
Memasuki kelas nya, Lilly pun langsung di sambut oleh pekikan ketiga sahabat nya terutama si rempong, Brita.
"Lilly..!!"
Menaruh tas nya di atas meja, lalu Lilly pun duduk di kursi nya yang sudah bersiap memasang telinga.
"Kamu kemana aja? Tiba-tiba ngambil cuti dan tidak ada kabar sama sekali!" Seru rempong Brita dengan beribu pertanyaan yang siap ia lontarkan.
Sedikit mencondongkan kepala nya ke hadapan Lilly, Brita pun kembali melontarkan pertanyaan nya.
"Mr.Erlan juga izin selama dua minggu, atau jangan-jangan lo--"
"Aku dan Erlan sudah berpisah"
"What?!" Pekik nya kaget.
Hal itu pun mampu mengalihkan tatapan beberapa para mahasiswa yang sudah memasuki kelas itu.
"Mulut lo..!!" Gemas Lilly menampar bibir merah merona milik Brita.
Setelah melayangkan tamparan pada bibir sahabat nya, Lilly pun beralih menatap tajam beberapa mahasiswa yang ada di kelas nya itu.
"Kalian bosan hidup tenang?" Ucap tenang Lilly penuh tekanan.
Sontak mendengar ucapan yang terdengar seperti sebuah ancaman dahsyat tersebut, mereka pun langsung kembali fokus pada urusan masing-masing.
"Kamu bercanda, Ly?" Tanya Alena memastikan ucapan sang sahabat.
"Apa aku memiliki bakat untuk menghibur orang?" Tanya balik Lilly.
Mendengar itu serta melihat tatapan dan ekspresi wajah Lilly, kini baik si kembar Alena dan Elena maupun Brita langsung mengerti bahwa itu semua benar.
"Sebesar apa masalah nya sampai kalian harus berpisah?" Tanya Elena.
Lilly terdiam tak menyahut, wanita itu menatap lurus ke arah meja dosen di depan sana yang masih kosong.
"Berarti sekarang Mr.Erlan duda dong?" Ujar Brita penuh semangat.
__ADS_1
Sontak mendengar ucapan Brita, mata Lilly dan si kembar langsung menatap ke arah nya yang saat ini tengah menepuk-nepuk pipi nya.
"Astaga Mr.Erlan semakin hot dengan julukan duda muda tanpa anak dan yang pasti aku harus mendekati nya!" Heboh nya.
Tk!
Sebuah sentilan yang cukup kuat mendarat di kening nya membuat perempuan itu seketika mengaduh kesakitan.
"Apaan sih Alena!" Ucap tak terima Brita.
Alena tak menjawab tetapi mata nya melirik Lilly, Brita yang melihat itu pun lantas menoleh dan seketika tubuh nya menjauh.
Brita cengengesan melihat tatapan tajam nan menusuk dari Lilly. "Haha tidak Ly, tidak. Aku hanya bercanda"
"Haishh dasar otak selangk*ngan duda!" Celetuk kesal Elena.
"Aku akan menceritakan nya nanti" Sahut Lilly pada akhirnya setelah kembali meluruskan pandangan nya. "Ada hal penting yang perlu aku tanyakan pada kalian" Lanjut nya.
"Pasti tentang Nico 'kan?" Tebak Alena yang sudah mengerti kemana arah pembicaraan Lilly.
Lilly mengangguk samar dan menatap para sahabat nya. "Jelaskan pada ku, sebenarnya apa yang terjadi"
"Itu lho si cupu yang pakai kacamata kuda terus rambut nya di kuncir dua" Ucap Brita mengenalkan ciri-ciri perempuan tersebut.
"Waktu itu, saat di kantin dia numpahin minuman nya ke baju kamu" Timpal Alena saat melihat wajah kebingungan Lilly yang mencoba mengingat.
"Apa? Jadi dia yang di hamili Nico?!"
Ketiga sahabat Lilly mengangguk bersamaan menanggapi rasa kaget wanita itu.
"Dan lebih parah nya mereka sudah menikah beberapa bulan lalu" Lanjut Alena.
Tangan Lilly terkepal kuat, rahang wanita itu mengetat seiring rasa kesal dan emosi. Bukan rasa sakit di hati nya.
"Jadi selama ini dia mengkhianati ku?!" Geram Lilly.
Ketiga sahabat nya kembali mengangguk tetapi beberapa detik kemudian mereka menggeleng dengan kompak.
__ADS_1
"Kamu yang mengkhianati nya lebih dulu, Ly" Ralat Elena yang langsung mendapat tatapan tajam dari Lilly.
Brak!
Wanita itu menggebrak meja nya kesal namun kali ini tidak ada yang berani menatap ke arah mereka.
"Pria brengsek!" Maki Lilly. "Sia-sia aku menangisi nya saat sudah menjadi istri Erlan dan mempertahankan rasa cinta ku pada nya!"
Tidak ada yang membuka suara, mereka tidak ingin membuat Lilly semakin emosi di tambah dengan rumah tangga wanita itu yang sudah hancur.
Lilly bangun dengan napas yang memburu. "Selera nya rendah sekali, setidaknya hamili perempuan yang kasta nya lebih tinggi dari ku!" Erang nya kesal. "Dan pria brengsek harus mendapat pelajaran dari ku!"
Setelah mengucapkan kalimat tersebut Lilly pun langsung berjalan yang tentu di sini ikuti ketiga sahabat nya.
Tetapi baru saja sampai di pintu, langkah ke empat nya terhenti kala melihat sosok pria bertubuh kekar dengan tatapan datar yang berniat masuk ke kelas nya.
Sesaat Lilly dan Erlan saling bertatapan, entah tatapan apa tetapi tatapan itu mengisyaratkan kerinduan mereka.
Sampai akhirnya Erlan memutus tatapan itu dan beralih menatap ketiga sahabat Lilly. "Mau kemana kalian? Ini sudah waktu nya masuk" Ucap nya dingin tanpa ekspresi.
"Ba-baik Mr." Sahut Elena seraya menarik kembaran nya untuk kembali ke tempat mereka.
Begitu pun Brita yang sempat melayangkan tatapan menggoda nya, namun tak bertahan lama karena ia tersadar dengan tatapan datar itu.
"Sudah Ly nanti saja istirahat" Bujuk Brita berniat menarik Lilly untuk kembali.
Tetapi wanita itu langsung melepas tangan Brita.
"Ly--"
"Saya permisi, sir!" Ucap ketus Lilly berniat melanjutkan langkah nya. Namun sebelum itu Erlan mendorong pelan tubuh nya dan menutup pintu kelas.
"Mulai hari ini siapa pun yang sudah masuk ke dalam kelas, tidak akan saya izinkan untuk keluar sekali pun izin ke toilet!" Ucap tegas Erlan pada Lilly sekaligus peringatan untuk para mahasiswa.
Sontak saja mendengar itu para mahasiswa mend*sah kecewa. Ini semua karena Lilly dan bagaimana jika nanti mereka kebelet?.
"Peraturan macam apa ini?!" Seru tak terima Lilly.
__ADS_1
"Kembali ke tempat atau poin mu kembali saya kurangi!" Ancam Erlan dengan jurus andalan nya.
...****************...