My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 45


__ADS_3

Satu minggu menghabiskan waktu di pulau pribadi milik Erlan, dimana dua hari Lilly berada di bawah genggaman Arlan sang alter ego dan sisa nya bermain bersama Erlan.


Kini sepasang suami-istri itu berada di dalam helikopter yang pribadi yang tentu nya milik pria itu juga.


Melepaskan seatbelt saat helikopter tersebut mendarat di sebuah rumah di dalam hutan, Erlan pun kini menggenggam begitu erat tangan Lilly.


"Ini..?" Ucap bingung Lilly seraya memperhatikan sekitar nya.


"Rumah aku, lebih tepat nya rumah yang aku beli saat ingin jauh dari keramaian" Jelas Erlan.


Lilly menatap Erlan dengan tatapan sulit diartikan, begitu pun dengan perasaan nya yang semakin tidak menentu.


Ada rasa penasaran dalam diri Lilly dan ingin mengenal Erlan lebih jauh. Memang Lilly akui selama ini ia tidak peduli tentang siapa Erlan dan seperti apa pria itu.


"Mau istirahat dulu atau langsung pulang?"


"Pu-pulang aja" Jawab terbata Lilly.


Melihat tatapan tidak biasa dan sikap Lilly yang berubah seratus delapan puluh derajat pada nya, Erlan pun terkekeh seakan mengerti.


"Kenapa tertawa?" Tanya Lilly aneh.


Erlan menggeleng dan merapihkan surai sang istri yang terkena terpaan angin dari baling-baling helikopter yang baru saja berhenti berputar


"Ke depan nya kamu harus lebih memperhatikan ku agar kamu tidak bingung seperti ini" Ledek nya.


Sontak mendengar itu sudut bibir Lilly terangkat sebelah di iringi decihan nya. "Cih, bahkan kita tidak tau bagaimana ke depan nya"


Erlan langsung terdiam, hal yang membuat nya khawatir dan takut selama beberapa hari ini pada akhirnya hari ini mungkin akan terjadi.


"Ayo masuk" Titah Erlan seraya membuka pintu mobil.


Lilly tak langsung masuk, ia menatap sejenak wajah Erlan hingga akhirnya tubuh wanita itu di dorong perlahan dengan Erlan agar masuk ke mobil.


"Sebelum pulang kita ke rumah sakit terlebih dahulu" Ujar nya yang baru saja memasang seatbelt di tubuh Lilly lalu mengecup singkat bibir itu.


"Mau apa?" Tanya Lilly dengan raut waspada.


"Tenang saja aku tidak akan menjual organ mu di saja" Canda Erlan yang mampu membuat mata Lilly membulat sempurna dengan mulut yang tertutup rapat.


...*...

__ADS_1


...****************...


...*...


Lilly terdiam menegang kala Erlan menuntun langkah nya ke depan salah satu ruangan bertuliskan Maternity Room. Tentu kali ini Lilly tidak bodoh, ia tau ruangan apa itu.


"Ayo masuk, aku sudah membuat janji dengan dokter nya" Ajak Erlan kembali menuntun Lilly untuk melangkah.


Tetapi wanita itu menahan langkah nya membuat Erlan langsung menatap nya dengan tatapan bertanya.


"Kenapa ke sini? Siapa yang mau di periksa?" Tanya Lilly.


"Kamu" Jawab singkat Erlan mengeratkan genggaman nya kala Lilly mencoba menarik tangan nya dari genggaman itu.


"Ga! Aku ga maju! Aku ga hamil!" Sentak nya tertahan.


Erlan tersenyum lembut dan menarik tubuh itu hingga sebelah tangan nya merangkul posesif pinggang Lilly.


"Kita cuma memeriksa nya, sayang. Siapa tau kamu sudah hamil 'bukan?"


Lilly menggeleng keras, ia tidak merasakan tanda-tanda kehamilan terlebih lagi ia masih belum menginginkan seorang anak.


"Ga! Ga mau!" Bentak Lilly tak mampu ia tahan hingga beberapa orang yang berlalu lalang pun menatap mereka.


"Hanya memeriksa, aku tidak memaksa jika pun tidak ada hasil nya" Jelas lembut Erlan.


"Jangan gila Erlan! Aku tidak merasakan gejala apapun yang biasa nya di rasakan oleh perempuan yang hamil!"


"Tau dari mana, hm?"


Lilly terdiam sesaat. "Ya-ya memang benar, bukan kah jika hamil akan merasa mual?" Sahut nya ragu.


Erlan kembali tersenyum lalu mengecup dalam pipi Lilly. "Tidak ada lagi yang mendukung ku sekarang, baik itu Mommy atau oun Daddy. Aku hanya bisa mengharapkan janin itu" Batin nya di saat mengecup pipi Lilly.


"Ayo cepat kita harus memeriksa nya sebelum orang tua kita akan datang ke sini"


"Hah?" Beo bingung Lilly, otak nya kembali bekerja begitu lambat.


"Saat di jalan menuju rumah sakit ini aku mengaktifkan handphone ku yang pasti nya sekarang mereka bisa melacak keberadaan kita" Jelas Erlan.


Mendengar itu tiba-tiba saja Lilly yang menjadi panik dan takut, astaga ada apa dengan nya? Kenapa ia harus takut? Pikir nya.

__ADS_1


"Ayo" Ajak Erlan lagi saat melihat Lilly hanya diam.


Pada akhirnya dengan langkah ragu wanita itu pun mengikuti langkah Erlan memasuki ruangan tersebut.


"Relax sayang, pemeriksaan ini tidak akan melukai mu" Bisik lembut Barra saat merasakan tangan Lilly meremat kemeja nya.


"Selamat siang Tuan Erlan, Nyonya Erlan" Sapa sang dokter ramah.


"Siang dok" Jawab Erlan. "Langsung periksa saja" Lanjut nya.


Sang dokter mengangguk. "Silahkan lewat sini Tuan, Nyonya" Tunjuk nya sopan ke arah pintu.


Erlan pun mengangguk dan mulai melangkah, tentu nya dengan Lilly di samping nya dan sang dokter yang menuntun langkah mereka.


"Silahkan berbaring di sini, Nyonya" Ujar sang dokter menuju pada brankar di samping nya.


Lilly menggeleng pelan, wanita itu malah bersembunyi di belakang tubuh kekar suami nya.


"Sayang.." Panggil lembut Erlan seraya menuntun Lilly.


"Aku--"


"Stt,, hanya memeriksa nya" Potong Erlan.


Lilly ragu dan tak mau menaiki brankar itu, hingga pada akhirnya Erlan mengangkat tubuh nya dan membaringkan nya di brankar tersebut.


"Erlan!" Sentak kaget Lilly hendak bangun.


"Please, sweety.." Mohon Erlan yang mengecup punggung tangan Lilly.


Pada akhirnya Lilly terdiam, menarik napas nya begitu dalam lalu mengangguk pelan. "Baiklah"


Erlan tersenyum mendapat persetujuan itu, mata nya pun beralih pada sang dokter. "Silahkan dok"


"Ada beberapa pemeriksaan, apa tuan yakin akan menemani Nyonya?"


Erlan menatap Lilly. "Mau aku temani atau.." Ia tidak melanjutkan perkataan nya saat merasakan sebelah tangan Lilly melingkar di pinggang nya dan mencengkram begitu erat kemeja itu.


"Saya akan menemani setiap pemeriksaan nya dok" Putus Erlan yang awal nya ingin memberi ruang pada Lilly dan dokter, tetapi gerakan wanita itu menandakan bahwa ia tidak ingin di tinggal.


"Baiklah, saya akan memulai nya.."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2