
"Lo gila!!" Pekik bersamaan Brita dan si kembar saat mendengar kalimat pertama yang Lilly ucapkan.
"Duh jangan teriak-teriak dong" Bisik Lilly melirik pengunjung cafe lain nya yang memperhatikan mereka.
"Bisa-bisa nya hal sepenting ini lo baru ngomong sekarang?!" Bentak tertahan Brita.
Wanita itu marah, bukan hanya marah tetapi kecewa. Begitu pun dengan Elena dan Alena.
"Maaf guys, aku benar-benar minta maaf tapi--"
"Lo masih anggap kami sahabat lo 'kan?" Potong Alena dengan wajah tanpa ekspresi nya.
Lilly mengangguk cepat, Queen bullying itu telah berubah. Entah kemana sikap arogan dan keras kepala nya.
"Sungguh dulu aku membenci nya dan tidak sudi mengakui Erlan sebagai suami ku. Pernikahan kami pun mendadak selang dua hari sebelum acara Mama dan Papa baru memberitahu ku" Jelas memelas Lilly.
Dapat Lilly lihat dengan jelas raut kecewa para sahabat nya begitu ia mulai menjelaskan status nya saat ini. Dimana ia sudah menjadi seorang istri.
Awal nya para sahabat nya menertawakan nya karena mereka pikir Lilly berbohong, tetapi begitu Lilly menunjukkan foto pernikahan nya dengan Erlan.
Saat itu juga tawa mereka berhenti dan berganti dengan tatapan penuh selidik dan tanda tanya nya.
"Dulu?" Ulang Elena yang benar-benar menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Lilly. "Jadi sekarang kamu sudah menerima dan mengakui nya sebagai suami mu?"
Lilly bungkam, dia salah bicara. Tetapi ada benar nya juga bahwa kini perlahan Lilly sudah bisa menerima kehadiran Erlan.
"Jadi tanda hickey di leher mu saat itu, semua nya di buat oleh Mr.Erlan?" Tanya tiba-tiba Brita.
Lilly mengangguk ragu, sejujurnya ia merasa tidak enak pada Brita yang jelas-jelas mengagumi suami nya.
Sesaat meja itu hanya di isi keheningan, baik Lilly atau ketiga sahabat nya saling diam. Mereka ingin marah pada Lilly karena tidak bercerita tentang hal besar seperti ini.
__ADS_1
Tetapi mereka tidak bisa menyalahkan Lilly sepenuh nya, mau bagaimana pun di sini Lilly di paksa menikah oleh keluarga nya.
"Pantas saja akhir-akhir ini kamu begitu jinak, ternyata sudah kalah dengan pawang mu" Cibir Brita yang kembali mengubah panggilan nya.
"Maaf.." Ujar Lilly lagi, entah sudah ke berapa kali nya ia mengucapkan kata yang dulu nya menjadi pantangan bagi diri nya.
"Hah.. Sudah lah ini juga bukan salah mu, dan harapan ku untuk tidur bersama Mr.Erlan harus pupus" Desah kecewa Brita seraya meminum minuman nya.
Sontak Elena dan Alena melemparkan tatapan sinis nya, bisa-bisa nya wanita itu masih memikirkan hal seperti itu di saat seperti ini.
"Kalia mau memaafkan ku?" Tanya ragu Lilly. Ia sudah siap jika para sahabat nya marah atau pun memusuhi nya.
Tetapi nyata nya, ketiga sahabat Lilly itu langsung bangun dan memeluk tubuh Lilly.
"Pasti berat bagi mu, Lilly-Ku" Ujar sendu Alena.
Saat itu juga perasaan hangat, haru dan bahagia menyelimuti hati Lilly. Ia benar-benar bersyukur dapat bertemu dengan ketiga wanita yang sedang memeluk nya ini.
"Mulai sekarang apapun yang terjadi kamu harus cerita pada kami!" Tegas Elena.
Lilly mengangguk dan menyeka air mata nya.
"Jangan pernah berfikir bahwa kami akan meninggalkan mu sendirian, mau bagaimana pun kita ini keluarga"
Lilly kembali mengangguk, sungguh ia benar-benar bahagia memiliki sahabat seperti mereka.
Suasana sudah kembali tenang, Lilly pun kembali menceritakan semua nya dari awal dimana kedua orang tua nya berbicara tentang pernikahan mereka (Erlan dan Lilly)
"Lalu bagaimana dengan Nico?" Tanya tiba-tiba Alena.
Saat itu juga ucapan Lilly terhenti.
__ADS_1
"Astaga benar, bagaimana dengan Nico? Dan saat itu, bagaimana reaksi dia saat melihat leher mu itu?"
Lilly menghembuskan napas nya pelan namun begitu berat, setelah nya wanita itu mulai menceritakan tentang hubungan nya dan Nico.
*
*
Lilly melangkah kan kaki nya memasuki rumah besar milik kedua mertua nya pukul sepuluh malam dengan wajah riang.
Setelah menjelaskan dan menceritakan perjalanan hidup nya selama beberapa bulan ini sejak menikah dengan Erlan, ada perasaan lega dalam diri nya.
Di lanjut dengan bermain ke sebuah arena permainan di dalam mall atau pun sekedar mengelilingi mall dan membeli beberapa barang yang memikat hari karena mereka sudah lama tidak melakukan itu.
"Udah pada tidur kali 'ya?" Gumam Lilly di sela langkah nya.
Pasal nya saat ini di ruang tengah atau pun dapur sudah tidak ada tanda-tanda manusia yang berada di dalam ruangan itu. Hanya keheningan yang ada di rumah besar itu.
Tidak ingin ambil pusing, Lilly pun melangkah kaki nya ke menuju kamar nya dan Erlan dengan tangan yang membawa beberapa tote bag hasil jajahan nya di mall.
Ceklek~
Gelap, hal pertama yang Lilly lihat saat memasuki kamar adalah kegelapan dan hawa dingin yang begitu menghunus tulang nya.
Tanpa pikir panjang Lilly pun kembali menutup pintu kamar dan mencari handphone nya di saku guna menyalahkan flash untuk mencari saklar lampu.
Tetapi gerakan nya terhenti dan barang-barang di tangan nya terjatuh saat tiba-tiba ada yang menubruk diri nya di iringi dengan kedua tangan nya yang di cekal.
"Masih ingat pulang, hum?.."
...****************...
__ADS_1