasa hangat yang terus menyembur itu. Erlan ambruk di atas tubuh Lilly dengan pinggull yang masih bergerak pelan, menekan nya semakin masuk dan menghalang calon anak nya yang keluar lewat sela penyatuan itu.


"Ja-jahat hikss.."


Erlan terlonjak mendengar isak tangis Lilly, pria itu langsung menegakkan tubuh nya dan memegang kedua pipi yang sangat basah itu.


"Maaf, maafkan aku sweety. Jangan nangis ya stt.." Ucap lembut Erlan berniat menenangkan Lilly.


Tetapi yang terjadi malah hal itu menambah isak tangis Lilly yang semakin membesar.


"Astaga maaf sweety maaf.." Panik Erlan.


"Lepasin hikss.. Milik ku sakit hiks.. hikss.."


Erlan terkesiap hingga akhirnya pria itu tersadar dan langsung melepaskan penyatuann itu hingga rintihan Lilly menusuk pendengaran nya.


"Maaf sweety maaf, aku--"


"Sakit hikss.." Isak Lilly semakin membesar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2