
Bell rumah Erlan terus berbunyi padahal sang pemilik rumah saat ini tengah berjalan menuju pintu utama dengan perasaan dongkol.
"Liam sialan, bisakah kau--!!" Makian pria itu yang baru saja membuka pintu terhenti dan berganti dengan tatapan datar kala melihat dua orang pria berseragam dinas.
"Saudara Erlan Dallin Harrison?" Ujar salah seorang pria berseragam itu.
"Hm, saya sendiri" Jawab Erlan.
"Kami ingin memberikan surat panggilan sidang perceraian saudara Erlan Dallin Harrison dengan saudari Lily Lawrence" Jelas pria itu menyerahkan amplop coklat panjang.
"Dan juga anda harus menandatangani surat tersebut agar sidang berjalan dengan lancar" Timpal pria yang satu nya.
Dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan cukup tajam, Erlan tak menerima amplop coklat tersebut. "Bagaimana jika saya tidak ingin menyetujui gugatan tersebut?"
"Maka proses perceraian saudara dengan saudari Lilly Lawrance akan berjalan cukup lama sampai kedua belah pihak menyetujui nya"
Erlan terkekeh pelan. "Kapan saya harus datang?"
"Rabu depan sidang pertama kalian, jika kedua belah pihak saling setuju maka hanya perlu sekali sidang"
"Hm baiklah" Erlan pun menerima amplop tersebut lalu di susul dengan kedua pria itu yang berpamitan pergi.
Cukup lama Erlan menatap amplop tersebut hingga beberapa saat kemudian pria itu terkekeh, namun bukan kekehan lucu tetapi entah lah pria ini begitu misterius.
Saat menutup pintu dan berbalik, mata Erlan menangkap tubuh mungil Lilly di ujung anak tangga sana dengan pakaian lengkap nya dan juga tas yang di lampirkan di bahu nya.
"Siapa? Mana obat nya?" Tanya Lilly saat diri nya sudah berada di hadapan Erlan.
Mata Lilly pun menangkap amplop coklat di tangan Erlan yang memiliki logo tak asing bagi nya.
"Bukan obat, tapi luka yang datang" Jawab Erlan mengangkat amplop tersebut.
Lilly mematung kala melihat surat dari pengadilan telah di kirimkan untuk Erlan, berarti saat ini surat tersebut juga sudah ada di rumah nya.
"Emm.. Ba-bagus lah kalau surat panggilan nya sudah jadi, jangan lupa tanda tangani" Ucap Lilly terbata di awal.
Rahang Erlan mengetat namun tak lama kemudian pria itu tersenyum. Melempar asal amplop tersebut lalu ia mendorong mundur tubuh Lilly hingga terjatuh di atas sofa.
__ADS_1
"Siapa yang kasih izin untuk pakai baju?" Tanya dingin Erlan. "Dan mau kemana ini huh?" Lanjut nya menarik tas Lilly.
"Cukup Erlan, aku harus pulang sebelun Papa dan Mama curiga"
"Curiga?" Ulang Erlan dengan sebelah alis yang terangkat.
"Emm itu, maksud nya tadi aku di suruh langsung pulang"
"Benarkah?" Erlan memajukan wajah nya bahkan mengungkung wanita itu di sofa tersebut.
"Iya, dan sekarang lebih baik kamu istirahat supaya saat persidangan nanti kamu tidak sakit lagi!"
Lilly pun menyentak sebelah tangan Erlan dan mendorong pria itu hingga kini akhirnya ia bisa berdiri tegak.
Mengambil tas nya yang sempat di lempar asal oleh Erlan, kemudian Lilly langsung melangkah ke arah pintu tanpa memperdulikan Erlan yang saat ini tengah menatap nya dalam diam.
"Eh, Nyonya" Sapa kaget Liam saat ia baru saja ingin menekan bell rumah sang bos tetapi pintu nya telah di buka oleh istri dari bos nya ini.
"Liam?"
"Iya nyonya"
Liam menggaruk pelan tengkuk nya. "Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Itu obat untuk bos mu 'bukan?" Tanya nya dengan mata yang menatap paper bag berlogo apotek.
Liam mengangguk. "Benar nona"
"Pastikan dia minum obat nya sampai habis dan urus dia"
"Aku bisa mengurus diriku sendiri dan terima kasih kamu masih memperdulikan ku" Sahut tiba-tiba Erlan yang sedetik kemudian melayangkan kecupan pada leher Lilly.
"Erlan!" Sentak sang pemilik leher.
Sedangkan Liam yang melihat itu langsung memalingkan wajah nya. "Astaga, bukan kah mereka akan berpisah? Lalu apa tadi? Dan kenapa di leher nona banyak tanda merah nya?"
"Mau aku antar?" Tawar Erlan mengabaikan wajah kesal Lilly.
__ADS_1
"Tidak perlu!" Lilly menginjak cukup kuat kaki Erlan hingga membuat pria itu mengerang kesakitan.
"Erghh,, Lilly..!!"
"Ups sorry ga sengaja tapi niat" Sahut Lilly penuh ejekan sebelum akhirnya tubuh mungil itu berlari kecil.
"Dasar istri nakal" Gemas Erlan mengusap kaki nya yang terasa berdenyut.
"Ekhem mantan istri maksud nya, tuan?" Ralat Liam yang mendapat tatapan tajam dari pria itu.
"Sialan kau!" Maki nya.
Liam meringis kecil mendapat makian seperti itu, namun tak khayal bahwa ucapan bos nya ini memang menggelitik pendengaran nya.
Merampas paper bag di tangan sang asisten, Erlan pun lantas mengibaskan tangan nya beberapa kali tanda mengusir.
"Maaf tuan, tapi pesan nona--"
"Lalu siapa yang mengurus perusahaan hah?!" Potong kesal Erlan.
Memang benar, jika tidak ada Erlan atau pun Liam maka kondisi perusahaan tidak dapat di kendalikan. Banyak sekali karyawan yang leha-leha jika mengetahui atasan nya sedang tidak ada di kantor.
"Baiklah kalau gitu saya akan kembali ke perusahaan dan mengatur ulang jadwal tuan selama tiga hari ke depan"
"Tidak perlu, besok aku akan masuk lagi"
"Tidak bisa tuan, karena dalam anjuran apoteker tadi tuan juga di perintahkan untuk istirahat selama beberapa hari"
"Cih, memang nya di sini siapa yang menjadi bos nya?"
"Anda tuan" Jawab Liam menunduk.
"Jadi lakukan saja!"
"Baiklah, tiga hari ke depan jadwal anda kosong"
"Liam!!"
__ADS_1
...****************...