
"Gimana Ly?"
"Kamu di hukum atau benar-benar mendapat pengurangan poin lagi?"
"Jika mendapat pengurangan poin, berarti kamu harus tinggal di semester ini dong!"
"Oh tidak-tidak! Jawab Lilly..!!"
Seperti itu lah pertanyaan dan pekikan yang terus Lilly dengar dari ketiga sahabat nya. Bahkan sejak ia baru saja menduduki kursi kantin itu.
Walau pun terus mendapat pertanyaan dan pekikan kesal dari para sahabat nya, Lilly masih enggan membuka suara nya.
Hingga akhirnya mata Lilly menangkap sosok pria yang membuat perasaan nya mengganjal selama beberapa hari ini.
"Ly--"
"Ada yang harus aku bicarakan dengan Nico" Potong Lilly saat Alena hendak kembali bersuara.
Gadis itu pun beranjak dari posisi nya dan menghampiri Nico di ujung pintu masuk kantin itu.
"Nico.."
Sang pemilik nama yang saat itu tengah mengobrol dengan teman nya pun menoleh. Hal pertama yang ia dapati adalah wajah Lilly dengan ekspresi sulit di artikan nya.
Wajah yang selalu ia rindukan dan wajah perempuan yang sangat ia cintai yang ternyata sudah menjadi milik orang.
"Gue duluan, Nic" Ujar teman Nico yang merasa suasana mulai berbeda.
"Hum, nanti gue nyusul" Sahut Nico datar.
"Bisa kita bicara?" Tanya pelan Lilly.
"Silahkan"
"Ga di sini"
Setelah mengucapkan itu, Lilly pun menarik tangan Nico agar pria itu berjalan. Tentu nya Nico hanya menurut dan mengikuti langkah kecil perempuan di depan nya.
Selama di perjalanan kedua nya tak lepas dari pandangan para penghuni universitas tersebut. Tentu nya mereka tau hubungan Nico sang ketua BEM dan Lilly si pembuat onar yang sudah beberapa hari ini terlihat tenang.
Mata elang yang mengikuti langkah Lilly dan Erlan pun terus memancarkan emosi dan amarah nya. Bahkan hingga tubuh kedua nya hilang di balik lorong.
*
__ADS_1
"Bicara lah.." Nico menatap datar wajah Lilly yang sesekali tertutup oleh helaian rambut nya yang tertiup angin di atas rooftop itu.
"Aku mau mengakui semua--"
"Tidak perlu, aku sudah mengerti" Potong Nico.
Pria itu berjalan ke arah kursi bekas dan duduk di sana dengan mata yang menatap jauh ke sana.
"Nico.." Panggil nya lirih. Melihat sikap Nico membuat rasa bersalah Lilly semakin besar.
"Kamu sudah menjadi istri orang 'kan? Dan sekarang kamu ingin memutuskan hubungan kita 'bukan?" Tanya beruntun Nico.
Lilly yang saat ini berdiri di hadapan Nico menggelengkan pelan kepala nya. Gadis itu juga menarik bangku dan duduk di hadapan Nico.
"Aku akui memang benar aku sudah menjadi istri orang, tapi itu semua karena paksaan. Aku di jodohkan" Jelas Lilly membuat Nico berdecih sinis.
Melihat respon itu, lantas Lilly menarik tangan Nico untuk di genggam nya. "Aku tidak mencintai nya, sama sekali tidak"
Jika sebelum nya decihan sinis sebagai respon atas ucapan Lilly, kini yang gadis itu dapat adalah kekehan sinis Nico.
"Tidak mencintai nya tetapi kalian tetap melakukan hubungan suami-istri, begitu?"
Lilly kembali menggeleng. "Tidak, aku dan dia tidak melakukan hal itu!"
Lagi-lagi Lilly kembali menggeleng, mata nya pun sudah bersiap meneteskan bulir bening itu terlebih lagi saat Nico menghempaskan tangan nya.
"Aku sangat-sangat mencintai mu, tetapi kenapa kamu tega mengkhianati ku?"
"Aku di jodohkan, di jodohkan Nico hikss.."
"Kenapa tidak jujur pada ku dari awal? Jika kamu jujur mungkin hal ini tidak akan terjadi!"
"Kita sudahi saja hubungan ini, aku memang jahat pada mu" Ucap lugas Lilly menahan rasa sesak dengan tangan terkepal.
Sontak mata Nico melebar begitu sempurna. Pria itu memegang kedua bahu Lilly cukup erat. "Apa? Ulangi sekali lagi?"
"Kita sudahi hubungan ini, aku jahat. Aku mengkhianati mu hikss.."
"Tidak!" Sentak Nico. "Aku memang kecewa pada mu, dan kamu memang mengkhianati ku. Tapi rasa cinta ku pada mu terlalu besar hingga aku rela menjadi pria bodoh!"
Lilly menggeleng terus menerus, tangan nya menyeka air mata nya dan berusaha melepaskan tangan Nico pada bahu nya.
"Apa yang kamu ucapkan benar, aku mengajak mu ke sini karena ingin mengakhiri hubungan kita"
__ADS_1
"Aku bilang tidak 'ya tidak!"
*
*
Ceklek~
Melihat tubuh Erlan yang hanya di balut celana bahan panjang tanpa atasan itu di atas kasur dengan posisi telungkup.
Lilly pun memasuki kamar dengan wajah bingung. Bukan kah seharusnya Erlan berada di kantor? Lalu kenapa dia ada di sini?
"Erlan?" Panggil pelan Lilly seraya menaruh tas nya.
Mata nya terus menatap tubuh Erlan yang diam tidak bergeming sedikit pun. Apa pria itu tidur?
Dengan berani Lilly menyentuh bahu Erlan berniat mengecek kondisi pria itu. Namun tiba-tiba saja Erlan mengeluarkan suara nya membuat Lilly tersentak kaget.
"Kerjakan tugas mu sekarang" Ujar Erlan pada posisi yang sama. Dimana wajah nya ia tutupi dengan bantal.
"Kamu ga tidur?" Tanya Lilly namun tak kunjung mendapat sahutan. "Kok ada di rumah, memang nya di kantor ga ada kerjaan?" Tanya Lilly lagi.
Tetapi lagi-lagi Erlan tak menjawab nya, bahkan sekedar menggerakkan tubuh nya pun tidak.
"Huuft.. Baiklah aku mandi dulu" Pasrah Lilly tak mengerti akan sikap berubah-ubah Erlan.
*
Keluar dari kamar mandi dengan kaos santai dan celana sebatas paha nya. Lilly pun langsung berjalan ke arah meja belajar tanpa menghiraukan Erlan yang kini sudah duduk dan terus menatap nya.
Lilly mulai membuka file yang Erlan berikan sebagai tugas, lalu meneliti satu persatu kata nya bahkan ia pun men-searching nya ke internet.
Namun entah ini hanya perasaan nya atau cuaca panas di luar yang membuat suasana kamar nya menjadi sangat mencengkram?
Bahkan sesekali Lilly mengusap tengkuk nya saat merasa bulu kuduk nya seakan berdiri.
"Ah seperti nya aku butuh udara dari luar" Gumam Lilly yang beranjak ke arah jendela kamar.
Berniat membuka jendela itu agar angin masuk, namun tak sengaja mata Lilly bertemu dengan tatapan menusuk Erlan.
"Ada apa? Kenapa?" Tanya bingung Lilly.
...****************...
__ADS_1