My Possessive Lecturer

My Possessive Lecturer
Part 69


__ADS_3

Mendengar itu sontak Erlan langsung melepaskan pelukan nya dengan mata membola dan kepala menggeleng cepat.


"Enak saja, aku pria gagah dan--"


"Manja?" Potong Lilly meledek.


"Ihh nggak sayang, aku ga manja..!!" Raung kesal Erlan.


Tawa Lilly pecah mendengar raungan itu. Sebenarnya saat tadi dokter ingin memeriksa nya pun Lilly sudah melihat sikap manja pria ini.


Ah, bukan kah pria tinggi dengan jakun menonjol di leher nya serta tubuh nya yang gagah ini begitu menggemaskan?


"Sayanggg...!!"


"Haha baiklah tidak-tidak haha.. Awwstt!!" Tawa Lilly berganti dengan rintihan kala merasakan sakit pada bagian perut nya.


"Tuh kan kualat!!" Panik Erlan yang sempat-sempat nya mengoceh.


Membaringkan kembali tubuh Lilly, lalu secepat kilat Erlan mengangkat baju rawat wanita itu hingga perut yang di lilit perban itu terekspos.


"Erlan--"


"Sakit 'kan?" Tanya dalam Erlan mengusap perban itu.


Ya, perban yang di dapatkan karena hasil operasi sebulan lalu saat Lilly kecelakaan.


"Ga terlalu kok, mungkin tadi karena ketawa" Jawab gugup Lilly, pipi nya kembali memerah mendapat perlakuan seperti itu dari Erlan.


"Nakal!" Gemas Erlan mengapit hidung Lilly di antara telunjuk dan jari tengah nya.


"Udah gapapa kok" Lilly menurunkan kembali baju rawat nya, belum terbiasa akan perilaku Erlan yang mengusap-usap perban itu.


"Ya udah ayo makan, aku suapi"


"Bangun-"

__ADS_1


"Ga usah, sambil tiduran aja nanti perut nya sakit lagi" Potong Eran menahan kedua bahu Lilly saat melihat wanita itu hendak bangun.


Lilly hanya bisa menurut saat melihat tatapan serius dari pria yang ia ketahui adalah suami nya beberapa jam lalu.


Kini Erlan pun kembali duduk dan menyuapi Lilly dengan telaten, untung nya saat ini wanita itu tidak lagi menolak makanan sehat yang ia pesan.


...----------------...


"Erlan!"


Pria yang di panggil nama nya pun menoleh, mata nya menangkap tiga orang perempuan dan satu orang pria yang berjalan di depan nya.


Adam, Moon, Aili, dan Lala. Itu lah ke empat orang yang kini berjalan mendekati Erlan yang berdiri di depan pintu ruang rawat Lilly, menanti kedatangan mereka.


"Dad, Mom--"


"Bagaimana dengan Lilly? Dia baik-baik saja?" Potong bertanya Aili.


Erlan pun menatap wanita yang seumuran dengan Mommy nya dengan raut sendu. Wajah wanita itu terlihat pucat dan mata nya kantung mata nya terlihat membengkak akibat menangis.


Aili menggeleng pelan. "Bagaimana dengan Lilly? Benar dia lupa semua nya?"


Erlan menghela napas sesaat. "Benar Ma, sebelum nya dokter sudah mengingatkan hal ini dan ternyata benar. Lilly amnesia permanen"


Aili tak mampu berkata-kata, cobaan dalan keluarga sangat berat hingga rasanya ia ingin menyusul sang suami jika saja tidak ada Lala yang masih membutuhkan nya.


"Daddy sudah menceritakan nya pada kalian 'bukan?" Tanya Erlan yang langsung mendapat anggukan dari orang-orang itu. "Erlan mohon jangan sampai salah bicara. Erlan tidak mau membuat Lilly kesakitan jika dia terlalu memaksakan ingatan nya"


"Tenang saja, Lan" Sahut Adam menepuk bahu sang putra.


Erlan mengangguk. "Baiklah ayo masuk"


Salah satu penjaga di depan pintu ruangan Lilly pun membuka pintu ruangan itu. Di awali dengan Adam yang masuk lebih dulu, baru setelah itu Moon bersama dengan Aili.


"Tunggu La" Tahan Erlan mencekal tangan Lala. "Tutup pintu nya" Titah Erlan pada para penjaga.

__ADS_1


Pintu ruangan Lilly pub kembali tertutup dengan Erlan yang menarik pelan Lala menjauhi ruangan itu.


"Kenapa kak?" Tanya Lala dengan nada lemas.


"Jangan membenci kakak mu 'ya? Ini semua kecelakaan dan--"


"Kakak tau dari mana?" Potong Lala dengan raut wajah yang berubah sinis.


"La--"


"Kak Erlan tau dari mana?!" Ulang Lala dengan nada bicara yang naik.


Sesaat Erlan menghela napas nya, tentu ia mengetahui bahwa Lala menyalahkan kakak nya, Lilly atas meninggal nya Erick dari Daddy nya.


"Lala.." Ucap pelan Erlan memegang kedua bahu adik ipar nya yang masih belia. "Kak Erlan tau ini berat, tapi kamu tidak boleh membenci kakak mu sendiri"


"Tidak boleh? Lalu aku harus membenci siapa? Kak Erlan?"


Erlan terdiam dengan kepala menggeleng. "Ini semua--"


"Jika saja kak Lilly tidak banyak berulah sedari dulu, mungkin ini semua tidak akan terjadi!!" Teriaknya tertahan dengan air mata.


"Papa akan sehat hikss,, Papa tidak akan meninggalkan Lala dan Mama!!"


Erlan menarik tubuh adik kecil nya ke dalam pelukan, menenangkan gadis itu dari rasa sakit nya.


Ia tidak mau ada permusuhan di antara istri dan adik nya, ini semua sudah jalan nya seperti ini.


"Bukan hanya Lala yang sedih, kak Erlan juga, Daddy, Mommy dan Mama juga sedih La" Ujar pelan Erlan. "Apalagi kakak mu, entah apa yang terjadi jika kakak mu tau bahwa Papa sudah meninggal"


"Aku tidak peduli hikss,, ini semua gara-gara Kak Lilly hikss"


Erlan lagi-lagi menggelengkan kepala nya. "Kalau Lala gini nanti Papa tidak tenang di sana. Papa pasti ingin melihat anak-anak nya akur dan keluarga nya bahagia tanpa Papa"


Lala tak lagi bersuara, isak tangis nya memenuhi lorong lantai dua puluh sembilan itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2