
Selama beberapa menit mobil Erlan sudah terparkir di depan salah satu restoran dua puluh empat jam yang berada tak jauh dari rumah Lilly.
Namun kedua manusia itu belum juga keluar dari mobil nya, tentu nya kerena Lilly merasa tidak tega untuk membangunkan Erlan yang saat ini sedang terlelap di posisi nya.
Melihat jam yang menunjukkan hampir pukul dua pagi, Lilly pun menghela napas nya begitu berat. Mau tidak mau ia harus membangunkan Erlan.
"Erlan.." Panggil nya seraya menepuk pelan lengan Erlan beberapa kali.
Namun pria itu tidak merespon nya sedikit pun. Alhasil Lilly melepaskan seatbelt nya dan mencondongkan tubuh nya pada Erlan.
"Erlan bangun, ayo makan dulu" Ujar nya yang beralih menepuk pipi Erlan.
Panas! Itu lah yang dapat Lilly rasakan saat menyentuh pipi pria itu dan tangan nya pun naik menyentuh kening Erlan.
"Astaga kenapa panas nya belum turun-turun juga" Gumam nya dengan tatapan khawatir.
"Erlan, bangun hei"
Lilly mengguncang tubuh kekar pria itu yang terlihat sangat pucat hingga akhirnya nya guncangan itu berhasil membangunkan Erlan.
"Emm,, Lilly..?" Gumam nya serak dengan mata yang masih terpejam.
"Ayo bangun, kita makan dulu"
"Kamu udah masak?" Tanya nya.
"Huuft.. Tidak Erlan, sekarang kita sudah berada di depan restoran dan sekarang ayo turun kamu harus makan"
Erlan menggeleng dan memalingkan wajah nya dengan tangan yang memeluk tubuh nya. "Aku ga mau makan makanan restoran"
"Lalu mau makan apa?"
"Aku ga mau makan makanan dari luar" Jelas nya.
Lilly langsung mengerti sangat mengerti bahwa pria di hadapan nya ini tidak suka memakan makanan dari luar. Bahkan selama ini Erlan hanya ingin memakan masakan nya.
"Tapi kamu harus makan Erlan"
"Aku ga mau, Lilly"
Suara serak yang mencoba agar terdengar tegas itu cukup mengguncang hati Lilly. Bahkan sejak tadi wanita itu berbicara dengan nada pelan nan lembut nya tidak seperti sebelum nya.
"Kali ini saja makan di sini, kamu harus makan"
Erlan kembali menggeleng, bahkan jaket yang sebelum nya menyelimuti paha Lilly kini sudah berpindah di tubuh pria itu.
Tentu nya karena Lilly lah yang menyelimuti nya di saat melihat Erlan tertidur selama perjalanan tadi.
"Aku janji deh, besok sepulang dari kampus aku ke rumah kamu dan masakin makanan kesukaan kamu"
__ADS_1
Erlan langsung menoleh, menatap wanita itu dengan tatapan sayu. "Beneran?"
Lilly mengangguk dengan senyum penuh keyakinan nya.
Erlan mengulurkan jari kelingking nya di hadapan Lilly. "Janji?"
Selama beberapa detik Lilly sempat tertawa melihat gerakan itu. Seperti seorang bocah! Pikir nya, namun pada akhirnya Lilly menautkan jari kelingking nya juga.
"Janji"
"Tapi pakaian kamu.."
Lilly memperhatikan tubuh nya begitu mendengar perkataan lirih Erlan. "Kenapa? Aku masih pakai baju dan celana"
"Tapi celana nya pendek banget, terus kaos nya menerawang banget"
"Jangan lupa sekarang waktu nya orang-orang tidur" Sahut Lilly sedikit kesal.
Jangankan ingat untuk berganti baju atau sekedar memakai luaran. Handphone nya pun Lilly lemparkan begitu saja di kasur saat ia melihat mobil Erlan di gerbang rumah nya.
"Tapi di dalam pasti pelayan nya pria semua dan--"
"Jangan memancing emosi ku, Erlan" Potong Lilly mulai geram.
"Huuft,, baiklah. Pakai jaket ku" Pasrah nya menyerahkan jaket nya.
"Kamu lagi demam dan kamu aja yang pakai!"
"Astaga baiklah!"
Tak ingin memperpanjang masalah karena permasalahan pakaian nya, akhirnya Lilly pun mengalah dan memakai jaket pria itu yang menutupi hingga lutut nya.
"Ayo cepat turun"
*
*
Usai dengan acara makan yang sebenarnya tidak baik makan di jam segitu, tetapi pada akhirnya Lilly pun ikut makan karena paksaan Erlan.
Kini kedua manusia itu telah kembali pulang, lebih tepat nya ke rumah Erlan.
"Err,, pahit" Erang Erlan menjulurkan lidah nya saat baru saja obat-obat besar itu melewati tenggorokan nya.
"Nanti pahit nya hilang dan sekarang beristirahat lah" Sahut Lilly seraya menyelimuti tubuh Erlan.
Erlan menatap pergerakan Lilly yang sedang membereskan bungkus obat-obat nya begitu cekatan.
"Ternyata seperti ini rasa nya di urus oleh istri saat sedang sakit" Batin Erlan tersenyum senang.
__ADS_1
Baru kali ini ia sakit selama menjadi suami Lilly, bahkan baru kali ini ia merasakan rasanya perasaan penuh kasih sayang dan kehangatan dari wanita itu.
"Obat nya aku taruh sini" Ujar Lilly membuat pandangan Erlan beralih pada obat-obat tersebut. "Aku harus pulang sebelum penjaga di rumah ku melapor pada Papa" Lanjut nya.
Tangan Erlan yang semula berada di dalam selimut kini langsung keluar dan menggenggam erat tangan Lilly.
"Pulang nya nanti kalau matahari sudah muncul" Ucap Erlan.
"Ga bisa, nanti penjaga bisa lapor ke Papa. Aku juga ga bawa handphone"
"Pakai handphone ku kalau kamu mau ngasih kabar ke mereka"
"Ck, mana bisa!" Kesal Lilly.
"Bisa saja, aku 'kan punya nomor Papa dan Mama"
"Astaga bukan gitu, tapi nanti mereka.. Ah sudah lah intinya aku harus pulang dan aku pinjam mobil mu karena aku ga bawa apa-apa"
"Ga boleh!" Erlan merebut kunci mobil di tangan Lilly.
"Lho kok--"
"Aku takut kamu kenapa-napa di jalan, di tambah jam segini rawan perampok dan jalan dari sini ke rumah mu melewati tempat sepi yang cukup panjang"
Mendengar itu Lilly jadi berpikir dua kali, benar juga apa yang Erlan katakan dan Lilly bukan sepenuhnya sosok perempuan pemberani.
"Haishh baiklah sampai matahari muncul baru aku pulang!" Putus kesal Lilly yang langsung duduk di tepi kasur.
Erlan bergeser hingga dirinya berada di tengah-tengah kasur dan menepuk sisi tersebut dengan bibir tersenyum. "Ayo tiduran, kamu juga pasti ngantuk"
"Aku ga mau tidur nanti yang ada kebablasan"
"Kamu butuh istirahat honey"
Lilly menggeleng dan membenarkan posisi duduk nya hingga bersandar pada kepala kasur. "Aku pinjam handphone kamu aja supaya ga ngantuk"
"Beneran ga mau tidur?"
"Ga, Erlan"
Erlan mendengus pelan kemudian bergeser dan mengangkat kepala nya hingga berada di paha Lilly.
"Erlan--"
"Gini aja, biar ga sia-sia kamu duduk di sini" Erlan menenggelamkan wajah nya pada perut rata Lilly dan menghirup dalam wangi menenangkan itu.
"Tapi--"
"Stt,, handphone ku ada di dalam laci dan password nya masih sama"
__ADS_1
...****************...