
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Lilly langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan Erlan yang mampu membuat sang pemilik yang tengah bersandar di kursi kerja nya langsung membuka mata.
"Kenapa bisa pusing? Tadi baik-baik aja?" Tanya Lilly seraya mendekati pria itu. Tak lupa untuk menutup pintu ruangan terlebih dahulu.
"Mungkin karena belum makan" Jawab lemas Erlan yang kembali memejamkan mata nya.
Dengan mata sedikit memicing, Lilly pun menyentuh kening pria itu yang ternyata memang cukup hangat.
"Kenapa belum makan?" Tanya Lilly lagi.
"Tidak ada istri yang biasa membuatkan ku makanan"
Lilly tak bersuara, hanya mata nya yang terus bergerak memperhatikan wajah tampan dengan bibir pucat nya.
Lama tak mendapat sahutan, Erlan pun kembali membuka mata nya. "Jangan terpesona dulu, aku sedang tidak mood untuk menggoda mu. Honey"
"Ck, yasudah urus saja diri mu sendiri. Aku tidak peduli!" Decak kesal Lilly berniat melangkah.
Namun tangan kekar Erlan yang melingkar di perut nya mampu menahan langkah nya.
"Setidaknya antarkan aku pulang, kepala aku sangat-sangat sakit. Nanti kalau di jalan aku kecelakaan gimana? Kan belum tandatangan surai cerai nya"
Surat cerai? Apa maksud nya? Kenapa bicara seperti ini? Bukan kah kemarin dia tidak mau bercerai dengan ku dan kenapa malah berbicara seperti ini? Batin Lilly dengan perasaan dongkol nya.
"Telepon sopir di rumah mu untuk menjemput mu!" Sahut kesal Lilly melepaskan tangan Erlan dan kembali melangkah.
Tak menghiraukan panggilan Erlan, tangan Lilly pun sudah memegang handle pintu yang gerakan nya kembali terhenti saat mendengar erangan Erlan.
"Errrghhh tolong Ly, sakit..!!" Erang pria itu.
Lilly menoleh mendapati Erlan yang tengah menekan kepala nya dengan mata terpejam rapat.
"Ah, siall!" Maki Lilly pada diri nya.
Mengabaikan rasa kesal nya pada pria itu, Lilly pun kembali mendekat. "Dimana kunci mobil nya?!"
"Di saku jas ku" Sahut lirih Erlan di iringi dengan rintihan kesakitan nya.
__ADS_1
"Sudah tau sakit kenapa malah ngajar sih? Mending istirahat di rumah biar ga ngerepotin orang!" Celoteh kesal Lilly.
Mencari-cari kunci mobil di saku jas pria yang terus mengerang kesakitan itu, sampai akhirnya Lilly menemukan nya.
"Ayo cepat bangun!"
Tak ada nada lembut, yang terdengar hanya suara ketus dan kesal namun tersirat kekhawatiran nya yang dapat Erlan rasakan.
"Tuntun aku.."
"Ga mau, nanti di lihat--"
"Lalu gimana aku jalan nya? Kepala aku sangat sakit, Lilly" Potong Erlan dengan nada pasrah.
Menghentakkan kesal kaki nya, pada akhirnya Lilly pun membungkuk dan melingkarkan tangan nya pada pinggang Erlan yang di balas rangkulan bahu pria itu.
"Ayo" Lilly membantu Erlan untuk berdiri sebanyak dua kali, karena kali pertama pria itu kembali terduduk dengan alasan lemas.
"Lebih baik ke rumah sakit dulu" Saran Lilly di sela langkah nya.
"Pulang ke rumah Dad-- Utama?" Ralat Lilly yang hampir saja menyebut Daddy.
"Ke rumah kita, Ly"
Lilly menghentikan langkah nya dan menatap tajam Erlan. "Sudah aku bilang--"
"Baiklah rumah aku" Potong pria itu.
Mendengus kesal, pada akhirnya Lilly kembali melanjutkan langkah nya menuntun pria itu bak sepasang kekasih yang tengah berjalan dengan tangan yang saling merangkul.
Sampai tiba lah di lorong ramai yang harus mereka lalui, langkah Lilly pun terhenti menatap horor lorong itu seakan terdapat puluhan makhluk halus.
"Jalan sendiri aja deh, nanti.." Lilly tak melanjutkan perkataan nya tetapi tangan wanita itu berniat melepaskan rangkulan nya dari pinggang Erlan sebelum pada akhirnya di tahan oleh pria itu
"Kamu lagi bantuin aku, lho" Peringat Erlan.
"Ishh tapi aneh gitu, masa mahasiswa bantu dosen nya sampai seperti ini dan mereka tau kalau kamu dan aku seperti-"
__ADS_1
"Shhh,, kenapa semakin sakit" Desis Erlan menghentikan ucapan Lilly.
"Hari siall memang tidak ada di kalender!" Batin kesal Lilly.
Pada akhirnya wanita itu mengalah dan kembali menuntun Erlan menerobos keramaian itu dengan bisikan-bisikan para mahasiswa yang mampu menaikkan emosi Lilly.
"Lo!" Sentak Lilly menghentikan langkah nya dan menatap ke arah seorang mahasiswa di samping nya. "Bantu gue nuntun Mr.Erlan, dia lagi sakit!" Ucapnya cukup keras yang Lilly pastika mampu di dengar para mahasiswa di lorong itu.
Sontak mata sayu Erlan langsung melebar dan menatap penuh penekanan ke arah mahasiswa laki-laki yang tengah menatap nya seperti sebuah kode.
"Ah itu, maaf bukan nya tidak mau membantu tapi saya ada urusan. Permisi" Tolak pria itu yang langsung pergi.
Erlan menghela napas lega, dan semakin mengeratkan rangkulan nya pada bahu Lilly.
Mendengar dan merasakan hal itu Lilly mendongak, menatap penuh curiga pada wajah Erlan.
"Kenapa?" Tanya lirih Erlan.
Lilly tak menyahut, mata nya kembali menatap mahasiswa di sisi lain nya. "Lo-"
Belum sempat melanjutkan perkataan nya tiba-tiba saja pria yang di tuju itu bersuara. "Maaf Ly, tapi gue ada urusan" Potong nya langsung pergi.
"Lo-"
"Ayo kata nya mau kerja kelompok" Ajak pria yang akan Lilly tuju pada teman-teman nya hingga akhirnya pria itu berlalu pergi.
Melihat itu semua Erlan mati-matian menahan tawa. Pasalnya ia hanya menunjukkan tatapan mematikan nya ke arah mahasiswa yang akan di tuju oleh Lilly untuk membantu nya, tetapi para mahasiswa itu langsung mengerti dan ketakutan.
"Shitt!!" Umpat kesal Lilly.
"Tidak baik seorang perempuan mengumpat, sudah lah ayo jangan membuang waktu" Ujar lemas Erlan.
Melayangkan tatapan tajam dengan wajah memerah menahan kesal ke arah Erlan. Lilly pub kembali melanjutkan langkah nya.
"Awas saja kalian!" Batin Lilly penuh dendam karena tak ada yang membantu nya.
...****************...
__ADS_1