
Ruang rawat Lilly kembali sepi setelah para keluarga berpamitan untuk pulang, lebih tepat nya mereka pulang karena Aili masih membutuhkan istirahat.
Dan kini di dalam ruang rawat nya Lilly berbaring dengan kepala yang berada di atas pangkuan Erlan, tatapan nya terlihat kosong menatap ke arah jendela ruangan yang menampilkan terangnya langit malam.
"Seperti apa Papa ku?" Tanya tiba-tiba Lilly dengan mata yang masih menatap lurus keluar jendela.
Erlan yang semula mengusap-usap surai panjang Lilly kini gerakan terhenti. Mata nya menatap wajah cantik Lilly walaupun terlihat pucat.
"Papa orang yang baik, dia juga sangat menyayangi mu walaupun kamu nakal dan sering membuat ulah"
Lilly berbalik, menatap wajah Erlan dari bawah dimana pria itu juga tengah menatap nya. "Aku nakal?"
Erlan mengangguk. "Kamu sering membully para mahasiswa di kampus, bahkan beberapa dari korban mu ada yang masuk ke rumah sakit"
"Benarkah?" Tatapan Lilly berubah menjadi sendu, seketika diri nya merasa bersalah mendengar penuturan Erlan.
Erlan lagi-lagi mengangguk, memang semua yang ia ucapkan saat ini benar apa ada nya.
"Lalu?" Tanya Lilly lagi.
"Orang tua aku dan orang tua kamu, mereka saling bersahabat. Kita menikah karena di jodohkan oleh mereka"
"Di jodohkan?" Ulang Lilly kaget. "Apa sebelum nya aku--"
"Kita saling mencintai walaupun kita di jodohkan" Potong Erlan seakan mengerti arah pembicaraan Lilly.
Mendengar itu Lilly tersenyum tipis. "Aku ingin melihat foto Papa"
"Sebentar"
Erlan meraih handphone nya di nakas kemudian mengutak-atik nya sesaat hingga pria itu menunjukkan sebuah foto. Lebih tepat nya foto pernikahan mereka.
"Ini..?" Lilly mengambil handphone Erlan kemudian menatap begitu intens foto pernikahan itu.
"Yang berdiri di samping mu, itu dia Papa. Erick Lawrence" Jelas Erlan.
__ADS_1
Lilly pun langsung terfokus pada foto sang Papa yang tersenyum begitu bahagia, seketika tanpa Lilly sadari lagi air mata nya pun menetes.
Erlan menyeka lembut air mata Lilly, pria itu tentu tau bahwa istri nya menangis tanpa sadar. Walaupun semua ingatan Lilly telah hilang tetapi di dalam lubuk hati nya yang terdalam pasti ia merasakan sesuatu.
"Kenapa aku jelek sekali? Kenapa aku tidak tersenyum padahal itu hari bahagia ku?" Tanya Lilly begitu melihat ekspresi wajah nya yang terlihat murung dan terkesan tidak bahagia.
"Eumm,, saat itu setelah pengucapan janji suci aku kebablasan dan mencium rakus bibir mu sampai kamu marah-marah" Jawab Erlan yang memang benar apa ada nya.
Tetapi jika di tanya apa saat itu Lilly tidak bahagia maka jawaban nya adalah benar, Lilly tidak bahagia.
Mendengar jawaban Erlan seketika pipi Lilly bersemu malu, tiba-tiba saja pikiran nya melayang pada hal yang tidak seharusnya ia pikirkan sekarang.
"Kenapa hum? Kok merah gini" Goda Erlan mengusap kedua pipi Lilly.
"Ga, gapapa" Jawab Lilly cepat yang kemudian kembali memalingkan wajah nya ke arah jendela ruang rawat itu.
"Cepat-cepat lah sembuh agar kita bisa melakukan nya" Bisik Erlan mengecup sekilas cuping Lilly.
"Erlan..!!"
"Mr.Erlan" Sapa serempak si kembar Alena dan Elena serta Brita.
"Kalian datang?" Erlan sedikit terkejut namun ekspresi wajah nya tetap terlihat datar.
Pasalnya saat di kampus tadi ke tiga wanita itu memang menanyakan kondisi Lilly dan Erlan tentu menjawab sejujurnya karena memang ketiga sahabat Lilly itu sudah mengetahui segala nya.
"Tentu, kami 'kan ingin menjenguk sahabat kami yang sudah sadar" Sahut Brita dengan senyum manis nya.
Plak!.
Seketika Elena yang berada di samping wanita itu langsung menampar lengan nya cukup keras.
"Aww.. apaan sih Elena!!" Raung kesal Brita.
"Jangan genit, dia suami sahabat mu!" Ketus Elena.
__ADS_1
"Orang cuma senyum aja masa di bilang genit huh!" Dengus nya kesal.
Elena hanya memutar malas bola mata nya sebelum akhirnya ketiga wanita itu terfokus pada Erlan yang kembali berbicara.
"Seperti yang saya ceritakan di ruangan saya sebelum nya. Kalian jangan sampai salah bicara atau kondisi Lilly kembali memburuk!" Tegas Erlan penuh penekanan.
"Baik Mr., tenang saja kami akan menjaga ucapan kami" Sahut Alena sopan.
Setelah nya Erlan pun mengetuk pintu ruangan sang istri sebelum akhirnya masuk bersama ketiga wanita itu yang berjalan di belakang nya.
"Eoh? Ada teman-teman Lilly?" Ujar Moon kala melihat ketiga wanita itu yang tidak asing bagi nya.
"Halo Mommy mertua-Eh!" Brita langsung menutup mulut nya dan tertawa canggung.
"Astaga.." Geram tertahan Elena. "Halo tante" Sapa si kembar itu bersamaan.
"Halo juga wanita-wanita cantik" Sapa Moon kembali seraya terkekeh.
Sedangkan Lilly yang mendengar sapaan Brita seketika melayangkan tatapan tidak senang nya.
"Apa-apaan dia? Mommy mertua? Hanya aku yang boleh memanggil seperti itu!" Batin nya kesal.
Erlan yang melihat ekspresi Lilly pun diam-diam menyunggingkan senyum nya. "Ah, seperti nya Lilly benar-benar mencintai ku" Batin nya bahagia.
"Hai Ly, gimana kabar mu?" Sapa Alena dengan mata berkaca-kaca bahagia, begitu pun dua wanita yang lain nya yang saat ini sudah berdiri di samping ranjang rawat Lilly.
"Baik" Jawab seadanya Lilly.
Tatapan tidak senang nya berganti bingung saat melihat wajah asing ketiga wanita itu.
"Kalian..?"
"We're your friends, Ly" Sahut sendu Alena.
...****************...
__ADS_1