My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 27


__ADS_3

"Lepas hikss.. Sa-sakit.." Isak Lilly di balik bahu kekar Erlan.


"Tenang lah, nanti tidak akan sakit lagi" Bisik lembut Erlan.


Pukulan, cakaran serta gigitan sudah Erlan dapatkan dari gadis, ralat maksud nya wanita di bawah nya.


Erlan sudah tidak bisa menahan nya lagi, rasa cinta nya memang begitu besar pada Lilly tetapi rasa tidak ingin berbagi nya lebih besar dari segala nya.


Jika sebelum nya Erlan terlihat tidak masalah dengan hubungan sang istri dan pria bernama Nico itu karena merasa bahwa ia merusak kebahagiaan Lilly.


Namun sekarang tidak lagi, Erlan tidak mau terlihat bodoh dan berakhir gangguan DID nya kembali menyakiti Lilly.


"Brengsek hikss.. Aku benar-benar membenci mu hikss.."


Lilly terus mengumpat, rasa sakit pada inti nya tidak sesakit hati nya saat ini. Ia memang mulai menyadari perasaan nya pada Erlan, tetapi pemaksaan ini sangat menyakitkan.


"Kamu yang memancing nya duluan, sweety" Sahut Erlan membelaii lembut surai Lilly. "Aku kira hubungan kalian sudah berakhir, tetapi apa yang aku lihat tadi? Istri ku menarik seorang pria ke tempat sepi"


"Aku menarik Nico ke rooftop untuk mengakhiri hubungan dengan nya, brengsek hikss..!!"


Deg!


Gerakan tangan Erlan terhenti bersamaan dengan kepala nya yang perlahan terangkat dan menatap wajah sembab Lilly.


"Aku sudah mengakhiri hubungan ku dengan Nico puas?!"


Tangan Erlan rasa nya bergetar mendengan penuturan istri yang sangat ia cintai ini. Bukan kah sebelum nya Lilly mengatakan belum mengakhiri hubungan nya dengan Nico?.


"Brengsek hikss.." Maki Lilly lagi yang semakin terisak.


Tangan nya bergerak memukuli punggung Erlan dengan sisa tenaga yang ia punya. "Jika tau akan seperti ini lebih baik aku tetap menjalin hubungan dengan nya hikss.. Nico juga tidak masalah walaupun aku sudah memiliki suami hikss.. Nico--"


Celoteh berserta isak tangis itu terhenti kala Erlan menempelkan bibir kedua nya. Memberi lum*tan lembut dan hal itu semakin membuat air mata Lilly mengalir begitu deras.


"Terima kasih, terima kasih sweety.." Lirih Erlan begitu lembut di depan wajah Lilly.


Kening kedua nya bersatu, Erlan memejamkan mata nya begitu pun dengan Lilly yang terus terisak.


"Seharusnya sejak awal kamu bicara seperti ini, jangan memancing emosi ku dengan menjawab seperti sebelum nya"

__ADS_1


Lilly menepis tangan Erlan bahkan menampar pipi pria itu. "Kamu terlalu emosian!"


"Aku begini karena kamu, sweety. Andai kamu tidak membuat ku takut akan kehilangan mu, mungkin aku tidak akan seperti ini"


Lilly terus menepis tangan Erlan yang sedari tadi berusaha menyeka air mata nya. Kepala nya juga menoleh tak ingin menatap wajah Erlan.


Cup.. Cup.. Cup..


Erlan mengecup pelipis, pipi serta rahang Lilly sebelum akhirnya pinggul pria itu bergerak dan menghentak perlahan.


"Arrghh sakit!!" Erang kesakitan Lilly.


Padahal penyatuan itu sudah berlalu beberapa menit lalu, dan selama itu Erlan hanya diam tidak menggerakkan sedikit pun.


"Sakit nya akan hilang sweety.." Ucap Erlan seraya mengambil tangan Lilly dan menyatukan jari-jari mereka. "Karena sudah terlanjut basah, lebih baik kita berenang lebih dalam"


Setelah mengucapkan kalimat tersebut Erlan langsung menambahkan tempo gerak nya hingga bunyi kedua kulit yang saling beradu itu memenuhi kamar.


Erang kesakitan Lilly pun perlahan berubah menjadi des*han pelan yang terus di tahan oleh nya.


"Keluarkan sweety, jangan di tahan. Des*hkan nama ku" Bisik Erlan meny*sap daun telinga Lilly.


"Aahh.." Desah kuat Lilly yang lolos begitu saja saat Erlan menghentak nya begitu kuat dan dalam.


*


*


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Erlan, Lilly, ayo makan malam dulu" Panggil Moon yang berteriak dari luar sana membuat aktifitas di dalam kamar itu terhenti sesaat.


Erlan dan Lilly saling bertatapan, sebelum pada akhirnya Lilly tersadar dan berniat bangun dari tubuh Erlan.


Namun dengan cepat pria itu menahan pinggang Lilly dan menekan nya semakin dalam, hal itu pun membuat Lilly mengigit bibir nya.


"Selesaikan dulu, sweety.." Ucap berat Erlan.


Tokk.. Tokk.. Tokk..

__ADS_1


"Erlan, Lilly..!!" Panggil Moon lagi.


"Mom--"


"Syutt.. Tutup mulut mu jika tidak ingin Mommy mendengar nya" Ucap Erlan yang langsung membuat Lilly membungkam mulut nya.


Alhasil melihat gerakan itu, Erlan terkekeh pelan hingga tubuh Lilly yang berada di atas nya terhentak-hentak.


"Erlanhh.."


Erlan mengambil remote di sebelah nya lalu menekan salah satu tombol di dalam remote itu.


"Duluan aja Mom, nanti aku sama Lilly nyusul" Sahut Erlan setelah menonaktifkan kedap suara di kamar nya.


"Nunggu apa lagi? Kalian dari siang belum makan lho" Tanya Moon di balik pintu sana.


"Ada yang harus aku dan Lilly selesaikan, Mom dan Dad makan duluan saja"


"Hum baiklah, jangan sampai tidak makan!"


"Iya Mom"


Klik~.


Erlan kembali mengaktifkan kedap suara kamar nya dan detik itu juga des*han Lilly yang sedari tadi di tahan langsung memenuhi kamar nya.


"Ahhhk,,, Erlanhh..!!"


Sang pemilik nama malah cengengesan mendengar hal itu, karena sedari tadi ia dengan dengan menghentakkan pinggul nya dari bawah.


Tentu nya ingin membuat Lilly mend*sah dan di dengar oleh sang Mommy. Tetapi nyata nya Lilly begitu kuat menahan des*han nya.


"Lanjutkan dan manjakan milik ku, sweety~" Ucap Erlan yang kembali dengan tatapan sayu nya.


"Terakhir! Pinggang aku sakit!"


"Iya, sweety.."


Dan lagi, mereka melanjutkan kegiatan yang menghasilkan ratusan bulir keringat di tubuh masing-masing.

__ADS_1


Beruntung nya Erlan, karena seperti nya Lilly lupa akan kemarahan nya dan berhasil ia takluk kan dengan surga dunia ini..


...****************...


__ADS_2