
Prang! Prang!
Suara pecahan barang berhasil mengisi hening nya rumah besar tersebut setelah kepulangan sang tuan muda.
Wanita dengan perut buncit di atas kasur sana hanya bisa meringkuk dan menutup telinga nya rapat-rapat, tak memberikan celah untuk mata nya melihat kekacauan di depan nya.
"Puas lo?!" Teriak Murka Nico. "Puas lo buat gue jadi begini hah?!" Lanjut nya.
Cindy tak menjawab, bahkan sekedar merespon perkataan Nico pun tidak. Yang terdengar hanya isak tangis nya yang ia coba tahan.
"Gara-gara lo jabatan gue di kampus di tarik dan gara-gara lo, Lilly jadi semakin benci sama gue!"
"Aahhkk!! Ampun kak hikss ampun..!!" Erang Cindy ketakutan kala kaki nya di tarik oleh Nico.
"Puas kan lo?"
Cindy menggeleng, berapa kali ia harus berkata bahwa sejak awal ia tidak butuh pertanggung jawaban pria di depan nya ini.
Berakhir diri nya lah yang terus di salahkan dan di jadikan bahan luapan emosi pria itu bahkan lebih parah saat Nico mengetahui bahwa Lilly ternyata sudah menikah.
"Jawab begoo!" Maki kasar Nico menoyor cukup kuat kepala Cindy.
Tak kunjung menjawab, wanita itu terus menangis mendapat perlakuan serta perkataan kasar dari Nico, suami nya yang membenci nya.
Hal itu pun berhasil membuat emosi Nico semakin meledak hingga tangan pria itu terangkat dan berniat memukul wajah menyebalkan Cindy.
Namun sebelum itu terjadi terlebih dahulu pintu kamar nya di buka begitu kasar oleh seseorang di iringi bentakan nya tak kalah murka.
"Berhenti Nico Rodriguez!"
Nico menoleh namun tidak dengan Cindy yang langsung menjauhkan tubuh nya dari genggaman Nico.
"Pa-Papa..!!"
Bugh!
Satu pukulan cukup keras mendarat di rahang Nico hingga membuat tubuh pria itu terhuyung.
"Kamu benar-benar pria brengsek, Nico!" Desis nya tajam. "Menyesal Papa telah membiarkan kalian tinggal seatap!" Lanjut nya.
Sedangkan saat ini tubuh bergetar Cindy telah di peluk begitu erat dan penuh kasih sayang oleh Mama mertua nya, yang tak lain adalah perempuan yang melahirkan pria kejam seperti Nico.
"Yah--"
"Mulai malam ini Papa akan membawa Cindy untuk tinggal jauh dari mu, biarkan anak nya lahir tanpa sosok seorang Ayah seperti mu bahkan Papa tidak akan membiarkan cucu Papa mengenal kamu!"
__ADS_1
"Tidak!" Sentak tajam Nico, tubuh nya bangkit dan mendekati sang Papa. "Dia istri ku--"
"Cih, istri?" Potong nya terkekeh. "Suami mana yang terus memukuli istri nya hah? Bahkan Papa saja tidak pernah melukai seinci pun tubuh Mama mu!"
"Tapi dia anak ku, darah daging ku dan Papa tidak berhak--"
"Papa berhak, sangat berhak" Potong nya. "Bahkan jika mau Papa akan mendaftarkan perceraian kalian!"
"Aku bilang tidak ya tidak!" Teriak emosi Nico.
Bugh! Bugh! Bugh!
Robert langsung memukuli Nico dengan membabi buta setelah mendengar teriakan tidak sopan putra bungsu nya itu.
Bahkan kini tubuh Nico sudah terkulai lemas di lantai dengan tangan yang berdarah akibat terkena goresan vas bunga yang ia pecahkan sebelum nya.
"Pa udah Pa. Lebih baik sekarang kita bawa Cindy.." Ucap lirih wanita lembut yang tengah memeluk hangat Cindy.
Robert berdecih kasar sebelum pada akhirnya berdiri dengan tegak dan mendekati istri serta menantu nya.
"Tinggalkan barang-barang mu di sini, Papa sudah menyiapkan yang baru di tempat baru mu" Ucap nya pada Cindy.
Cindy hanya mengangguk dengan sisa tangis nya. Berada di pelukan wanita yang berstatus sebagai mertua nya ini membuat diri nya begitu tenang.
"Ayo"
"Kembali ke kasur atau aku akan menghancurkan panti tempat mu tinggal dahulu!" Desis geram Nico penuh ancaman dan hal itu pun mampu membuat Robert melayangkan tatapan mematikan nya.
"Hancurkan sebisa mu karena setelah ini semua kartu atm mu Papa blokir!"
"Blokir saja, karena malam ini mereka pun sudah bersiap untuk meratakan panti itu bersama orang-orang nya"
"Nico!"
...*...
...****************...
...*...
Entahlah siapa yang memulai, yang pasti kondisi saat ini di dalam kamar Erlan sungguh berantakan.
Pakaian kedua manusia yang sedang dalam masa perceraian itu berserakan di lantai dengan sang pemilik tubuh yang berada di bawa selimut.
"Kembali bersama ku, honey" Bisik Erlan tepat di depan wajah Lilly. Tangan nya membelai lembut kedua pipi wanita itu dengan kening kedua nya yang saling menyatu.
__ADS_1
"Batalkan gugatan itu, aku tau kamu mencintai ku"
Seketika kelopak mata Lilly terbuka bersamaan dengan kepala nya yang menoleh menghindari tatapan memabukkan Erlan.
Hal itu pun membuka kesempatan bagi Erlan untuk kembali mengecupi rahang serta leher Lilly yang sudah terdapat cukup banyak tanda merah.
"Sudah cukup, aku harus pulang sekarang" Ucap Lilly mendorong pelan dada panas Erlan.
"Bahkan kita belum memulai nya honey, kamu tega meninggalkan ku dan milik ku yang sudah menegang hm?"
Lilly dapat merasakan daging panas yang tegang itu menyentuh inti nya, bukan sekedar menyentuh tetapi bergesek dengan nya.
"Kita tidak bisa seperti ini, Erlan.."
"Kita bisa, honey"
Lilly menggeleng, mencoba melepaskan tubuh dari kungkungan Erlan. Siall nya ia pun tidak sadar dengan apa yang saat ini ia lakukan bersama Erlan.
"Sudah basah, dia sudah siap untuk bertempur. Sayang"
Erlan mengambil posisi, bersiap kembali menerobos liang sempit itu walaupun sang pemilik tubuh mulai memberontak.
"Stt,, nikmati saja honey, aku pastikan kali ini benih ku akan jadi"
"Ah--emm..!!" Lilly mengigit bibir nya begitu kuat saat milik Erlan mulai menerobos perlahan.
"Eugh ini begitu nikmat, honey.." Desis berat Erlan.
Ting Nong,, Ting Nong..
Tiba-tiba saja bell rumah besar itu berbunyi beberapa kali bahkan terkesan begitu menyecar tak berjeda sedikit pun.
"Ada yang datang!" Sentak Lilly mendorong kuat tubuh Erlan hingga akhirnya daging panas itu kembali keluar dari milik nya yang baru masuk ujung nya saja
"Shiit!!" Umpat kesal Erlan.
Ting Nong,, Ting Nong..
"Aku benar-benar akan membunuh mu, Liam" Geram Erlan yang menduga jika di depan sana adalah asisten nya.
"Sa-sana cepat bukain" Ucapan Lilly seraya menarik selimut dan berbalik memunggungi Erlan.
Melihat itu bergantian dengan milik nya yang tegang Erlan pun hanya mampu menghembuskan berat napas nya lalu mengecup sekilas punggung Lilly.
"Tunggu aku dan jangan coba-coba untuk memakai pakaian mu" Bisik nya setengah mengancam.
__ADS_1
...****************...