
Mata Erlan mendelik kesal mendengar bisikan sang istri. Kenapa Lilly versi yang sekarang menjadi lebih berani menggoda nya?
"Siapa yang ngajarin jadi penggoda seperti ini, huh?" Dengus Erlan.
"Kamu" Jawab Lilly mencubit hidung Erlan hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Lilly..!!"
Lilly tertawa kecil lalu melepaskan cubitan nya dan beralih memeluk pinggang pria itu. "Udah 'ya jangan ngambek terus nanti cepat tua lho"
"Kamu nya yang kegenitan sama dokter dan perawat di sana"
Lilly menghela pelan tetapi bibir nya tetap tersenyum. "Baiklah, maafkan aku" Pasrah nya mengalah.
"Oke, aku maafin!" Dengus Erlan seraya memeluk bahu Lilly membuat tubuh wanita itu bersandar di dada nya.
Cukup lama kedua nya berada di posisi tersebut, hingga akhirnya kepala Lilly mendongak menatap wajah Erlan yang juga ikut menunduk menatap nya.
"Aku masih kuliah 'kan?" Tanya Lilly yang langsung mendapat anggukan dari Erlan. "Jadi kapan aku masuk lagi?"
Mendengar pertanyaan itu, Erlan pun menegakkan tubuh nya hingga membuat Lilly melepaskan pelukan nya.
"Kenapa?" Lilly bingung saat melihat ekspresi tak terbaca Erlan.
"Kamu yakin mau lanjutin kuliah nya?" Tanya Erlan yang tersirat ke khawatiran nya.
"Kenapa nggak?"
"Masalah nya kamu lupa ingatan dan itu tidak mudah jika untuk memahami materi di semester lima ini"
"Alena bilang aku tidak pernah fokus pada materi, jadi anggap saja aku--"
"Tidak sayang, aku selalu memberikan materi tambahan saat di rumah agar kamu mengerti" Potong Erlan yang kini sudah memegang kedua bahu Lilly.
__ADS_1
"Jadi menurut kamu, aku ga perlu lanjutin kuliah?"
Erlan terdiam sejenak, pria itu sangat khawatir tentang kinerja otak istri nya di tambah saat ini yang ada di hadapan nya bukan Lilly yang sebelum nya.
Sudah pasti wanita ini akan belajar dan mencoba memahami materi yang sudah tertinggal sangat jauh dan Lilly bisa naik di setiap semester nya pun, itu semua karena Erlan.
"Bisa mengerti maksud aku?" Tanya lembut Erlan, padahal ia belum menjelaskan apapun tetapi Erlan yakin bahwa Lilly mengerti diri nya lewat tatapan sesaat itu.
"Tapi aku ingin memiliki gelar sarjana di belakang nama ku"
"Dengar" Erlan beralih memegang kedua pipi Lilly dengan tatapan tegas nya. "Kamu itu istri ku, ada atau tidak nya gelar sarjana di belakang nama mu. Kamu tetap istri ku yang memakai marga Harrison di belakang nama mu"
Lilly menghela napas pelan, wanita itu mengerti akan ke khawatiran Erlan terhadap diri nya. Sedangkan Erlan yang melihat raut kecewa dari Lilly membuat pria itu kembali memeluk tubuh istri nya.
"Baiklah terserah kamu, asalkan jangan terlalu memaksa kan diri jika tidak mengerti" Putus pasrah Erlan.
"Tidak.." Tangan Lilly melingkar memeluk pinggang Erlan, wajah nya ia benamkan pada dada pria itu. "Aku akan menuruti perkataan mu dan menjadi istri yang lebih baik lagi"
Deg!
"Berjanji pada ku bahwa kamu tidak akan meninggalkan ku" Ujar Lilly lagi yang sudah mengangkat pandangan nya.
"Tentu, aku berjanji sayang" Sahut cepat Erlan dengan mata berkaca-kaca terharu.
Cup!
Kecupan hanga itu Lilly berikan pada bibir Erlan yang langsung di sambut oleh tangan pria itu yang menahan tengkuk nya lalu mengh*sap cukup rakus bibir nya.
*
*
"Sudah berapa lama kita menikah?" Tanya Lilly seraya melihat album foto pernikahan nya.
__ADS_1
"Kurang lebih satu tahun" Jawab Erlan yang asik memainkan rambut istri nya.
"Wah sudah lama juga 'ya" Erlan mengangguk-angguk sebagai tanggapan. "Tapi kenapa di setiap foto ini aku merasa bahwa senyum aku terlihat di paksakan?"
Gerakan Erlan terhenti sesaat sebelum pria itu kembali melanjutkan nya. Ternyata Lilly cukup peka pada setiap ekspresi wajah nya di foto-foto itu.
"Saat itu kamu sedang datang bulan jadi mood kamu benar-benar berantakan dan aku yang menjadi sasaran nya" Jawab bohong Erlan di iringi helaan napas nya. "Apa aku harus menjadi pembohong agar istri ku mencintai ku?" Batin nya sedih.
Lilly menutup album tersebut kemudian menaruh nya di nakas dan masuk ke dalam pelukan Erlan yang di sambut dengan hangat oleh pria itu.
"Ah, andai aku tidak amnesia pasti akan seru aku bisa mengingat semua nya tanpa banyak bertanya pada mu atau orang lain"
Erlan tidak mampu berkata-kata mendengar keluhan sang istri. Jika Lilly tidak amnesia mana mungkin kedua nya bisa lengket seperti ini, yang ada hanya keributan setiap hari.
"Tidak apa, aku tidak keberatan menceritakan apapun yang ingin kamu tanyakan" Jawab Erlan pada akhir nya.
Lilly mengangguk manja pada dada pria itu kemudian kepala nya kembali mendongak.
"Kenapa lagi, hum?"
"Aku penasaran, kemana saja kita saat honeymoon?"
"Honeymoon?" Ulang Erlan.
"Iya, ayo ceritakan!" Sahut antusias Lilly.
"Tapi sayang nya kita belum honeymoon"
"Hah?" Rahang Lilly hampir jatuh kala mendengar jawaban Erlan.
"Ga usah kaget gitu, kita belum honeymoon karena kamu ga mau" Gemas Erlan mencubit pipi Lilly.
"Ya udah kalau gitu besok kita honeymoon!"
__ADS_1
Kini bergantian, rahang Erlan lah yang hampir terjatuh mendengar ucapan lugas sang istri tanpa rem.
...****************...