
Seusai makan Erlan tidak membiarkan Lilly langsung beristirahat begitu saja, melainkan kini pria itu mendudukkan tubuh Lilly di lantai kamar yang memang sudah di lapisi karpet permadani.
"Kok--"
"Selesaikan tugas terakhir mu, sweety. Baru setelah itu kamu boleh tidur"
Mata Lilly membelak kesal. Apa-apaan pria ini? Apa dia tidak punya hati nurani? Apa dia tidak tau seberapa lelah nya Lilly saat ini? Dan ini semua karena dia!.
Ingin rasa nya Lilly marah atau mendiami pria itu, tetapi entah kenapa dia tidak bisa. Terlebih lagi dengan status yang mereka miliki jadi hal itu bukan kah wajar bagi sepasang suami-istri?.
Ah sudah lah, Lilly mengacak-acak rambut nya kala Erlan sudah menyodorkan file yang siang tadi pria itu berikan sebagai tugas.
"Ayo kerjakan supaya bisa tidur lebih cepat"
Lilly mengambil alih file tersebut dengan sentakan marah nya. "Kamu benar-benar tidak punya hati nurani!"
Erlan mengerti, sungguh ia mengerti arti ucapan Lilly. Namun jika malam ini Lilly melewatkan tugas ini maka besok pagi ia harus mengurangi poin sang istri hingga harus tinggal di semester ini.
"Tenang, aku bantu oke?"
"Memang sudah seharusnya!" Sahut ketus Lilly.
Erlan hanya menghela napas berat nya saat mendengar nada bicara Lilly. Tetapi ia cukup memaklumi itu semua karena terlepas dari hal yang sudah terjadi.
"Cepat jelaskan ulang dengan singkat, padat, dan tidak membuat ku pusing!"
"Baiklah dengarkan.." Erlan pun mulai menerangkan kembali terkait materi yang sudah berlalu itu.
Menjelaskan dengan perlahan dan penuh kesabaran, metode pembelajaran nya pun berbeda dengan cara Erlan mengajar di kelas.
Pasal nya jika Erlan menggunakan metode penjelasan seperti di kelas ia yakin bahwa Lilly tidak akan mengerti.
"Bagaimana? Sampai sini mengerti?" Tanya Erlan setelah cukup lama menjelaskan materi tersebut.
Kepala Lilly mengangguk-angguk pelan, kini materi tersebut sudah masuk ke otak dengan kapasitas kecil nya.
"Jadi kita harus mencari sumber masalah nya terlebih dahulu, baru setelah itu mencari penyelesaian masalah nya?"
Erlan mengangguk dan kembali menghela napas berat. Sudah panjang kali lebar ia menjelaskan, tetapi hanya itu yang masuk ke otak Lilly?
"Ayo kerjakan sekarang"
Lilly berdecih pelan dan melayangkan tatapan sinis nya pada Erlan, sebelum pada akhirnya wanita itu mulai mencoret-coret buku nya.
Hal itu pun tak lepas dari pandangan Erlan, gerakan lincah jari-jari nya yang sedang mengetik sesuatu di keyboard lalu mata nya bergerak mengikuti deretan huruf-huruf di kertas dan layar laptop nya.
"Nah ketemu! Seperti ini 'kan?" Pekik antusias Lilly begitu merasa jawaban nya telah benar.
Erlan membaca tulisan berantakan sang istri dengan begitu serius, kepala nya Mengangguk pelan dan hal itu pun berhasil membuat Lilly hampir memekik girang sebelum pada akhirnya.
__ADS_1
"Masih ada yang salah" Ujar Erlan menggaris bawahi beberapa kalimat pada buku Lilly.
Tangan Lilly mengepal di atas kepala Erlan, wanita itu berangan-angan sedang memukul kepala Erlan.
"Ayo sedikit lagi"
Lilly memberikan senyum paksa nya pada Erlan. "Baik Mr."
Tikk..
Tikk..
Tikk..
Suara denting jam mengisi hening nya kamar yang semula terdengar geraman Lilly. Jam pun telah menunjukkan pukul dua belas malam yang arti nya sudah cukup lama Lilly berkutat dengan buku dan laptop dimana Erlan terus mengaris bawahi catatan baru nya.
Fokus Erlan yang selama beberapa saat teralihkan pada handphone nya dan nengecek beberapa email perusahaan yang masuk.
Kini pria itu kembali menatap Lilly. "Astaga.." Gumam kaget Erlan.
Sejak kapan istri nya tidur? Perasaan baru beberapa menit yang lalu wanita itu meraung kepusingan.
"Ly, hei.." Panggil pelan Erlan menyingkirkan surai Lilly yang menutupi wajah nya.
Lilly benar-benar sudah terlelap di lantai beralaskan permadani itu dengan sobekan kertas tersebar dimana-mana.
"Maaf, maafkan aku.." Bisik Erlan merasa bersalah sebelum pada akhirnya pria itu mengangkat perlahan tubuh Lilly dan membaringkan nya di kasur.
Setelah menyelimuti tubuh Lilly, Erlan pun mulai membereskan kekacauan yang di perbuat oleh istri kecil nya.
*
*
"Kantin yuk" Ajak Brita pada sahabat-sahabat nya.
Elena dan Alena yang awal nya sibuk menonton drama di handphone Alena, kini langsung beralih menatap wanita itu.
"Ayok!" Sahut kedua nya serempak.
"Ly?" Brita menyenggol lengan Lilly yang sejak datang hanya diam menatap ke arah luar jendela kelas.
Lilly yang awal nya tengah melamun pun seketika tersadar dan menatap para sahabat nya. "Kenapa?"
Baik Brita mau pun si kembar Elena dab Alena. Mereka malah terdiam menatap Lilly dengan sorot aneh nya.
"Ada apa?" Ulang Lilly menatap jengah para sahabat nya.
"Jujur pada kami, Ly. Sebenarnya apa yang terjadi pada mu?" Ucap tiba-tiba Brita menarik tangan Lilly untuk di genggam nya.
__ADS_1
"Sejak hari itu, dimana leher mu di penuhi emm.. Tanda itu, kamu jadi berubah Ly" Ucap ragu Alena.
Elena pun menarik sebelah tangan Lilly untuk di genggam juga. "Kamu punya kami Ly, sejak kamu berubah jadi pendiam kami merasa kehilangan mu"
Oke kalau sudah seperti ini Lilly kembali di hantam rasa bingung dan marah pada diri nya sendiri.
"Aku gapapa dan kalian tentu nya tau kalau aku sudah mendapat surat peringatan terakhir 'kan? Jadi sebisa mungkin aku harus menahan diri"
Brita, Elena dan Alena menggeleng secara bersamaan. Jelas mereka tau bahwa Lilly sedang berbohong.
"Sampai kapan kamu akan terus berbohong pada kami? Apa kamu sudah tidak menganggap persahabatan ini?"
Lilly menggeleng cepat. Baru saja ia hendak bersuara tetapi rupa nya di depan sana sudah ada seorang dosen dengan tatapan tajam nya.
Siapa lagi kalau bukan suami nya. Erlan Dallin Harrison.
"Selamat pagi semua" Sapa dingin Erlan.
"Pagi Mr." Sahut serempak para mahasiswa.
"Baiklah saya akan mengabsen terlebih dahulu sebelum memulai materi!"
"Kamu hutang penjelasan pada kami, Ly" Ujar Alena sebelum akhirnya mulai fokus pada sang dosen.
*
"Sebelum memulai materi baru, silahkan untuk Lily Lawrence maju ke depan dan mempresentasikan tugas yang saya berikan"
Lilly tersentak, mata nya membulat begitu saja. Astaga ia lupa akan tugas nya! Semalam ia ketiduran, bagaimana sekarang?
Brita kembali menyenggol lengan Lilly membuat wanita itu tersadar. Tatapan nya kini berubah lesu, tangan nya mengambil buku yang semalam ia coret-coret.
"Silahkan maju!"
"Haishh dasar suami kejam!" Batin Lilly memaki.
Kaki nya pun melangkah begitu berat seiring dengan rasa takut yang bercampur kesal.
"Silahkan" Ulang Erlan ke sekian kali nya.
Mendengus pelan, lalu Lilly membuka buku nya. Ia sudah pasrah jika harus di tertawakan teman sekelas nya.
Namun begitu melihat tulisan rapih yang memenuhi tiga embar buku nya seketika kepala Lilly langsung menoleh menatap Erlan dengan tatapan kaget nya.
Erlan hanya diam, mata pria itu fokus pada laptop nya seperti biasa.
"Ayo mulai!"
Gleg~
__ADS_1
"Ba-baik.."
...****************...