My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 49


__ADS_3

Lilly, wanita itu terus mengaduk-aduk makanan nya dengan perasaan kesal. Sebelum nya selama jam pelajaran berlangsung tak sedikit pun Erlan melirik nya.


Bahkan jika biasa nya pria itu akan terus mencecar diri nya dengan pertanyaan dan berakhir dengan hukuman. Hari ini tidak, dan mungkin seterusnya.


Sedangkan tiga sahabat nya hanya diam menatap prihatin ke arah Lilly. Apakah ini yang di sebut penyesalan datang nya di akhir?


"Huuh.. Aku udah kenyang" Ujar nya di iringi helaan napas berat seraya mendorong piring makanan itu menjauhi nya.


"Kenyang makan rasa kesal?" Celetuk Elena.


Sontak Lilly yang kesal pun langsung melotot ke arah wanita itu.


"Kenapa? Aku benar 'kan?" Lanjut Elena mengabaikan tatapan kesal sang sahabat. "Bukti nya tuh makanan cuma di aduk-aduk doang, belum juga di cicipi rasanya gimana"


Mata Lilly beralih menatap makanan yang ia pesan di kantin kampus, kemudian kembali mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah.


"Sudah lah Ly, tidak usah di pikirkan. Lagi pula berpisah dengan Mr.Erlan memang keinginan mu dari dulu 'bukan?" Ujar Alena.


Lilly tak menyahut, kini netra nya menangkap satu objek dimana terlihat sosok pria tinggi berkulit putih dengan balutan jas berlogo universitas tersebut tengah mengantri di depan stan minuman.


Ketiga sahabat nya yang tak mendapat respon pun seketika mengikuti arah pandangan Lilly.


"Pria brengsek!" Pekik Lilly seraya bangun dengab tangan yang memukul meja nya.


Sontak saja mata para penghuni kantin langsung tertuju pada nya. Lilly mengabaikan tatapan itu dan beralih mendekati Nico yang tengah menatap nya juga.


Bugh!.


Satu bogeman cukup keras mendarat di rahang Nico yang masih terbengong melihat amarah Lilly.


"Brengsek! Sialan!" Maki Lilly. "Setidaknya kalo mau ngehamilin orang, cari yang spek nya lebih tinggi di atas gue. Sialan!" Lanjut nya.


Pukulan kembali Lilly layangkan pada perut Nico, namun saat hendak melayangkan pukulan ketiga pria itu menahan tangan Lilly.


"Tenang Ly, aku bisa jelasin semua nya" Ujar lembut Nico.

__ADS_1


Bisikan pun mulai terdengar menyapa indra pendengaran Lilly membuat diri nya semakin panas.


"Ga ada yang perlu lo jelasin, terlebih lagi hubungan kita sudah selesai!"


Bisikan para mahasiswa itu terhenti sesaat begitu mendengar perkataan Lilly.


Baru saja Lilly menghempaskan tangan Nico yang menggenggam tangan nya, tiba-tiba saja pria itu kembali menggenggam tangan nya dan menarik nya keluar dari kantin.


"Woi temen gue mau di bawa kemana!" Pekik Brita berniat mengejar tetapi gerakan nya di tahan oleh si kembar.


"Biarin mereka selesain masalah mereka sendiri" Ujar si tegas Elena.


"Tapi gimana kalau Lilly--"


"Lilly bukan perempuan lemah, dan tadi aku sempet liat Mr.Erlan berdiri di pintu kantin ngeliat ke arah mereka" Potong Alena.


Brita terdiam sesaat hingga akhirnya wanita itu menutup mulutnya tidak percaya. "Serius?"


Alena mengangguk yakin.


"Ah siall, aku kira Mr.Erlan udah ga peduli sama Lilly" Desis kesal Brita.


Brita cengengesan. "Kamu harus nya tau dong, duda panas ga boleh di lewatkan"


Si kembar yang mendengar Brita terus menyebutkan hal itu hanya mampu memutar malas bola mata nya. Rasa penasaran wanita itu semakin bertambah pada Erlan.


...----------------...


"Lepasin!" Bentak Lilly seraya menghempaskan tangan Nico yang menarik nya ke gudang belakang universitas itu.


"Aku tau aku salah Ly, maafin aku" Ujar Nico berusaha menggapai tangan Lilly.


Namun wanita itu terus menjauhi Nico dengan wajah marah, tidak ada kesedihan sama sekali.


"Udah gue bilang, gue ga butuh penjelasan dan hubungan kita memang sudah berakhir sebelum lo ketahuan ngehamilin si cupu itu 'kan?!"

__ADS_1


"Kalau emang udah berakhir, lalu kenapa tadi kamu mukul aku dan memaki aku. Bukan kah itu tanda nya kamu masih mencintai ku?"


Cuih!


Lilly membuang salivanya asal dengan ekspresi jijik nya. "Gue cuma ga terima kenapa lo harus ngehamilin si cupu itu? Apa ga ada perempuan lain yang setidaknya lebih cantik dari gue hah?!".


Benar, Lilly memang tidak cemburu atau pun sedih mendengar bahwa pria yang dulu nya ia cintai kini sudah menghamili seorang perempuan yang lebih parah nya perempuan itu adalah korban bully Lilly.


Wanita itu merasa harga dirinya telah di jatuhkan, karena mau bagaimana pun yang para mahasiswa di luar tau, bahwa saat ini dirinya dan Nico masih menjalin hubungan.


"Dengar Ly!" Nico memegang kedua bahu Lilly dengan cara menyudutkan wanita itu ke dinding kotor gudang tersebut.


"Menjauh sialan!" Teriak Lilly mencoba mendorong Nico, namun pria itu hanya bergerak sedikit.


"Malam itu aku mabuk dan ga sengaja--"


"Perk*sa dia? Gitu maksud nya?!" Potong Lilly dengan nada tinggi.


Nico terdiam sesaat sampai akhirnya pria itu mengangguk. "Tapi aku sama sekali tidak mencintai--"


"Halah gue ga peduli, mau lo cinta sama dia atau pun ngga yang pasti urus si cupu itu dan urus calon anak lo!"


Lilly mendorong kuat tubuh Nico hingga akhirnya tubuh pria itu menjauh. Dengan napas memburu Lilly pun berjalan ke arah pintu gudang yang tertutup itu tetapi langkah nya berubah haluan kala Nico menarik tubuh nya dan langsung menerjang bibir nya.


"Emmm..!!" Erang tertahan Lilly seraya memukuli tubuh Nico dan mencoba mendorong nya.


Tetapi kini pria itu mengunci segala pergerakan nya. Baik itu tangan, kaki, atau pun kepala dimana rahang nya di cengkraman oleh Nico.


"Aku sangat mencintai mu Ly, bahkan aku tidak takut jika harus merebut mu dari suami mu" Bisik nya saat memberikan jeda pada ciuman panas itu.


"Menja--Emmmm!!!" Teriakan Lilly kembali berganti denhan erangan tertahan saat pria itu kembali menerjang nya.


Bahkan dengan tidak sopan nya Nico menarik kemeja Lilly hingga kancing kemeja wanita itu terlepas.


Mer*mas salah satu gunung milik Lilly denhan begitu kasar di balik kacamata penutup nya, bibir Nico pun turun ke arah leher putih itu.

__ADS_1


Brak!


...****************...


__ADS_2