My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 22


__ADS_3

"Mom.."


Moon mengalihkan perhatian nya pada Lilly. "Kenapa sayang?"


"Kapan aku bisa pulang? Aku bosan di sini terus" Keluh nya di iringi helaan napas berat nya.


"Nanti ya, Erlan 'kan belum ngasih izin"


Bibir Lilly mencebik, sungguh ia merasa bosan. Sudah tiga hari ia berada di rumah sakit ini padahal kondisi nya sudah membaik.


"Ayo habiskan sandwich nya, itu Mommy buat sendiri lho"


Lilly mengangguk dan kembali memakan sandwich buah buatan sang mertua dengan mata yang terus berkeliling memperhatikan sekitar taman rumah sakit ini.


"Lilly?" Panggil seseorang.


Sang pemilik nama menoleh ke belakang, begitu pun dengan Moon.


"Nico.." Gumam kaget Lilly.


Sandwich di tangan Lilly sampai terjatuh saking kaget nya gadis itu, sedangkan Moon? Wanita setengah baya itu menatap penuh aura permusuhan ke arah Nico.


Tentu ia tau siapa pria yang berdiri itu, dan tentu nya Moon tau hubungan apa yang di miliki oleh Lilly dan pria itu.


"Kamu sakit?" Tanya khawatir Nico yang saat ini sudah berjongkok. Pria itu pun memegang kedua bahu Lilly.


Lilly menggeleng pelan, saat ini ia sedang shock terhadap gerakan tiba-tiba Nico. Mata nya pun melirik Moon dengan takut.


Melihat gelengan itu Nico tidak percaya. Pasalnya saat ini Lilly tengah memakai baju rawat yang di sediakan oleh rumah sakit itu.


"Lilly--"


"Jauhkan tangan anda dari menantu saya!" Potong menekan Moon seraya menghempaskan kedua tangan Nico di bahu Lilly.


Nico terdiam, mata nya melirik bergantian Lilly dan wanita setengah baya yang begitu cantik dan elegan itu.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Moon pun berdiri seraya menuntun Lilly untuk ikut berdiri juga.


"Ayo sayang, kita kembali ke kamar" Ajak Moon menuntun Lilly agar berjalan.

__ADS_1


"Tunggu" Nico memegang lengan Lilly hingga pergerakan mereka terhenti.


"Saya bilang jangan sentuh menantu saya!"


"Maaf tante, tapi ada hal yang harus saya bicarakan dengan Lilly"


"Tidak boleh!" Sentak Moon begitu galak seraya kembali menghempaskan tangan Nico.


Setelah nya dengan buru-buru Moon menuntun Lilly untuk berjalan dan meninggalkan taman itu. Menyisakan Nico dengan tangan mengepal nya.


"Siall!" Umpat marah Nico. "Siapa wanita itu? Kenapa aku seperti pernah melihat nya, dan siapa suami Lilly arghhh!!" Erang nya frustasi.


Sungguh Nico sangat membenci situasi seperti ini. Dimana ia terjebak dengan seorang wanita karena kesalahan nya hingga membuat wanita itu hamil anak nya.


Dan sekarang, kekasih yang sangat ia cintai ternyata sudah menjadi istri dari pria lain. Sepertinya pria itu juga bukan pria biasa pikir Nico yang semakin membuat nya frustasi.


*


"Kamu masih berhubungan dengan nya?" Tanya Moon dengan tatapan tak biasa.


Sejak sampai di kamar rawat nya Lilly hanya diam menundukkan kepala nya. Baru kali ini ia merasa tidak enak pada Moon, padahal sejak awal menikah ia tidak memperdulikan perasaan Erlan atau pun keluarga nya.


"Lilly ga tau Mom, Lilly.." Ia bingung ingin mengatakan apa lagi.


Karena memang belum ada kata putus di antara kedua nya, yang ada hanya kemarahan dan ucapan kecewa Nico saat itu.


Moon memegang kedua bahu Lilly membuat gadis itu langsung menatap nya dengan tatapan takut.


"Kamu masih belum bisa menerima Erlan?"


Lilly diam, tidak menggeleng atau pun mengangguk membuat Moon menghembuskan napas nya kasar lalu melepaskan tangan nya dari bahu Lilly.


"Oke, Mom mengerti. Di tambah dengan masalah ini pasti kamu tidak akan bisa menerima Erlan 'bukan?"


Lilly masih diam dengan tangan yang terus meremat seprai di ranjang rawat itu.


Moon terkekeh, bukan kekehan lucu tetapi itu terdengar seperti kekehan miris. Wanita itu juga duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang rawat Lilly.


"Erlan memang tidak sempurna, gangguan yang dia miliki selama ini membuat dia menjadi pria tertutup. Bahkan dia tidak berani membuka hati nya untuk para wanita baik di luar sana" Ujar Moon.

__ADS_1


Lilly terus bungkam, namun tidak ada satu kata pun yang terlewat untuk ia dengarkan.


"Tetapi begitu melihat kamu saat pertama kali Mom menyuruh nya mengantarkan bingkisan ke rumah kamu. Sejak saat itu dia mulai terbuka, Erlan bilang pada Mommy bahwa dia menyukai mu"


Moon menegakkan tubuh nya, menatap serius Lilly dengan tatapan yang terlihat menyedihkan itu.


"Kamu mau nya bagaimana?" Tanya berat Moon.


"Ma-maksud Mommy?"


"Mom tau ini terlalu cepat, tapi apa lah daya jika kamu tetap tidak bisa menerima anak Mom. Lama-kelamaan Mom kasihan juga melihat Erlan, lebih baik Mom yang mengurus nya"


Deg!


Saat itu juga rasa sesak menghantam Lilly, mata nya seketika berair.


Ceklek~


Pintu ruangan itu di buka, mata mereka pun beralih menatap pintu tersebut dan terlihat lah sosok Erlan dengan penampilan tidak serapih sebelum nya.


"Mom.." Sapa Erlan seraya mengecup pipi sang Mommy.


"Kok udah pulang?" Tanya bingung Moon pada Erlan yang saat ini tengah berjalan menghampiri Lilly.


"Kerjaan aku udah beres semua, Mom" Sahut Erlan yang baru saja mengecup kening Lilly.


"Sudah lebih baik?" Tanya Erlan pada Lilly.


Lilly mengangguk pelan, ingin menyahut bahkan saat ini kondisi nya sangat baik pun Lilly tidak bisa.


Entah kenapa setelah mendengar perkataan Moon sebelum nya, perasaan Lilly menjadi campur aduk.


"Sini duduk dulu, tadi Mommy buat sandwich kamu mau coba?"


"Hum kebetulan aku sedang lapar!" Sahut semangat Erlan seraya mendekati sang Mommy.


Melahap dengan cepat beberapa potong sandwich yang belum termakan, Erlan pun terus melayangkan pujian pada Mommy.


"Aku tidak salah dengar 'bukan? Mommy memberi pilihan untuk ku? Lalu bagaimana dengan Erlan?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2