
Makan malam, seharusnya waktu yang di gunakan untuk keluarga Lilly berkumpul dan bercerita tentang hari ini.
Namun beberapa hari ini termasuk hari ini suasana ruang makan terasa begitu sesak dengan tatapan Lilly yang terus tertuju pada Erlan dan Lala yang terus bercanda.
"Kak Erlan tuh yang harus nya makan banyak supaya ga kurus hahaha" Ledek Lala seraya menaruh beberapa lalapan di piring Erlan.
"Hei astaga, memang nya kakak kambing makan sayuran mentah gini?!" Hardik kesal Erlan mengambil lalapan tersebut lalu di taruh ke piring Lala.
"Hahaha kak Erlan kan teman nya kambing" Lanjut Lala semakin meledek. "Makan sayuran mentah itu sehat lho kak"
"Ya udah kalau sehat kamu aja yang makan"
"Ih aku ga suka 'kan aku bukan kambing haha"
Melihat dan mendengar candaan mereka kedua orang tua Lilly dan Lala hanya bisa menggeleng pelan seraya ikut terkekeh.
Namun lain hal nya dengan Lilly. Jika bisa terlihat mungkin saat ini ada asap yang keluar mengebul dari kedua telinga serta hidung nya.
"Sudah-sudah ayo makan dulu bercanda nya di lanjut nanti" Ujar Aili menengahi kedua nya.
"Baik Ma" Sahut Lala yang selang beberapa detik kemudian kembali menaruh sayuran-sayuran mentah itu di piring Erlan.
"Lala.." Gemas Erlan mencubit pipi gembul Lala.
"Hahah kakak--"
Tring!
Ucapan dan tawa Lala terhenti kala mendengar suara sendok yang di taruh begitu kasar di meja makan itu. Mata mereka pun langsung tertuju pada satu objek yang terus mengeluarkan napas kasar nya.
"Bisa diam ga?!" Sentak geram Lilly.
__ADS_1
Lala terdiam, bahkan kepala nya langsung menunduk melihat wajah marah sang kakak. "Ma-maaf kak, Lala diam kok.."
Lilly berdecak geram, mata nya kini tertuju pada Erlan yang menatap nya tanpa ekspresi sangat berbeda saat menatap Lala tadi.
"Sudah lah Ly, adik mu hanya sedang senang saja karena--"
"Karena apa hah?!" Potong sewot Lilly. "Karena dekat sama Erlan gitu?" Lanjut nya.
Aili terdiam, begitu juga dengan Erick yang sejak awal hanya diam menatap putri nya.
"Lagian ngapain sih dia masih di sini? Bukan kah kalian tidak suka pada Erlan? Lalu kenapa akhir-akhir ini dia terus di sini hah?!"
"Siapa yang bilang kami tidak suka?" Sahut Erick dengan nada datar nya.
"Kalian lupa? Apa perlu aku ingat kan?"
"Masalah kamu yang akan bercerai dengan Erlan biarkan itu menjadi rahasia pribadi. Mau bagaimana pun kedua orang tua Erlan dan Papa masih sahabatan dan kami tidak mau merusak persahabatan karena masalah ini" Ujar panjang Erick.
"Jadi tidak masalah jika Erlan main ke sini dan mengajari Lilly belajar, lagi pula tidak menganggu kamu 'bukan?" Timpal Aili.
"Menganggu! Mereka jelas menganggu ku!" Ucap Lilly dengan nada menekan. "Lihat lah saat ini, makan pun tidak tenang karena suara berisik mereka!"
Kepala Lala semakin menunduk merasa bersalah, bahkan remaja cantik itu meremat jari-jari nya. "Maafin Lala kak.."
"Jangan terus meminta maaf sayang.." Ujar lembut Erlan seraya mengusap surai Lala.
Mendengar nada bicara serta panggilan sayang yang di tekan seperti itu membuat emosi Lilly semakin meluap.
Kini Erlan berganti menatap Lilly. "Jika merasa terganggu silahkan makan di tempat lain, lagi pula Papa dan Mama saja tetap santai memakan makanan mereka"
Brak!
__ADS_1
"Memang nya siapa kamu berani menyuruhku makan di tempat lain hah!" Teriak murka Lilly.
"Bukan siapa-siapa, hanya saja nada bicara mu membuat Lala-Ku takut"
Oke fix, perkataan Erlan benar-benar membuat perasaan Lilly hancur bersamaan dengan emosi nya yang semakin tak terkendali saat mendengar panggilan-panggilan itu.
Tentu nya keluarga mereka tau bahwa si penurut Lala itu mengagumi sosok Erlan bahkan sering memuji-muji Erlan dengan terang-terangan sejak pertama kali Erlan berkunjung ke rumah mereka.
Kini, tanpa mengatakan apapun lagi Lilly langsung berlalu meninggalkan ruang makan. Mengabaikan panggilan dari sang Mama.
Erlan menghela napas nya begitu kasar hingga membuat kepala Lala kembali terangkat dan mengundang tatapan kedua mertua nya.
"Ide kalian cukup ekstrim, bagaimana jika Lilly sakit?"
"Tidak, Lilly sangat sering marah-marah. Jangan lupa dia anak pembangkang dan nakal jadi marah-marah seperti itu tidak akan membuatnya sakit" Jawab Erick.
"Tapi semenjak aku datang ke sini Lilly jadi jarang makan malam"
"Mama sudah menyediakan stok cemilan di kamar Lilly, jadi walaupun nanti Lilly lapar dia bisa makan cemilan itu"
"Hm, tenang dan tahan terlebih dahulu. Bukan kah kamu ingin melihat dan mendengar Lilly mengungkapkan perasaan nya pada mu?" Timpal Erick.
Erlan mengangguk pelan, terbesit rasa mengganjal di hati nya yang begitu berat. "Bagaimana jika sampai hari sidang dia belum mengungkapkan nya?"
"Percaya pada Papa, dua hari ke depan dia akan merobek kertas panggilan dari sidang itu di hadapan mu"
Erlan mengangkat sebelah alis nya. "Lilly belum menyerahkan nya?"
Erick menggeleng. "Lilly masih ragu hanya saja dia egois dan gengsi nya terlalu besar"
"Baiklah kita lihat dua hari ke depan, jika memang seperti yang Papa ucapkan aku akan mengalihkan setengah kekayaan ku atas nama Lilly"
__ADS_1
Erick berdecih pelan. "Oke deal!"
...****************...