My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 55


__ADS_3

"Tanda tangani surat perceraian itu"


"Apa tidak ada lagi kesempatan, em maksud ku. Aku sudah berjanji pada Erlan untuk menemani nya terapi"


"Apa Papa melarang kamu untuk bertemu dengan nya? Tidak bukan?"


"Mau bagaimana pun keluarga kita dan keluarga Erlan masih menjalin persahabatan, kami tidak ingin persahabatan yang di bangun sejak lama rusak begitu saja karena hubungan kalian yang berakhir"


"Kamu juga tidak mencintai Erlan, jadi untuk apa di berikan kesempatan. Mulai sekarang lebih baik nya kalian menjadi teman saja"


"Baiklah Ma, Pa. Lilly masuk kamar dulu"


...----------------...


Lilly terus menatap selembar kertas yang berlogo Pengadilan Agama di tangan nya itu dengan bayangan percakapan singkat nya dengan kedua orang tua nya tadi.


"Bukan kah semua ini yang aku ingin kan sejak menikah dengan Erlan, tetapi kenapa rasa nya begitu sesak?"


Sebut saja Lilly labil dan serakah. Di saat keputusan tersebut sudah berada di tangan nya tetapi Lilly masih ingin tetap bersama Erlan dengan perasaan nya yang semakin tidak karuan.


"Persetanan dengan semua rasa ini! Aku ingin bebas dan menikmati masa muda ku!" Desis berat Lilly yang pada akhirnya menandatangani surat tersebut.


*


Ting! Ting! Ting!


Kelopak mata Lilly yang baru saja terpejam, kini kembali terbuka saat mendengar notifikasi beruntun dari handphone nya.


Dengan perasaan kesal meraih handphone nya di nakas yang sudah menunjukkan pukul satu malam.


Nama My-Husband dengan emotikon love itu lah yang muncul di lookscreen Lilly yang berhasil membuat mata nya membulat.


"Astaga sejak kapan aku menamai kontak Erlan dengan nama ini?" Gumam nya kaget.


Memang bukan Lilly tetapi Erlan sendiri lah yang menamai nya. Tentu nya pada saat Lilly di belikan handphone tersebut sebagai ganti nya handphone wanita itu yang hancur karena Erlan.


Dan sekarang Lilly baru tersadar akan nama kontak tersebut, padahal siang tadi pria itu sudah menghubungi nya tetapi ia tidak memperhatikan nya.


Lilly pun membuka aplikasi pesan itu dan masuk ke dalam room chat kedua nya. Seketika mata Lilly kembali melebar.


'Turun Ly'


'Aku ada di depan, tolong turun'


'Aku tau kamu belum tidur'


'Aku tidak bisa tidur padahal kepala ku sangat sakit'


"Yang benar saja?" Gumam Lilly kaget.

__ADS_1


Dengan cepat Lilly bangun dan mendekati jendela kamar nya. Mengintip dari sela gorden yang ternyata memang benar di samping gerbang rumah nya ada mobil yang berhenti di situ.


Seketika napas Lilly memburu, dengan perasaan kesal ia melempar asal handphone nya di kasur dan keluar dari kamar nya.


Jalan mengendap bak seorang maling, Lilly pun telah keluar dari rumah nya dan berlari melewati pekarangan luas itu menuju gerbang.


"Nona!" Panggil sang penjaga yang menjaga rumah Lilly.


Wanita itu berhenti dan menatap ke arah penjaga dengan tatapan dingin. "Kenapa?!"


"Nona mau kemana? Ini sudah sangat larut"


"Apa urusan mu huh?!"


"Maaf nona, tapi apa anda sudah izin pada tuan?"


"Sudah! Puas!"


Penjaga itu menunduk sopan, merasa tidak enak.


"Bukain gerbang nya, saya mau ke depan!"


"Sebentar saya hubungi tuan dulu untuk--"


"Tidak perlu! Papa sudah tidur lagi dan kau ingin menganggu istirahat tuan mu?!" Potong tegas Lilly dengan wajah tanpa ekspresi nya.


"Baiklah nona, akan saya temani karena ini sudah terlalu--"


Tak ingin membantah atau menyingung sang nona besar, penjaga itu pun membuka gerbang menjulang itu untuk sang nona.


"Jangan di kunci dan kembali berkeliling, jangan sampai ada maling!"


"Baik nona, saya permisi" Penjaga tersebut menunduk hormat sebelum pada akhirnya kembali berkeliling mengawasi sekitar pekarangan rumah.


"Huuft.." Hela lega Lilly.


Setelah nya wanita itu langsung keluar dan mendekati mobil yang sangat ia kenali itu.


Tanpa meminta izin pada sang pemilik mobil itu terlebih dahulu, Lilly pun langsung masuk ke dalam mobil yang memiliki dua pintu.


"Say--"


"Kamu gila!" Sentak Lilly dengan nada tinggi.


Seketika Erlan bungkam, baru saja senyum manis menghiasi wajah nya saat melihat ke datangan Lilly.


"Kenapa malam-malam ke sini hah! Sudah aku bilang beristirahat dan.." Omelan Lilly terhenti kala tiba-tiba Erlan melayangkan kecupan panas nya di pipi Lilly yang membuat perempuan itu terdiam.


"Jangan ngomel terus, kepala aku lagi sakit dan aku hanya butuh pelukan mu saat ini untuk meringankan rasa sakit di kepala ku" Ucap lirih Erlan dengan kepala yang sudah bersandar di bahu Lilly.

__ADS_1


"Kenapa sakit lagi? Tadi udah ga sakit kan?"


Erlan terdiam tidak menyaut.


"Kenapa?" Ulang Lilly penuh penekanan.


"Belum makan malam sama belum minum obat nya juga.." Jawab Erlan pada akhirnya.


"Kenapa belum!" Nada bicara Lilly kembali meninggi dan beruntung nya mobil itu di lengkapi dengan peredam suara hingga di luar sana tidak bisa mendengar.


Erlan menghela napas berat mendapat pertanyaan itu, lalu pria itu membenarkan posisi duduk dan bersandar di sandaran jok nya.


"Kepala aku sakit, lalu apa aku harus memasak nya sendiri? Bahkan jalan saja aku paksa kan" Ujar nya. "Lalu minum obat dengan kondisi perut kosong bukan kah tidak baik?" Lanjut nya menatap Lilly dari posisi nya.


Lilly geram bukan main. "Datang ke sini bisa, lalu kenapa sekedar masak nasi dan telur mata sapi tidak bisa hah!"


Erlan terdiam beberapa saat, tidak tahu kah Lilly bahwa saat ini diri nya benar-benar tersiksa dengan rasa sakit di kepala nya dan rasa kantuk yang membuat diri nya hampir menambrak mobil lain ataupun menambrak pohon di jalan.


"Er--"


"Aku rasa sudah cukup, setidaknya malam ini aku bisa tidur walaupun hanya sebentar setelah melihat wajah mu" Potong Erlan tersenyum tipis.


Seketika rasa kesal, geram dan emosi Lilly lenyap begitu saja.


Erlan melepas jaket nya lalu menyelimuti paha putih Lilly yang terekspos karena wanita itu hanya memakai celana di atas lutut. "Terima kasih dan kembali lah tidur dengan nyenyak"


"Setelah menyuruh ku untuk ke sini, lalu sekarang kamu mengusir ku untuk keluar?"


Erlan menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak mengusir tapi ini sudah terlalu larut dan besok kamu harus kuliah"


Kening Erlan berkerut bingung melihat Lilly yang keluar dari mobil nya lalu berjalan mengitari mobil dan tiba-tiba saja membuka pintu di sebelah nya.


"Keluar" Ucap nya.


"Kenapa?" Tanya bingung Erlan.


"Aku bilang keluar Erlan!"


Oke, Erlan menurut dan keluar dari mobil nya yang kemudian wanita itu langsung masuk dan menduduki jok kemudi nya.


"Masuk"


"Hah?"


"Masuk Erlan" Ucap pelan Lilly menahan kesal.


Erlan yang bingung pun hendak kembali masuk sebelum akhirnya tubuh nya di tahan oleh Lilly.


"Maksud ku masuk dan duduk di sebelah, biar aku yang menyetir!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2