
Akan pulang saat matahari menampakkan cahaya nya? Tidak akan tidur karena takut kebablasan? Itu semua hanya ucapan Lilly semata yang pada akhirnya ia lewatkan.
Terbukti saat ini matahari sudah berada di atas kepala, tetapi wanita itu masih nyaman di dalam pelukan Erlan.
Sedangkan Erlan yang awal nya berniat membangunkan Lilly karena wanita itu harus kuliah, namun langsung ia urungkan.
Erlan ingin menjadi egois saat ini, yang ia butuhkan adalah Lilly dan pelukan hangat nya saat tidur yang sangat Erlan rindukan beberapa hari ini.
"Jangan bangun, tetap seperti ini" Ucap nya dalam hati seraya mengeratkan pelukan nya.
Namun seperti nya karena pelukan tersebut dan terpaan napas Erlan yang mengenai wajah Lilly.
Kini wanita itu menggeliat tersadar dari alam mimpi nya.
"Jam berapa ini?" Gumam nya bertanya.
"Sebelas"
"Oh.." Lilly hanya ber-oh ria, nyawa nya bekum terkumpul akibat tidur nyenyak nya yang entah sejak kapan jadi berada di posisi tersebut.
Selama beberapa menit suasana masih terasa tenang, sampai tiba-tiba Lilly langsung duduk dengan wajah kaget setengah mati.
"Apa? Jam berapa?" Ulang nya menoleh menatap Erlan.
"Sebelas"
"Siang?"
Erlan mengangguk dan ikut bangun, lebih tepat nya bersandar pada kepala kasur itu.
"Oh my god! Aku kebablasan!" Pekik nya panik.
Sedetik kemudian Lilly langsung menjengkat turun dari kasur, kesana-kemari entah mencari apa yang pasti wanita itu sangat panik.
"Tenang saja, aku sudah meminta izin pada Papa dan Mama"
Deg!
Seketika Lilly mematung dengan napas yang tercekat dan menatap tidak percaya ke arah pria itu.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana bisa? Papa--"
"Aku menjamin mu dengan lima persen saham perusahaan ku pada Papa"
Lilly semakin bingung, mulut nya menganga tidak mengerti akan ucapan Erlan sampai akhirnya pria itu menarik nya hingga kembali ke atas kasur.
"Papa meminta kompensasi karena dia bilang aku menculik mu bahkan membuat penyakit jantung nya kembali kumat karena kamu menghilang begitu saja"
"Ja-jadi..?"
Erlan mengangguk. "Anggap saja bayaran karena kamu mengurus ku"
"Astaga tidak! Apa-apaan itu! Memang nya aku pelayan dan Papa tidak mungkin seperti itu!"
"Nyata nya seperti itu" Jawab Erlan seraya menunjukkan bukti kesepakatan nya.
"Gila!" Umpat Lilly spontan. Dirinya benar-benar kaget dan bingung harus berkata seperti apa lagi.
"Jadi aku tidak mau menyia-nyiakan lima persen saham ku yang bisa membeli dua pulau James Island" Lanjut Erlan menarik Lilly ke dalam pelukan nya.
Lilly terdiam mematung, mengingat bagaimana bisa diri nya tertidur padahal pukul dua dini hari ia sedang memainkan handphone Erlan
Flashback On..
Jam di handphone Erlan telah menunjukkan pukul dua lewat sepuluh dini hari tak terasa sudah hampir setengah jam Lilly menjelajahi media sosial pribadi milik Erlan.
Dimana banyak sekali wanita-wanita entah itu yang masih muda hingga yang sudah tua mengirim nya pesan melalui salah satu aplikasi.
Namun di balik itu semua, tidak ada satu pun yang Erlan respon dan hal itu pun mempu membuat sudut bibir Lilly terangkat membentuk senyum.
"Terbukti, hanya aku yang paling cantik dan menggoda di mata Erlan hihi" Gumam nya cekikikan.
Rasa bahagia itu membuat Lilly menyandarkan kepala nya dan menatap lurus ke arah langit-langit kamar.
Sekelebat bayangan kemesraan nya dengan Erlan saat berada di pulau pribadi milik pria itu, terlintas membuat Lilly terus tersenyum.
Hingga tanpa sadar momen bahagia itu mampu membuat kelopak mata nya tertutup padahal sejak awal Lilly berhasil menahan nya agar tetap terbuka.
Handphone di tangan nya pun terjatuh menimpah kepala Erlan yang membuat pria itu meringis kecil dan langsung mengangkat kepala nya.
__ADS_1
Erlan yang memang sedari tadi belum benar-benar tertidur ia terus mendengarkan setiap umpatan wanita itu yang sedang memainkan handphone nya.
"Ya, kamu tau itu sweety. Hanya kamu yang aku cintai dan hanya kamu yang paling menggoda walaupun dengan berbicara saja" Gumam pelan Erlan sepelan-pelan nya.
Selama beberapa saat Erlan hanya terdiam memperhatikan wajah cantik yang sudah terlelap dengan mulut menganga itu.
Erlan pun beralih mengambil handphone nya dan mengetikkan sesuatu lalu mengirim nya pada kontak bernama 'Papa'
Setelah nya pria itu menaruh handphone nya di bawah bantal dan mengusap pipi Lilly.
"Terima kasih, cintaku.." Bisik nya sebelum membenarkan posisi Lilly dan memeluk nya.
.
Pagi hari nya, Erlan terbangun lebih dulu saat mendengar suara notifikasi handphone di bawah bantal nya yang terus berbunyi.
'Oh jadi kamu yang menculik Lilly?'
'Sekarang cepat pulangkan Lilly!'
'Gara-gara kamu, saya hampir kena serangan jantung karena anak kesayangan saya hilang tiba-tiba!'
Erlan terkekeh pelan membaca pesan beruntun dari sang Papa mertua. Dengan cepat ia membalas nya.
'Lilly masih tidur Pa, seperti nya dia sangat kelelahan karena mengurus ku' Balas Erlan yang dua detik kemudian pesan nya langsung di baca oleh Erick.
'Ck, berikan kompensasi lima persen saham perusahaan mu sebagai ganti nya dan saya bebaskan Lilly sampai jam dua belas siang bersama mu!'
Erlan kembali terkekeh mendapat jawaban seperti itu. 'Apa itu terlalu memeras? Bagaimana jika dua hari?' Tawar nya.
'Oke deal! Tapi tambah dengan mobil BMW X7!'
'Oke siap, mobil akan datang nant siang dan terima kasih atas negosiasi nya Papa mertua'
Setelah mengirim kan pesan itu, Erlan melempar asal handphone nya pada sisi kasur yang kosong di belakang Lilly.
Mendekap semakin erat tubuh Lilly, Erlan pun tersenyum penuh kemenangan mendapat negosiasi seperti itu.
"Kalian pikir aku tidak tau rencana kalian, huh?"
__ADS_1
...****************...